10.14.2008

Rasa dalam Cinta, Cinta dalam Rasa

Diary online, satu lagi yang akan saya tuliskan di dirimu. Kali ini tentang rasa dalam cinta dan cinta dalam rasa. Apa maksud judul itu? Saya tidak paham betul, tapi tidak mau ambil pusing. Saya menyenanginya, maka saya menulisnya. He he. Semalam (13/10/08), saya sempat ngobrol dengan teman sekasur. Obrolan yang menarik dan mengandung banyak makna. Bagi saya kemudian, obrolan itu perlu direkam karena akan sangat berguna untuk mengerti rasa dalam cinta dan cinta dalam rasa serta berguna untuk memupuk empati kepada sesama manusia.

Obrolan itu dimulai dari curhat-curhat ringan yang tujuan sebenarnya untuk mengatasi masalah besar. Obrolan itu kemudian menjadi dialog menarik. Tema besarnya adalah cinta dan rasa. Saya bertanya pada si kawan tentang bagaimana rasanya ditinggal orangtua. Pertanyaan itu muncul untuk membandingkan rasa dalam cinta di konteks lain. Si kawan bercerita panjang lebar tentang perasaannya. Ketika ditinggal pergi orang yang kita cintai, badan terasa lemas semua. Seperti tidak ada energi untuk menegakkan diri. Si kawan menceritakan ibunya yang kala itu terlihat lemas di depan jenazah sang suami. Untuk menegakkan badan saja sangat sulit. Si kawan melihat ibu yang berusaha menguatkan diri untuk kokoh kala itu dengan mati-matian.

Saya bertanya pada si kawan tentang bagaimana perasaannya kini. Dia mengaku, sampai sekarang kalau lewat rumah sakit tempat ayah dan ibunya dirawat, badannya masih merasa lemas. Tentu juga disertai gerakan hati yang sangat kuat. Dia bercerita (dengan suara serak karena menahan tangis), beberapa minggu setelah kematian sang ayah, seorang teman membawanya lewat jalan samping rumah sakit. Seketika melihat rumah sakit, si kawan spontan lemas. Karena tidak kuatnya dia sempat berkata kasar (misuh) pada si teman. Sampai sekarang si kawan menghindari jalur arah rumah sakit. Kalau mendengar suara ambulan juga demikian. Sampai sekarang dia merasakan getaran di hati karena teringat pada ayah dan ibunya. Meski kadarnya tidak sebesar dulu, rasa itu masih tetap ada.

Apa artinya, kawan? Jadi begitulah rasa dalam cinta dan cinta dalam rasa itu. Luar biasa, sehingga membuat diri kita tidak mampu melihat apapun yang berhubungan dengan kepergiannya. Tetapi, apakah begitu artinya? Ya….mungkin nanti ada perspektif berbeda.


(AR, Mlg, 15 Okt ’08. 01.52)

10.12.2008

Tentang Cinta

Jatuh cinta bagai kegilaan sementara
Mengguncang bagai gempa bumi, lalu mereda
Setelah reda, kalian harus membuat keputusan apakah akar kalian begitu terkait, hingga mungkinkah kalian bersama
Karena inilah cinta

Cinta bukan kehilangan nafas, atau semangatnya, atau hasrat memanfaatkan setiap menit dalam sehari, atau tak bisa tidur membayangkan bagaimana ia menciumi tubuhmu
Itu hanya jatuh cinta
Kita bisa yakinkan diri sedang mengalaminya

Cinta sendiri adalah sisanya
Sisa yang terbakar oleh jatuh cinta

Kedengarannya tak menyenangkan
Tapi begitulah adanya

(dalam film “Captain Corelli’s Mandolin”)



Melihatmu bersamanya hatiku sakit, karena aku mencintai kamu
Tapi aku melepaskan kamu ke pelukannya, karena aku mencintai kamu

(dalam film “Tentang Cinta”)


(AR, Mlg, 12 Okt’08. 17.48)

10.10.2008

Keindahan dalam Perbedaan

He…he…he. Saya ingin tertawa di awal. Tertawa tentang perbedaan yang selama ini dekat, tetapi tidak betul-betul saya nikmati. Ini adalah tentang perbedaan karakter di keluarga saya. Baru saat mudik lebaran tahun ini saya merasakan bahwa ada perbedaan karakter yang begitu mencolok antara 4 orang yang ada di rumah (ibu, ayah, adik, dan saya), dan baru kali ini saya merasakan keindahan dalam perbedaan tersebut. Kemudian, saya jadi ingin merekam keindahan itu dalam diary online ini.

Di dalam tulisan ini saya akan bercerita karakter orang-orang yang ada di rumah, termasuk saya. Ah…ini akan menarik. Mungkin ini akan menjadi kenangan yang bisa membanjiri keyboard saat saya membacanya lagi nanti, jika salah satu dari kami lebih dulu pergi (kuberdoa semoga keluarga saya panjang umur. Amiiiiin). Tetapi cerita ini hanyalah apa yang saya pahami tentang mereka secara umum dan terekam dengan sangat kasar. Kompleksitasnya sebagai manusia, mungkin saya tidak akan pernah tahu.

OK, cerita pertama saya mulai dari ayah. He he he. Ayah adalah tipe orang “pemalas”, tapi dia senang berpikir. Banyak waktunya dihabiskan untuk tidur, tidur-tiduran, duduk (mungkin sambil berpikir). Selebihnya ke sawah dan sesekali membantu ibu di toko. Saat malam, ayah senang begadang. Aktivitasnya adalah nonton TV, biasanya sambil buat makanan sendiri di dapur. Setelah itu biasanya duduk di ruang tamu yang terbuka dalam keadaan gelap. Ayah kuat duduk berjam-jam dalam suasana seperti itu. Mungkin di sana dia berpikir tentang apapun.

Selain karena dialektika hidup yang telah dilaluinya, mungkin karena hobi itu yang membuat wacana filsafatnya lumayan bisa diakui, minimal oleh saya (ha ha). Saya sering mendengarnya berdiskusi tentang banyak tema, umumnya tentang hidup. Gaya diskusinya sangat menggebu-gebu hingga kawan diskusinya tidak mampu membantah. Kadang juga saya lihat ayah hanya sedikit memberi kesempatan pada kawan diskusinya. Saya sendiri juga sering berdiskusi kecil dengannya, terutama sejak kuliah. Berdiskusi tentang cita-cita, tentang agama, tentang masyarakat, tentang organisasi, tentang Indonesia, dan juga tentang hidup. Nah, kalau diskusi dengan saya, kadang ayah mengaku tidak tahu (tidak ngotot). Mungkin karena perbedaan masa sekarang yang tidak dia ketahui lagi.

Cara berpikir ayah berbeda dengan orang-orang di kampung pada umumnya. Saya memuji bahwa dia lebih maju, luas, dan modern. Misalnya, orang kampung pada umumnya melarang anak perempuannya pergi jauh, baik untuk kuliah atau bekerja. Itu tidak terjadi pada ayah. Dia memberikan kebebasan sepenuhnya kepada saya untuk memilih apa yang saya ingin, tidak ada larangan sedikit pun. Saya pikir itu karena cara berpikirnya maju, memandang jauh ke depan, bahwa pada masa nanti kuliah jauh akan menjadi biasa.

Waktu Orde Baru ayah pernah aktif di PPP. Aktivitas organisasinya cukup padat. Rekan separtainya cukup banyak. Di rumah lumayan sering ada pertemuan-pertemuan partai. Menurut pengakuannya, dia pernah mau dicalonkan untuk maju ke DPRD. Hanya sayang dia bukan orang yang tertib administrasi. Ijazah sekolahnya ditinggal di pondok pesantren, dan sampai sekarang dia tidak memegang satu pun. Setelah reformasi dimana banyak partai bermunculan, aktivitas partainya mulai surut. Kala itu PKB dengan gencar mampu menggeser dominasi PPP. Rekan-rekan separtai ayah banyak yang berpindah ke PKB. Ayah sendiri tetap stay tune di PPP karena alasan azas dan lain-lain yang saya tidak ketahui secara jelas. Kalau sekarang saya tidak tahu lagi dia di partai mana. Yang jelas, dia tidak banyak peduli pada pesta demokrasi.

Oh…ya, ada satu lagi aktivitas politik yang pernah saya ketahui, yaitu pemenangan kepala desa sepuluh tahun lalu. Ayah pernah sangat aktif memenangkan seorang kepala desa. Setelah lolos, dia dipercaya memegang LKMD. Tetapi, baru sekitar setahun dia mundur. Alasannya karena pemerintahan desa corrupt. Idealismenya bertentangan dengan pemerintahan desa, dan setelah itu dia tidak lagi bersentuhan dengan urusan desa.

Dengar-dengar dari kakek nenek, masa kecil ayah dihabiskan di pondok pesantren. Sejak kelas 5 SD dia hijrah ke Ponpes Lirboyo, Kediri hingga beberapa tahun. Tetapi meski demikian, saya tidak melihat tanda-tanda Muslim taat di dirinya. Sholatnya saja bolong-bolong. He he. Ke masjid seminggu sekali. Kakek, nenek, ibu jadi sering mengeluh karena hal itu. Saya sendiri biasanya hanya diam, karena kurang lebih begitu juga, meski pernah mondok juga. Wa ha ha. Selebihnya, ayah senang berpetualang. Dari cerita-ceritanya sendiri, saya menangkap dia sering melakukan perjalanan ke beberapa kota. Pernah minggat juga dari rumah, entah karena apa. Minggat dengan ninggal hutang. Wa ha ha. Dady, I love you.

Di satu sisi, ayah termasuk orang sensitif. Emosinya mudah tersentuh. Itu yang beberapa saat lalu sering menyulut pertengkarannya dengan ibu. Tetapi sekarang lumayan mereda setelah dia membaca sebuah buku. Penghargaannya kepada sifat ibu yang bertolak belakang lebih terlihat. Kesadarannya untuk membantu ibu lebih tampak, meski itu masih naik-turun.

OK…sampai itu saja cerita tentang ayah. Sekarang tentang ibu.

He…he...ibu adalah orang yang sangat energetik. Dia mengerjakan hampir semua pekerjaan di rumah dan hampir boleh disebut menopang perekonomian keluarga. Dia membuka toko pada jam 6 pagi sampai jam 9 atau 10 malam. Prinsipnya adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya (sepertinya begitu). Ibu memasak sambil melayani pembeli yang jumlahnya tergolong banyak di toko. Sehingga masakan baru siap jam 10-an. Tidak ada tradisi sarapan pagi di keluarga saya. Kalau ada yang sarapan ya pakai nasi kemarin, itupun jika ada lauknya. Ayah sendiri tidak terbiasa sarapan karena bangunnya jam 9-an. Setelah bekerja seharian, rata-rata jam 9 malam ibu langsung tidur dengan lelap. Setiap hari dia habiskan waktu untuk rutinitas seperti itu.

Capek, tentu saja sering dia alami. Ditambah lagi dengan kebiasaan bangun siang ayah. Itu yang membuatnya sering bercerita dengan marah kepada saya. Jika saya di rumah, dia bercerita banyak tentang kebiasaan buruk ayah yang jarang membantu, kerjanya tidur, kalau malam begadang, dan besoknya nggak bisa bangun pagi.

Ibu tipe orang ceria. Wajahnya selalu sumringah. Kalau sedang ngobrol dengan orang lain selalu disertai tawa lebar. Saking cerianya volume suaranya sering tidak terkontrol. Kalau saya di dekatnya kadang telinga sampai brebeken. Saya sering mengingatkannya kalau sudah begitu. Tetapi tetap saja, senggang sedikit dia bicara dengan nada seperti berteriak lagi.

Pendidikan agama ibu boleh dibilang sedikit, tetapi dia taat beribadah. Sholatnya rajin, pengajian, dan ngaji Al-Qur’an juga begitu. Sering beramal pula. Lebaran kemarin dia menghabiskan uang di atas 500 ribu untuk anak-anak kecil dan keponakan-keponakan yang jumlahnya se-desa. He he. Entah bagaimana cara nalar ibu mengenai uang. Kalau membeli kebutuhan sendiri dia sangat perhitungan. Untuk beli baju 300-an saja mikir berulang kali, tetapi kalau memberi anak-anak kecil tidak terlalu dipikirkan. Ya…mungkin karena dia terbiasa berpikir kecil, sehingga harga bilangan bulat sangat sulit diambilnya. Berbeda sekali dengan ayah yang cenderung tidak pakai banyak perhitungan untuk urusan membeli kebutuhan sendiri.

Saya melihat perjalanan hidup ibu tidak terlalu berliku. Cara berpikirnya mainstreaming saja. Idealnya tentang hidup sulit untuk subversif. Misalnya, dia menginginkan saya berjodoh dengan orang jauh, tidak dengan orang satu kota. Kehidupan saya nanti mapan, punya mobil, punya pekerjaan tetap, dan lain-lain seperti pada umumnya. Dia sering mengatakan itu pada saya. Berbeda dengan ayah yang hampir tidak pernah ikut ngurus soal itu.

Dari sini bisa dibayangkan bagaimana lebarnya perbedaan antara ayah dan ibu? Huh…dalam sebuah rumah tangga.

Sekarang tentang adik. Adik mungkin yang paling berbeda dengan ayah, ibu, dan saya. Dia tidak menuruni gen ayah atau ibu. Tetapi meski dia saudara angkat, mungkin rasanya tidak ada bedanya dengan saudara kandung (saya tidak bisa membedakan karena tidak punya saudara kandung. He he). Adik tipe orang yang lebih suka sendiri. Dia lebih senang nonton TV. Kalau sudah nonton TV, dipanggil saja tidak dengar. Karena itu dia sering kena bentak ibu. Kalau digodain cewek dia selalu bergaya cool, tidak peduli, dan tidak menunjukkan rasa tertarik sedikit pun.

Adik tergolong anak cerdas, minimal di SDnya. Nilai NEM SDnya nomor dua. Hobinya adalah menggambar kartun. Saya melihatnya rajin menggambar sejak kira-kira kelas 3 SD. Kertas gambarnya adalah bungkus rokok. Entah memang tidak punya kertas gambar atau bagaimana, saya tidak tahu. Kalau gambarnya dilihat orang lain, adik selalu menolak. Dia selalu menyembunyikan hasil gambarnya.

Sekarang dia banyak mendapat pujian orang kampung karena rajin sholat berjamaah di masjid dan tadarusan tiap malam. Kadang saya menggodanya kalau ada orang lain sedang memujinya. Di satu sisi saya juga merasa sedikit khawatir karena kalau sudah mendapat citra tertentu, orang akan sulit keluar darinya, tidak bisa bertindak bebas karena citra tersebut. Huh…tapi biarlah, itu adalah proses hidupnya. Bagi ayah pula itu tidak masalah, biar dia berjalan sendiri sesuai apa yang disukai.

Nah, sekarang giliran saya. Ehhhhhm. Makhluk ini adalah yang paling rumit di antara yang lain mungkin. Tapi sebenarnya juga tidak. Secara umum, karakter saya mirip ayah. Karena itu kadang saya menyebut diri saya plek (persis) ayah. Pemalas, suka santai-santai, senang tidur, sensitif, tetapi kritis dan cenderung suka berpikir lah (he he). Perjalanan hidup yang telah saya lalui cukup berliku. Pada waktu kecil saya adalah anak yang taat beribadah, rajin sholat, ngaji tidak pernah telat, cerdas, tapi obsesif. Di samping itu dorongan ibu khususnya membuat saya sering ikut nyanyi dari panggung ke panggung, baik di dalam maupun di luar desa. Waktu itu saya rasakan ibu sangat bangga melihat saya suka menyanyi. Kalau ayah sih biasa-biasa saja. Saya sering menyanyi hingga SMP.

Masa-masa SMP saya tidak lagi jadi anak alim. Sering main-main, keluyuran sama teman-teman, dan juga pacaran. He he. Fase itu berubah lagi sejak SMA. SMA saya memutuskan pakai jilbab, kemudian mondok di Ponpes dekat sekolah sampai lulus. Di pondok saya berubah jadi anak alim lagi, juga cukup disegani oleh teman-teman se-pondok.

Prestasi sekolah tergolong baik. NEM SD tertinggi, SMP selalu dapat ranking lah, meski tidak satu, dan SMA selalu masuk kelas unggulan meski saya rasa itu adalah anugerah Tuhan saja. Mungkin karena doa anak pondokan atau bagaimana, pastinya saya tidak tahu. Setelah SMA saya “terjerumus” masuk UIN Malang karena gagal SPMB. Tetapi jurusan psikologi yang saya ambil tidak sepenuhnya merupakan keterjerumusan. Di tingkat UIN, prestasi diakui lah, didukung dengan beberapa prestasi dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah. Pada masa kuliah saya aktif di beberapa organisasi; PMII, jurnalistik, radio kampus, BEM, dan ikatan anak se-kota. Setahun sebelum lulus saya bekerja di sebuah LSM di Malang. Setelah lulus ambil kursus Bahasa Inggris di Kediri untuk persiapan S2.

Sambil menunggu S2, saya butuh aktivitas sampingan, maka saya pilih sebuah komunitas di Malang pula. Saat mau masuk S2, semua syarat administrasi beres, tempat tinggal di Jakarta juga sudah ada, saya terlibat pada diskusi tentang sekolah dengan seorang teman. Pemahaman saya tentang sekolah, karier, dan hidup kemudian berubah hampir total. Entah apa alasan tepatnya, kemudian saya memutuskan tidak ambil kuliah itu atau dipending dulu. Di masa ini saya boleh disebut sedang berada pada posisi tidak jelas, meski selalu ada yang dikerjakan untuk mencukupi biaya hidup.

Dalam hal asmara, ehhhhm, ini lebih berliku lagi. Tapi sebaiknya saya tuliskan di lembar lain saja. Yang jelas tingkah saya dalam asmara membuat saya mendapat beberapa sebutan. He he.

Di dalam keluarga saya boleh disebut sebagai penengah antara ayah dan ibu yang karakternya sangat berbeda. Yang terakhir, saya cukup melakukan fungsi itu. Seperti biasanya ibu mengeluhkan kebiasaan ayah dengan harapan saya bisa membantu mengubahnya. Yang saya bicarakan waktu itu adalah prinsip menghargai, nilai-nilai pluralitas, komunikasi, kesepakatan, dan lain-lain yang sejenis di dalam rumah tangga. He he. Ibu diam saja waktu itu. Ah…indah rasanya. Keindahan dalam perbedaan. Meski berbeda selalu ada sayang, cinta, kasih di dalamnya. Ada tawa jika salah satu mendapat bahagia, ada tangisan jika di antara kita tersirat sedih, dan ada rasa tak rela jika salah satu pergi. Selalu ada getaran yang menyertai hubungan itu. Dan selalu ada doa untuk kelanggengan hubungan itu. Keindahan dalam perbedaan.

OK. It’s all. Sebenanrnya ada mak yek (nenek) dan pak yek (kakek) yang juga menarik untuk diceritakan.


(AR, Mlg, 10 Okt.’08. 14.08)


Judulnya "Tanpa Judul" Saja

Bahwa aku bangga tidak menjadi antek komersialisasi, itu adalah kebenaran
Tetapi bahwa ada rasa sesal di dada kini, itu kebenaran pula
Dua tahun, empat tahun, enam tahun ke depan, entah apa yang akan kudapatkan
Mungkin aku akan jumpalitan sambil terus memaknai hidup dengan makna yang kubuat-buat

Bahwa aku bangga dicintainya, itu kebenaran
Tetapi bahwa akhirnya aku mengaku menyesal, itu kebenaran kedua
Aku tersiksa dalam kerangkeng rasa yang sulit kupatahkan
Langkah sangat sulit kuayunkan keluar darinya

Bahwa aku sering berbangga diciptakan dalam adaku ini, itu kebenaran
Tetapi bahwa aku menyesal dengan adaku kini, itu kebenaran berikutnya
Aku begitu rapuh larut dalam busa-busa mulut siapa saja
Betapa bentengku sangat mudah hancur dalam satu dua kata
Aku tak mampu menjadi karang yang teguh diterpa badai
Aku tak mampu menjadi perahu besar yang setidaknya mampu mencoba melawan arus samudera

Bahwa aku tak mampu untuk tak menyesal, itu adalah kebenaran
Tetapi bahwa aku tak tahu apakah harus mencoba menghentikannya, itu kebenaran pula

(AR, Bwi, 04 Okt. 08. 23.34)

10.06.2008

Catatan dari Kampung Halaman

Setiap lebaran, seperti Muslim di perantauan pada umumnya, saya pun pulang kampung. Bertemu keluarga, kerabat, teman, mantan pacar, dan lain sebagainya adalah hal yang sangat menyenangkan. Cerita, tawa, suka, duka, perkembangan, pertumbuhan, kemunduran, dan lain sebagainya ada di sana. Semua yang tidak ditemukan selama setahun seperti langsung bisa diserap saat lebaran, dalam waktu satu atau dua hari. Itulah salah satu indahnya lebaran.

Maha Besar Tuhan yang telah memikirkan ini untuk manusia. Ini adalah kenikmatan maha dahsyat. Selain itu, ada beberapa hal yang saya sukai saat lebaran. Di hari pertama lebaran saya selalu menemukan tangisan yang jelas didasari rasa kemanusiaan. Rasa sayang, rasa mengasihi, rasa ingin membalas budi, rasa salut atas perjuangan hidup yang selama ini dilakukan, rasa tak rela jika dia pergi. Ya Tuhan…sungguh luar biasa.

Tetapi ada juga yang tidak saya suka, setidaknya untuk saat ini. Saat bertemu keluarga, kerabat, teman, hampir pasti saya terlibat pertanyaan tentang pekerjaan. Heh, jawaban apa yang harus saya utarakan? Penjelasannya sangat rumit, bahwa saya mengerjakan ini dan itu benar-benar membutuhkan penjelasan dalam waktu cukup panjang. Tidak ada waktu bernegosiasi, kecuali dengan diri bahwa ini pilihan jawaban yang paling tepat. Tidak boleh ada dua atau lebih, karena dua atau lebih sulit dimengerti oleh banyak orang. Ada semacam tuntutan “kemapanan” yang harus ditampilkan. Setidaknya itu yang saya mengerti dari jawaban yang dimau banyak orang di kampung halaman.

Pekerjaan Rasulullah apa sih? He he….

(AR, Bwi, 04 Okt. ’08. 14.24)

Ja’i dan Jay

Tulisan ini adalah tentang seseorang “yang tak dianggap” oleh sebagian besar orang. Saya menyebutnya “yang tak dianggap” karena gangguan mental yang dialaminya. Genealogi Foucault tentang madness and civilization terjadi padanya dan hampir semua orang yang mengalami hal sama. Tetapi dia sering membuat orang lain tertawa. Seseorang itu bernama Ja’i.


Saat mudik lebaran ini, dua kali saya melihatnya. Seperti biasanya, di jalanan dengan baju seadanya dan kresek atau kantong beras di tangannya. Melihatnya yang kedua kali, memori langsung melompat pada tingkahnya saat saya SMP. Selang sedikit setelah lompatan itu, otak tiba-tiba ingin merekamnya. Melalui tulisan. Saya pikir, ini bagus. Ja’i, seseorang “yang tak dianggap”, tetapi sering membuat orang tertawa. Tertawa karena tingkah Ja’i, saya pikir kemudian adalah sebuah jalan kenikmatan yang diberikan Tuhan. Kemudian, “saya harus berterima kasih pada Ja’i, atau jika tidak langsung, setidaknya mensyukuri tawa karena tingkahnya itu”. Itu yang menuntun untuk menuliskan ini, sebagai sebuah rekaman saja, catatan kenangan, rasa terima kasih, atau rasa syukur atas tawa jika tidak berlebihan. Kemungkinan besar Ja’i tidak akan pernah tahu tulisan ini, but it’s ok, itu tidak jadi masalah.

Saya tahu Ja’i sejak SMP. Dia sering “mangkal” di SMP dan sekitarnya. Meski mengalami gangguan mental, secara fisik masih lumayan terawat. Pakaiannya masih enak dipandang. Tidak ada bagian vital tubuh yang terumbar. Dia masih bisa bekerja. Kresek atau kantong beras di tangan yang dibawa setiap hari itu adalah untuk tempat hasil pungutannya. Biasanya gelas atau botol air mineral yang dipungutnya di jalanan. Entah untuk siapa dan kepada siapa Ja’i bekerja, saya dan teman-teman tidak tahu detailnya. Dulu Ja’i hanya di daerah SMP dan sekitarnya, tapi sekarang dia berjalan sampai daerah kampung saya. Jaraknya kira-kira 7 km dari SMP. Bagaimana ceritanya, saya tak tahu.
Pada umumnya teman-teman se-SMP dan juga sekolah lain memanfaatkan celoteh Ja’i yang konyol sebagai bahan tertawaan. Terutama teman-teman cowok, mereka sering menanyainya dengan pertanyaan-pertanyaan asal. Lalu kami semua tertawa mendengar jawabannya. Gaya bicaranya sangat konyol dan blak-blakan, dan selalu disertai tawa ceria yang menunjukkan rasa tidak bersalah atau rasa apapun. Dia senang nggoda cewek-cewek, termasuk saya. Tak jarang dengan centil dia mengarahkan tangannya pada kami yang cewek-cewek, kemudian kami berlari karena takut dan geli. Ha ha ha.

Yang paling teringat dari kekonyolan Ja’i adalah, saat ditanya, “Namamu siapa?” dia selalu menjawab, “Jay”. Dia menjawabnya dengan ekspresi PD yang besar. Wa ha ha ha. Lalu kami semua tertawa mendengar dan melihatnya. Pertanyaan itu kami ulang berkali-kali, dan selalu meledakkan tawa yang sama. Ja’i….Ja’i, dia pernah menghibur kami dengan yang dianggap semua orang sebagai kekurangan.

“Hai….Ja’i, lebaran kemarin aku melihatmu di jalanan. Dengan penampilan yang sama seperti saat aku SMP. Kau tidak berpikir lebaran kan? Sekarang kau tampak lebih tua. Hai….Ja’i, ijinkan aku mengenangmu dalam coretan singkat ini. Kau pernah membuatku dan kami tertawa. Terima kasih ya. Maha Besar Tuhan yang membedakan manusia hanya dari ketaqwaannya. Kau telah membahagiakanku dan kami dengan “kekuranganmu”, maka kau sama berhaknya dengan manusia lain atas kebahagiaan yang disediakan Tuhan nanti, dalam kesempurnaanmu nanti. Ya Tuhan, mungkin nanti jika kau dulu yang meninggalkan dunia ini, kuingatkan diriku sendiri semoga ingat untuk mendoakanmu”

(AR, Bwi, 05 Okt. 23.38)


6.24.2008

Konstruksi Bahasa dalam Ideologi

Any Rufaidah

Pagi ini ide muncul begitu saja. Kali ini mengenai keterkaitan bahasa dengan ideologi. Ide ini bermula dari sebuah pertanyaan tentang bagaimana struktur bahasa yang benar antara buruh perempuan atau perempuan buruh. Setelah melihat-lihat tulisan-tulisan di internet, ternyata ada dua versi dalam penulisan kedua kata tersebut. Ada yang menggunakan buruh perempuan, dan ada juga yang menggunakan versi kedua.

Analisis kecil-kecilan dan ala kadarnya serta gabungan dari berbagai informasi yang selama ini hanya hilir mudik (tidak benar-benar dipahami) mengantarkan pada sebuah kesimpulan bahwa aktivis perempuan pada umumnya menggunakan kata perempuan buruh. Sedangkan masyarakat pada umumnya lebih menggunakan buruh perempuan. Yang kedua ini lebih bersifat umum. Sudah digunakan pada masa-masa sebelumnya.
Mengapa ada perbedaan penggunaan? Di sana ada perbedaan karena dalam pandangan aktivis perempuan, kata buruh perempuan berkonotasi negatif. Maknanya ”buruhnya perempuan”. Frase itu akan berbahaya ketika subjeknya adalah laki-laki. Buruh laki-laki berarti ”buruhnya laki-laki”. Nah, itu konotasinya sangat negatif bagi perempuan. Yang dimaksud buruhnya laki-laki bisa jadi berarti perempuan.
Kesimpulannya, bahasa sangat berkaitan erat dengan penyebaran sebuah faham. Ia menjadi penunjang yang sangat ampuh dalam penyebaran faham. Tidak hanya pada contoh di atas, pada faham-faham lain kiranya juga terjadi demikian.
(NB: Ide ini sebenarnya sudah pernah dibaca di beberapa buku, tetapi karena kadangkala tidak bisa melihat realitasnya langsung, maka tidak paham. He...he..he).
Semoga ide ini bisa memberi kemanfaatan dalam upaya mencari korelasi antara teks dan konteks. Sehingga apa yang kita baca bisa menjadi analisis atas realitas yang ada. Salam .... (Malang, 25 Juni 2008. 07.06)



6.23.2008

Kualitas Gizi Indonesia

Oleh Any Rufaidah

Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami status gizi buruk. Yang lebih memprihatinkan, penderita gizi buruk ini adalah anak-anak usia dini yang sedang berada pada masa perkembangan. Keadaan ini setidaknya telah berlangsung selama kurang lebih 2 dasawarsa. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 lebih dari empat juta anak-anak di bawah usia dua tahun menderita gizi buruk.

Di tahun 1998, lembaga yang sama mencatat sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Angka yang lebih memprihatinkan ditunjukkan oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF). Mereka mencatat sekitar 40% balita Indonesia menderita gizi buruk (Sinar Harapan on-line, 25/1/02). Keadaan ini ternyata tidak kunjung teratasi.
Beberapa tahun terakhir, Indonesia kembali dilanda masalah gizi buruk. Tahun 2005, tercatat sedikitnya 22.027 atau sekitar 12,6% balita di Kabupaten Cianjur menderita kurang gizi sekitar 2.411 atau 1,4% di antaranya sudah digolongkan menderita gizi buruk (tempointeraktif, 14/6/05) Tahun 2006, di Solo ditemukan 1.640 balita dikategorikan kekurangan gizi, dan 290 di antaranya digolongkan menderita gizi buruk (tempointeraktif, 29/8/06)
Kondisi ini tentu tidak dapat di-sepele-k¬an, karena status gizi berkonsekuensi langsung pada kecerdasan generasi yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Terlebih, kondisi ini terjadi pada usia pembentukan otak. Menurut ahli gizi, 80% proses pembentukan otak berlangsung pada usia 0-2 tahun (Sinar Harapan on-line, 25/1/02). Jika gizi makanan yang dikonsumsi anak pada usia ini tidak memenuhi standar, kecerdasan anak lah yang akan menjadi taruhannya. Hal ini sudah dibuktikan oleh penelitian Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Depkes, pada tahun 2001, sekitar 130-140 juta rakyat Indonesia mengalami penurunan kecerdasan akibat kekurangan zat yodium. Angka ini menyebabkan Indonesia menempati peringkat ke 174 dari 190 negara (gizi.net, 27/11/01)

6.20.2008

Datanglah Padaku

Any Rufaidah

Bila suatu saat kau tak punya tempat bersandar,
maka datanglah padaku

Bila suatu waktu kau tak memiliki tempat untuk berteduh,
maka datanglah padaku

Bila suatu ketika tak ada lagi yang bisa menenangkan saat kau menangis,
datanglah padaku

Bila suatu masa tak ada lagi yang bisa membuatmu tertawa,
datanglah padaku

Kecuali pada Tuhan, datanglah padaku


Malang, 20 Juni 2008



6.19.2008

Borderless World

Oleh Any Rufaidah

TAK dipungkiri saat ini kita hidup dalam dunia yang dalam bahasa Yasraf A. Piliang adalah dunia tanpa batas (borderless world). Seperti dalam pengertian umum, tanpa batas berarti serba berkemudahan. Apa yang ada jauh di luar sana dapat diakses dengan mudah. Tinggal sekali klik, maka muncul lah informasi yang dikehendaki. Tak perlu disebutkan contoh-contohnya, rasanya sudah dipahami. Di satu sisi, borderless world memberikan banyak sekali keuntungan. Itu sudah tidak diragukan. Namun, sisi negatifnya juga tidak kalah banyak.

Ya…begitulah. Setiap sesuatu mengandung resiko. Saya jadi teringat ungkapan teman setahun lalu. Waktu itu dia akan melakukan perjalanan. Seperti umumnya pertemanan, saya mengingatkan dia agar hati-hati. Lebih-lebih waktu itu banyak sekali kecelakaan yang terjadi. KM Senopati baru saja tenggelam, kereta api di Jawa Tengah putus dan mengorbankan banyak orang, dan baru saja pesawat Batavia Air mendarat di pemukiman penduduk

Saya menyebutkan kecelakaan-kecelakaan itu dalam SMS. Kemudian dengan singkat teman saya itu membalas, “Di rumah pun ditabrak pesawat”. Hahaha. Kenapa saya lupa bahwa Batavia Air mendarat di pemukiman penduduk? Artinya, di rumah pun tidak bisa bebas lepas dari resiko.

Beberapa waktu lalu, ada teman yang menceritakan seorang pengendara sepeda motor tewas karena menghindari lubang jalan. Dia menghindari lubang kemudian dihantam bus. Itulah yang kata seorang teman merupakan bagian dari impossible is nothing.

Kembali ke borderless world. Dalam hemat saya, dunia maya, dunia virtual, atau apapun namanya mengandung dampak yang besar. Pertama, menjauhkan manusia dari realitas sosial sesungguhnya. Ada banyak orang yang kecanduan dengan dunia ini. Hampir seluruh waktu mereka habiskan dalam dunia tersebut. Sensitivitas sosial jadi hilang.

Kedua, membudayanya plagiatisme. Dalam dunia virtual yang menyediakan fasilitas publikasi memungkinkan semua orang mempublikasikan ide, karya, dan informasi apapun yang dimiliki. Ini merupakan sebuah perkembangan yang sangat baik bagi transformasi ide. Tetapi sifat dunia virtual yang tanpa batas menyebabkan budaya negatif. Singkatnya, di sana muncul budaya plagiatisme. Dan itu sudah banyak terjadi.

Akhirnya, saya hanya bisa berkata, “Kita memang tidak bisa bertahan untuk tidak menyentuh borderless world, tetapi kita tetap bisa mempertahankan idealisme”. Entah hanya 60% atau 70%. Hahaha. Itulah “takdir” manusia. Selalu berkonflik. (Malang, 19 Juni 2008. 12.27).



Jika Kau Tahu

Any Rufaidah

Jika kau tahu kencangnya debar jantung
saat suara menuturkan namamu
kau tak kan membiarkan hatinya hancur begitu saja

Jika kau tahu derasnya aliran darah saat suaramu terdengar
maka kau tak kan sampai hati melihat pecahan-pecahan hatinya
Jika kau tahu harapan cinta saat kau tampak di matanya
maka kau tak kan pernah rela membiarkannya terluka

Malang, 21 Maret 2008



6.18.2008

Sentralisasi Pelayanan Publik

Oleh Any Rufaidah

DALAM sebuah diskusi pelayanan publik yang diselenggaran Averroes Community dengan RRI Malang, saya sempat menanyakan kecenderungan sentralisasi pelayanan publik, dalam hal ini di Kabupaten Malang. Pertanyaan tersebut muncul dari fakta perbedaan pelayanan publik yang sangat besar antara desa-desa terpencil dengan kota. Perbedaan tersebut biasanya terjadi pada bidang pendidikan dan kesehatan.

Di desa-desa terpencil, fasilitas pendidikan dan kesehatan masih sangat memprihatinkan. Ada sekolah yang tidak memiliki sarana sanitasi yang memadai. Begitu pula pada kesehatan. Ada yang tidak memiliki tandon air. Keberadaan posko-posko layanan kesehatan sangat minim. Akibatnya, masyarakat tidak dapat mengakses layanan kesehatan dengan maksimal. Ibu hamil tidak dapat sewaktu-waktu memeriksakan kandungan karena jarak puskesmas yang teralu jauh. Belum lagi masalah jalan dan ketersedian kamar mandi umum.

Sementara di kota-kota, fasilitas sudah sedemikian lengkapnya. Dalam pandangan saya, ini adalah problem sentralisasi pelayanan publik. Menanggapi hal tersebut, DR. Andi Fiefta Wijaya, dosen Administrasi Publik Universitas Brawijaya mengungkapkan bahwa realitas tersebut memang terjadi. Tetapi untuk menyebut sentralisasi, sebaiknya kita membedakan apa yang disentralisasi. Jika yang disentralisasi adalah pelayanan penunjang seperti penataan administrasi, informasi, komunikasi, itu adalah hal yang wajar, dan memang sudah seharusnya. Tetapi untuk pelayanan yang sifatnya langsung ke masyarakat seperti penyediaan Polindes, pemenuhan tenaga kesehatan, pelayanan tidak boleh disentralisasi.

Apa yang diungkapkan DR. Andi adalah pelayanan ideal, sudah semestinya dilakukan oleh pemerintah sebagai pihak yang diberi amanat. Namun seperti biasanya, kenyataan berbeda. Desa yang akan diberi Polindes harus memiliki penduduk sekian puluh KK. Belum lagi syarat-syarat dan prosedur lainnya. Memperihatinkan sekali, untuk mendapat hak yang telah dijamin dan dilindungi, yaitu pendidikan dan kesehatan, masyarakat di desa-desa terpencil harus melalui berbagai problem yang cukup rumit. (Malang, 18 Juni 2008. 11.15)


6.17.2008

Kaburnya Pengertian Gratis dalam Politik

Oleh Any Rufaidah

PENDIDIKAN gratis hampir selalu menjadi topik menarik dalam kampanye politik calon kepala daerah di berbagai wilayah. Topik ini terbukti menjadi jurus ampuh bagi pemenangan Pilkada. Di Banyuwangi misalnya, Ratna Ani Lestari, bupati yang diusung oleh partai non-parlemen berhasil menang karena mengambil isu pendidikan dan kesehatan gratis dalam kampanyenya. Terlepas dari apapun faktor lainnya, terbukti suara di masyarakat mengatakan kemenangan tersebut adalah hasil dari isu kampanye yang ia ambil. Di daerah-daerah lain juga banyak contoh yang sama.


Pengusungan isu pelayanan gratis dalam politik memang sah-sah saja. Tetapi yang menjadi soal selanjutnya adalah kaburnya definisi gratis.

Beberapa waktu lalu, dalam diskusi dwi mingguan yang diadakan Averroes Community bekerja sama dengan RRI Malang menemukan bahwa definisi gratis dalam politik sangat kabur. Ada perbedaan pengertian gratis pada saat masa kampanye dengan masa pemerintahan. Dalam pendidikan misalnya, pada masa pemerintahan kepala daerah baru, yang dimaksud gratis ternyata tidak seluruh biaya seperti yang diartikan pada masa Pilkada. Yang gratis bisa jadi hanya SPP bagi siswa tidak mampu atau biaya administrasi tertentu.

Dalam hemat saya, hal ini adalah problem bagi perpolitikan di Indonesia. Para politisi seringkali menggunakan pengertian-pengertian yang sifatnya sangat interpretatif (standart ganda). Pada masa kampanye, pengertian gratis berarti bebas dari semua biaya, tetapi setelah jadi kepala daerah definisi tersebut diubah sesuai kehendak pemerintahannya. Konsekuensinya masyarakat lah yang dirugikan. (Malang, 18 Juni 2008).


Hidup Tanpa Kelamin?

Oleh Any Rufaidah

DUA bulan lalu, saat menghadiri seminar peringatan hari Kartini, sempat terbersit sebuah ide. Ide itu berawal dari keraguan atas pernyataan salah seorang narasumber seminar. Narasumber yang dimaksud adalah Merlyn Sofjan, ketua Ikatan Waria Malang (Iwama), ratu waria plus duta HIV/AIDS internasional. Merlyn, ia sosok yang sangat mengagumkan. Cantik dan ramah. Hari itu adalah kali ketiga saya mendapat cipika-cipiki darinya. Entahlah, saya mesti biasa-biasa saja seperti halnya mendapat cipika-cipiki dari teman atau ragu karena kelaminnya?

Pernyataan Merlyn yang saya maksud kurang lebih adalah, “Prinsip saya, kita hidup bukan dilihat dari jenis kelamin, tapi dari kapasitas kita.”
Pernyataan itu muncul sebagai respon dari salah satu pertanyaan yang saya ajukan dalam seminar tersebut. Karena pertanyaan sendiri, jadi saya memperhatikan dengan seksama. Tampaknya Merlyn sedikit salah menangkap pertanyaan, sehingga jawabannya ditanggapi dengan sedikit “sensitif” menurut saya. Tetapi justru di situlah ide muncul dalam pikiran.

Kembali ke pernyataan Merlyn di atas, “Prinsip saya, kita hidup bukan dilihat dari jenis kelamin, tapi dari kapabilitas kita.” Pertanyaan yang muncul, “Benarkah?” “Masyarakat (sosial) tidak melihat individu dari jenis kelaminnya?”

Dalam pandangan saya, prinsip tersebut tidak demikian adanya karena realitas sosial hampir tidak bisa melepaskan penilaian terhadap siapa pun tanpa melihat jenis kelamin. Banyak sekali contoh yang bisa ditampilkan di sini. Misalnya dalam profesi. Pramugari, pilot, pengaspal jalan, pelinting rokok, sekretaris, pekerja bengkel, pemasang tower, dan lain sebagainya selalu mencantumkan jenis kelamin sebagai salah satu aspek yang dinilai.
Mengapa Pramugari harus perempuan? Mengapa pengaspal jalan laki-laki?, dan lain sebagainya.

Tidak terkecuali bagi Merlyn sendiri. Meskipun disebut “tanpa kelamin”, apakah berarti benar-benar tanpa kelamin? Ketakterlepasan manusia dari jenis kelamin itulah yang menurut saya kemudian memunculkan sebutan kelamin ketiga. Artinya waria tetap dilekati dengan kelamin, yaitu kelamin yang dibentuk oleh lingkungan sosial. Dalam profesi-profesi pun, sangat dimungkinkan ia ditunjuk untuk menyandang misi tertentu karena statusnya yang bisa menjadi ikon. Atau tepatnya karena kewariannya, bukan semata-mata karena kapasitas.

Jadi, dalam pandangan saya, dalam realitas sosial kita tidak pernah benar-benar bisa hidup tanpa kelamin. Dengan kata lain, hanya dalam penilain Tuhan kita bisa lepas dari kelamin.

Semoga ide ini bisa memperkaya ruang dialektika kita. Terima kasih kepada Mbak Merlyn atas inspirasi. (Malang, 17 Juni 2008. 15.00)





6.07.2008

Dipan di Jalan Beraspal


Cerpen: Any Rufaidah

“Aku berangkat, Bu”, suara tua pak Narto terdengar lirih.
“Kapan pulang, Pak?”
“Sampai barangnya laku”
“Dua hari?”
“Aku tidak tahu”
“Seminggu?”
“Aku juga tidak tahu. Pokoknya sampai barangnya laku”
“Dua minggu?”
“Mungkin saja”
“Hati-hati, Pak?”, dengan suara berat, bu Minah, perempuan yang setia mendampingi pak Narto selama 40 tahun itu berpesan.

Sambil menyerahkan sebungkus nasi, sebotol air, dan singkong rebus yang dikemasnya dalam kresek hitam, bu Minah melepas kepergian suaminya dengan wajah pilu. Bagaimana perempuan itu tidak berat membiarkan suaminya pergi, usia suaminya sudah senja, hampir tidak ada satu pun rambut yang tidak berwarna putih. Kumis dan alisnya juga hampir berwarna sama. Seharusnya dia istirahat, menikmati masa tuanya di rumah, bukan pergi tanpa tahu tujuan, tanpa tahu waktu. Apalagi tidak membawa cukup bekal. Hanya uang 10 ribu dan makanan untuk sehari. Tapi mau bagaimana lagi, pak Narto tidak mungkin membiarkan istrinya kelaparan. Dia tidak peduli seberapa berat perjalanan yang akan ditempuh.
Pak Narto berangkat, menuntun sepeda tua yang mengangkut dipan yang akan dijualnya. Sebenarnya berat menjual dipan kuno itu. Itu barang bawaan orang tua bu Minah waktu menikah dulu. Tapi apa mau dikata? Dia harus rela, kecuali jika mau kelaparan. Hanya dipan yang jumlahnya dua. Kursi, bupet, lemari, hanya ada satu. Dulu lemari memang ada dua, tapi sudah dijual ke tetangga. Kini giliran dipan yang harus dijual berkeliling karena tidak ada tetangga yang membelinya.
Jalan beraspal masih terlihat lengang, lalu lalang sepeda motor dan mobil masih bisa dihitung. Pak Narto memang sengaja berangkat jam 5 pagi agar tidak panas. Sebelum mulai mengayuh sepeda tua di jalan beraspal itu, pak Narto berhenti sejenak, menyaksikan panjangnya jalan. Panjang sekali jalan itu. Tidak berujung. Dia tidak tahu berapa kilo jarak yang mampu ditempuh. Tapi dia harus melampauinya sampai dipan yang dibawanya terjual. Sejauh apapun. Kemudian dia mengayuh sepedanya, pelan. Bukannya tidak punya tenaga, tapi dipan yang dibawanya memang berat. Dia kesulitan mengatur keseimbangan tubuhnya yang renta dengan berat dipan. Bayangkan saja, bahannya kayu jati. Kalau tidak ada papan yang menyangga, sepeda tua yang mengangkutnya mungkin sudah patah.
Pak Narto menyusuri jalan sambil menikmati hembusan angin yang masih terasa sejuk. Dia jadi teringat masa lalunya, mengayuh sepeda di pagi hari, merasakan sejuknya udara pagi. 30 tahun lalu, setiap pagi dia bersepeda, mengantarkan anaknya ke sekolah. Di jalan, dia sering balapan dengan bapak-bapak atau ibu-ibu lain yang juga mengantarkan anaknya ke sekolah. Anak-anak menikmati balapan orang tuanya. Bahkan mereka jadi supporter dengan berteriak-teriak lantang. Tidak peduli banyak orang menganggapnya aneh. Mereka menikmatinya. Tapi sayang, Nahdi, anak laki-laki yang sangat disayangi pak Narto itu meninggal karena kecelakaan. Pak Narto menyesal atas kejadian itu. Dia merasa bersalah karena terlambat menjemput. Nahdi akhirnya jalan kaki. Tepat di tikungan, sepeda motor yang melaju kencang menabraknya. Sejak itu, berakhirlah semua. Pak Narto tidak pernah lagi bersepeda di pagi hari, merasakan sejuknya udara, balapan dengan orang tua lain, atau mendengar teriakan anak-anak yang jadi supporter setia. Kenangan itu tidak bisa diulang karena bu Minah tidak bisa mengandung lagi. Mau mengadopsi anak pun pikir-pikir. Yang biasa mengadopsi anak itu kan orang kaya? Kalau tidak, sama saja menyengsarakan anak orang. Karena itu pak Narto dan bu Minah tidak berani mengadopsi anak.
“Dipan Bu, Pak”, suara pak Narto mulai diperdengarkan kepada orang-orang yang baru saja memulai aktivitas pagi hari.
“Dipan kayu jati, Bu, Pak”, terus dia tawarkan dipan itu.
***
Matahari mulai menguning, sedikit demi sedikit kesejukan udara pagi menghilang. Jumlah kendaraan pun semakin padat. Tapi belum ada seorang pun yang memanggil pak Narto untuk sekedar melihat dipannya. Satu per satu mereka menjawab, “Mboten, Pak”. Pak Narto berharap ada orang yang memanggilnya, membeli dipan yang dibawanya itu. Jadi tidak usah jauh-jauh dia menyusuri jalan beraspal. Pulang membawa uang, memberikannya pada bu Minah, lalu bu Minah membeli beras untuk persiapan satu bulan. Masalah bumbu dan sayur gampang. Di pekarangan rumahnya sudah tersedia beraneka bumbu dan sayur. Cabai, tomat, laos, kunyit, jahe, bayam, jagung, kacang panjang, semua ada. Bu Minah tinggal memasak sayur-sayur itu bergiliran, seperti jadwal biasanya. Hari senin masak sayur bayam, selasa, jagung, rabu, kacang panjang, dan seterusnya. Lauknya tahu-tempe atau ikan teri, ditambah sambal jeruk purut, sudah nikmat. Kalau sudah bosan dan kebetulan ada dana lebih, baru bu Minah masak ikan laut atau daging. Tapi itu jarang sekali, setahun mungkin hanya tiga atau empat kali. Kalau tidak begitu, bulan depan mau makan apa? Pak Narto hanya seorang tukang cangkul ladang. Penghasilannya tidak seberapa. Apalagi sekarang, sudah jarang orang yang menyuruhnya menggarap ladang. Tenaganya sudah berkurang. Jadi, orang-orang enggan menyuruhnya. Ladang yang dulu dikerjakan hanya 2 hari, sekarang bisa sampai 4 hari. Karena tidak ada penghasilan, terpaksa dia dan istrinya menjual barang-barang di rumahnya, termasuk dipan itu.
Pak Narto terus mengayuh sepeda tuanya dan memperdengarkan suaranya yang juga tua. Satu kilo, dua kilo, tiga kilo, terus begitu. Sementara, matahari semakin tinggi, sinarnya semakin terik, membuat butiran-butiran debu mengkilat menyilaukan mata. Pak Narto mulai merasakan panas, tenggorokannya mulai terasa kering. Dia mencari pohon rindang untuk tempat istirahat. Ya...pohon asam itu. Dia berhenti di bawah pohon asam, menyandarkan sepeda tuanya, lalu meneguk minuman di botol yang dibekali istrinya. Rasanya sangat segar, lebih segar daripada saat minum di ladang. Padahal airnya sama, yang memasak juga orang yang sama, bu Minah. Mungkin karena panas di jalan raya melampaui panas di ladang. Lebih-lebih udara kotor, debu yang beterbangan, menambah keringnya tenggorokan.
Pak Narto menyandarkan dirinya pula di pohon asam, menikmati semilir angin yang dikipaskan daun asam. Semilir angin itu terasa begitu nikmat hingga membuat pak Narto terasa ngantuk. Menyadari kantuknya, pak Narto segera bangkit, mengemas minuman ke kresek hitam semula, memasang topi koboi ala pedesaannya, lalu mengayuh sepedanya kembali. Meneriakkan suara tuanya pada orang-orang untuk mendapatkan beberapa lembar uang.
“Dipan, Bu”.
“Dipan, Pak. Bahannya jati asli”. Tak bosan-bosan laki-laki berbaju coklat tua itu menawarkan barang dagangannya. Tapi keadaan masih sama. Belum ada orang yang memanggilnya. Padahal sudah cukup jauh jarak yang ditempuh. Pak Narto sudah tidak tahu daerah yang dilalui sekarang. Apakah itu masih Pasuruan, tempat tinggalnya, atau sudah kota lain. Maklum, dia tidak bisa baca. Apalagi sejak Nahdi meninggal, Pak Narto sudah jarang jalan-jalan. Waktu Nahdi masih hidup, masih ada yang mengajak jalan-jalan, ke kota atau ke tempat-tempat rekreasi yang harga tiketnya murah.
“Dipan..Dipan. Jati Asli” kali ini pak Narto melantangkan suaranya. Sudah bosan dia mengayuh sepeda dengan tenaganya yang semakin berkurang. Sudah berbusa-busa mulutnya menawarkan dagangannya. Mungkin suara lantang akan membuat orang-orang di dalam rumah mau keluar untuk memanggilnya.
“Dipan..Dipan. Jati Asli”
“Dipan..Dipan. Jati Asli”, lama-lama suara itu terdengar bergetar, serak, menggigil.
“Aaah…tenggorokanku terasa kering lagi”, gumam pak Narto dalam hati. Kali ini dia mencari masjid karena azan dzuhur sudah berlalu setengah jam lalu. Tak jauh, pak Narto menemukan langgar kecil. Dia turun, menuntun sepeda tuanya ke area langgar. Kemudian lmengambil botol minuman dan meneguknya, lalu duduk di beranda langgar, melemaskan kakinya yang berkulit keriput. Di tengah istirahatnya, Pak Narto menyadari, bajunya basah terlumuri keringat.
“Waduuuh…bagaimana ini? Tidak bawa baju ganti lagi. Sholat pakai apa?”, Pak Narto memikirkan cara untuk sebaik mungkin menghadap Khaliq. Ya…dia sudah tahu caranya. Dilepasnya baju di badannya, lalu dia cantelkan ke pagar langgar yang terbuat dari bambu. Sambil menunggu terik matahari mengeringkan baju dan menghilangkan bau keringat yang menempel, pak Narto melanjutkan istirahatnya di beranda langgar. Memutar-mutar leher, menekuk-nekuk lengan, dan memijat-mijat kakinya. Sekilas pak Narto teringat istrinya. Bu Minah sangat pengertian. Dia tahu kapan pak Narto pegal-pegal. Tapi pak Narto terkadang nakal. Dia sering memanfaatkan kebaikan istrinya. Setiap hari minta dipijat, meski tidak pegal-pegal. Pak Narto melirik kondisi baju yang masih tercantel di pagar bambu langgar. Sepertinya sudah kering, dia harus segera mengambilnya dan menggunakan untuk menunaikan ibadah sholat. Pak Narto mulai melantunkkan kalimat-kalimat toyyibah, membungkukkan badan, menempelkan kening pada sajadah suci, lalu memanjatkan doa dengan khusuk, Ya Rabbi, Hamba mohon, dipan hamba segera laku. Amiiin. Pak Narto mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Penuh harap hingga matanya berbinar-binar karena kumpulan air yang menggenang. Andai tidak harus melanjutkan ihtiar, mungkin sajadah tempatnya menempelkan kening sudah terbasahi dengan hujan air mata. Dia bangkit, menuntun sepeda tua yang mengangkut dipan, mengayuhnya kembali, menawarkan dipan kembali. Sepanjang jalan pak Narto melakukannya dengan menahan sengatan matahari, menahan sakitnya urat-urat di seluruh badan, dan menahan keringnya tenggorokan. Dia lalui terus jalan berlubang, bergelombang, menanjak, menurun, dan lain sebagainya. Hanya sesekali dia berhenti, mengobati keringnya tenggorokan dan menyapu keringat yang bercucuran.
***
“Ini sudah sore, dipannya belum laku juga. Bagaimana ini? Aku harus tidur di mana?”, sambil terus mengayuh sepeda tua dan menawarkan dipan yang dibawanya, pak Narto berpikir. Dia tidak punya saudara atau kawan. Jangankan saudara atau kawan, daerah yang dilalui saja tidak tahu. Sementara sinar mentari semakin redup. Lampu-lampu kendaraan mulai dinyalakan.
“Apa aku pulang saja? Ah…tidak. Aku tidak mungkin pulang kalau belum menukarkan dipan ini dengan uang. Minah akan kecewa kalau aku tidak bawa uang”, pikiran itu menuntunnya tetap berjalan sampai menemukan kumandang sholawat santri dari sebuah musholla kecil lagi. Suara itu membawanya menemukan jawaban di mana harus melalui malam.
“Ya…di musholla saja. Besok, pagi-pagi baru kulanjutkan perjalanan.
Pak Narto mempercepat ayuhan kakinya. Dia ingin ikut sholat berjamaah, kemudian berdzikir bersama jamaah itu. Apalagi, seharian hanya bersuara sendiri, tidak bercengkerama dengan siapa pun. Dengan gerak cepat, pak Narto menyandarkan sepeda tuanya, mengambil air wudlu, lalu masuk dalam shaf jamaah. Indah rasanya melakukan sesuatu bersama-sama. Mengucapkan kalimat “Aaamiin” bersama, rukuk bersama, sujud bersama, berdzikir bersama, dan saling menjabat tangan bersama. Indah rasanya. Beberapa orang bapak menyapa pak Narto, mengajaknya bercengkerama tentang apa pun yang terlintas sampai tidak terasa azan isya’ berkumandang. Setelah itu pak Narto melalui malam di musholla sendiri. Tiba-tiba perutnya berbunyi, memanggil jatah yang harus diberikan. Pak Narto lupa makan seharian. Dia tidak tahu, bagaimana perutnya bisa menahan lapar seharian? Untung saja, lauk yang dimasak istrinya tidak berkuah, jadi tidak basi. Pak Narto langsung malahap nasi berlauk telur ceplok, tempe, dan sambal goreng yang dibungkus dengan daun pisang itu. Lalu dia duduk, menunggu usus-usus dan lambung mencerna makanan. Setengah jam dia duduk di beranda musholla itu sambil mengamati kendaraan-kendaraan yang melintas. Setelah dirasa cukup, pak Narto merebahkan badan di lantai musholla yang beralaskan karpet hijau. Dia lepas semua kelelahan yang terkumpul sehari ini. Melupakan semua hingga fajar menyapa.
***
Pagi berjalan dengan sendirinya, memaksa pak Narto melanjutkan perjalanan yang tak diketahui tujuan dan waktunya. Seperti semula, dia mengayuh sepeda tua, memperdengarkan suaranya.
“Dipan…dipan…”
Setengah hari pak Narto melalui perjalanan. Tiba-tiba dia terhenti, melihat daerah seperti hutan di depannya. Dia mendekati rimbun pohon-pohon yang terbelah oleh jalan beraspal itu.
“Bagaimana ini? Aku harus melewati hutan”.
Lagi-lagi pikiran harus membawa uang saat pulang menuntun pak Narto meneruskan perjalanan. Dia lalui saja hutan yang jarang dilalui kendaraan itu. Hanya sekali dia berhenti, mengisi perut dengan singkong rebus yang memang disisakan untuk makan hari itu. Bagi pak Narto, singkong sama saja dengan nasi. Dia dan istrinya sering makan singkong rebus untuk menghemat beras. Apalagi kalau persediaan beras tinggal sedikit, biasanya siang makan nasi, malam makan singkong rebus. Begitulah biasanya.
Dua jam pak Narto menembus hutan. Dia melihat kota baru di depannya. Entah apa namanya, dia tidak berpikir kota apa itu. Yang dia pikir hanya bagaimana agar dipannya laku.
“Dipan…dipan…”, pak Narto memulai teriakannya di kota yang baru diemui.
“Dipan…dipan…”, begitu seterusnya. Tapi keadaan tetap sama. Dipannya belum laku juga. Sementara tubuhnya mulai lemas, napasnya terdengar tersengal-sengal. Pandangannya berkunang-kunang. Sialnya lagi, air di botol sudah habis, singkong rebus tidak tersisa. Tapi pak Narto belum menyerah juga. Dia memaksa tubuhnya agar tetap bekerja di tengah sinar matahari yang masih terik. Tetap begitu, seterusnya begitu.
Sial! Meskipun semangat tetap kuat, badan tetap tidak bisa dipaksa. Tangan dan kaki pak Narto gemetaran. Kemudinya mulai tidak terkendali. Lalu dia terjatuh bersama sepeda tua dan dipannya. Tapi pak Narto masih memaksa diri. Dia bangkit, menuntun sepeda, dan menepi di sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya jatuh. Dengan muka memerah dan suara gemetar, dia minta minum pada seorang ibu pemilik rumah itu.
“Nak, minta minum”, kalimatnya singkat karena tak kuat lagi membuat kalimat untuk berbasa-basi. Perempuan setengah baya itu dengan cepat mengambilkan minum. Kemudian mengambilkan sepiring nasi. Tentu saja, pak Narto menyantapnya dengan lahap. Itu bukan keadaan yang baik untuk menyembunyikan rasa lapar.
“Bapak dari mana?”, tanya bu Isma, perempuan pemilik rumah itu.
“Dari Pasuruan, Nak”.
“Pasuruan?”, tanya bu Isma heran.
“Iya, Nak”.
“Dari Pasuruan Bapak bersepeda membawa dipan itu?”, tambah bu Isma dengan lebih heran.
“Iya, Nak”.
“Dipannya mau dibawa ke mana, Pak?”.
“Dijual, Nak”.
“Berapa harga?”.
“150. Kalau Nak…?”
“Isma”.
“Iya. Kalau Nak Isma mau 125 saja, karena Nak Isma sudah memberi saya makan”.
Bu Isma bergegas masuk ke dalam kamar.
“Ini, Pak. 150”.
“Nak Isma membelinya?”
“Iya, Pak”
“Alhamdulillah. Tapi, 125 saja, Nak”.
“Nasinya itu saya kasih, Pak. Tidak beli. Sudah, itu sudah murah. Bahannya kayu jati, suami saya suka barang-barang kuno.
Pak Narto bergegas berdiri menurunkan dipannya. Dengan bantuan bu Isma, dia mengangkat dipan itu di tempat yang diminta bu Isma.
“Terima kasih, Nak. Saya pamit dulu”.
“Ini sudah sore, Pak. Bapak nginap saja di sini. Besok pagi-pagi baru pulang”.
“Tidak, Nak. Istri saya sudah menunggu. Mungkin sekarang dia tidak makan karena tidak ada uang. Saya harus cepat-cepat memberikan uang ini padanya. Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan membalasnya”.
Bu Isma tersentuh mendengar ucapan laki-laki tua itu. Tak tersadari matanya terasa berat karena menyimpan kumpulan air. Dia tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya mengayuh sepeda dari Pasuruan sampai Banyuwangi. Dia memandangi pak Narto yang mengayuh sepeda dengan semangat dan membalas lambaian tangannya yang disertai tawa sumringah itu.
S e l e s a i
Malang, 14 Agustus 2007





6.01.2008

Complexity Theory on Social Science

Any Rufaidah

Teori Kompleksitas: Ideologi dan politik sistem self-organizing
Masyarakat dipandang sebagai sebuah sistem kompleks yang autopoiesis, sebuah sistem ekologis yang memproduksi-sendiri (self-producing) secara terus-menerus, adalah cara pandang yang ditawarkan oleh Maturana dan Valera, dalam bukunya Autopoiesis and Cognition (1980). Inilah yang mendasari pemikiran akan sosiologi kompleksitas yang dicoba susun oleh Kevin Kelly, dalam bukunya Out of Control (1995), menunjukkan bahwa saat ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam beberapa disiplin ilmu yang memandang segala sesuatu sebagai sistem kompleks dan sistem yang mengorganisasi-sendiri (self-organizing); sebuah konsep yang dipinjam dari ilmu alam (fisika dan biologi) dengan adaptasi tertentu dalam penerapannya dalam ilmu sosial.

Analisis yang digunakan adalah analisis trans-disiplin yang mengkaji sistem sosial sebagai sistem kompleks sehingga dapat diperhatikan berbagai parameter-parameter teknisnya untuk kemudian dengan bantuan matematika dan komputer dapat dianalisis secara komputasional dalam bentuk masyarakat buatan (artificial society). Dalam hal ini masyarakat dipandang sebagai sistem adaptif kompleks di mana tiap-tiap agen penyusunnya harus melakukan adapatasi sedemikian rupa untuk dapat tetap bertahan hidup dalam ranah evolusi sosial yang berlangsung terus-menerus.
Pada tataran ini, kita tidak lagi berbicara soal kapitalisme dan berbagai pola kultural yang semenjak Mazhab Frankfurt terus-menerus ditinjau secara kritis. Di sini ditawarkan bagaimana memandang kapitalisme secara lunak, dan tidak lagi berbicara mengenai seluk-beluk kapitalisme dan berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Kapitalisme dan demokrasi dianggap sebagai sistem yang sudah final dan sekarang yang penting adalah bagaimana kita adaptif terhadap sistem tersebut. Dalam pemikiran ini, segala dinamika yang terjadi di dalam masyarakat terjadi tanpa kendali siapapun dengan proses yang mengorganisasi sendiri (self-organized), sebuah hal yang mengingatkan kita pada invisible-hand-nya Adam Smith, bapak kapitalisme dunia.
Pandangan ini tentu saja naif: menantikan sebuah teori sistem sosial yang menikahkan antara sains alam dengan sains sosial namun dengan menggunakan adaptasi total metodologi yang digunakan dalam sains alam ke dalam sains sosial dengan melupakan evolusi epistemologis dari ilmu-ilmu sosial. Sebagaimana diutarakan oleh Douglas Kellner dan Steve Best dalam ulasannya terhadap karya Kevin Kelly yang,
…justru gagal dalam teoretisasi relasi kompleks antara restrukturisasi global kapitalisme dan bangkitnya teknologi baru… secara ironis, pakar teori kompleksitas seringkali terlalu jauh berada di satu sisi dan terlalu menyederhanakan permasalahan…

Inilah paradoks yang terjadi pada para teoretisi kompleksitas, sebuah reduksionisme dan simplifikasi yang terlalu jauh padahal asumsi awal dalam melakukan penelitiannya adalah bahwa sistem yang sedang ditelaah adalah sistem dengan kompleksitas tinggi.
Sumber : http://www.geocities.com/kajianbudaya/artikel1.htm

Menerjemahkan Teori Kompleksitas dalam Proses Pengambilan Kebijakan Publik
Ilmu-ilmu kompleksitas berkembang seiring pesatnya teknologi komputasi yang memungkinkan pemodelan sistem-sistem yang rumit dalam realm seorang analis dan pengamat. Teknologi komputasi yang mendorong simulasi komputasional telah memberikan tools yang penting bagi pengayaan ilmu sosial yang memungkinkan eksperimen dilakukan secara komputasional (Sawyer, 2003) sehingga banyak kebijakan tidak lagi dilahirkan secara coba-coba atau trial and error. Berbagai ide akan solusi untuk kebijakan publik dapat disimulasikan dahulu secara komputasional sebelum menjadi kebijakan publik sehingga kebijakan yang diambil pada akhirnya merupakan kebijakan paling optimum bagi kemashlahatan.
Ilmu-ilmu kompleksitas bersandar pada prinsip-prinsip dasar dari sains yang salah satunya adalah refutabilitas, atau ia dapat dipersalahkan jika memang salah dalam terminologi peningkatan manfaat bagi publik. Melalui berbagai tools yang diakuisisi oleh ilmu-ilmu kompleksitas, hal ini dapat dilakukan dan ilmu sosial yang selama ini berkembang menjadi semakin kaya dan kokoh fondasi keilmiahannya.
Sumber : http://qact.wordpress.com/2008/05/19/menumbuhkan-sains-dari-oleh-dan-untuk-kebangkitan-nasional-kita/

Summary :
1.Teori kompleksitas merupakan perubahan paradigma dari self-producing ke self-organizing
2. Menurut teori kompleksitas (paradigma baru), jika masyarakat dibiarkan berjalan sendiri, mereka akan kelabakan jika suatu saat menghadapi peristiwa tak terduga (misalnya : bencana).
3. Teori kompleksitas dibangun agar manusia mampu mengenali signal-signal kompleksitas sosial sebagai acuan untuk beradaptasi di dalamnya.
4. Untuk kerja birokrasi, teori ini dianggap sesuai karena ia mensyaratkan kesiagaan, ketepatan, dan kecepatan dari kerja birokrasi.

Kritik terhadap kompleksitas teori :
1. Teori kompleksitas pada beberapa disiplin ilmu sosial justru seringkali simplistik. Solusi-solusi yang ditawarkan malah menciptakan manusia robot (ini khusunya pada psikologi)
2. Teori kompleksitas cenderung hanya merupakan peralihan fungsi dan kerja mesin ke dalam sistem sosial manusia.

Catatan : kritik-kritik akan muncul hanya jika teori kompleksitas diterapkan pada ilmu sosial kemanusiaan, seperti psikologi yang banyak bersinggungan dengan filsafat, posmodernisme, atau posstrukturalisme.
Tetapi untuk ilmu pemerintahan, kebijakan publik (pelayanan publik), teori ini justru sangat dianjurkan, dan ia berfungsi untuk kritik terhadap pemerintah dan kinerja birokrasi.

Bacaan Penunjang
Gleick, J. (1987). Chaos: Making A New Science. Viking.
Keen, S. (2002). Debunking Economics: The Naked Emperor of the Social Sciences. Pluto Press.Kuhn, T. (1962). The Stucture of Scientific Revolutions. Chicago UP.
Santa Fe Institute (SFI).2008. The Santa Fe Institute Summer Insternship Mentoship Program. URL: http://www.santafe.edu/education/
Sawyer, R. K. (2003). “Artificial Societies: Multiagent Systems and Micro-Macro Link in Sociological Theory”. Sociological Methods & Research 31 (3). Sage.
Situngkir, H. (2004). “On Massive Conflict: A Macro-micro link”. Journal of Social Complexity 1 (4).
Situngkir, H. (2004). “How Far can We Go Through Social System?”. Journal of Social Complexity 2 (1).
Situngkir, H. (2006). “The Dynamics of Corruption: Artificial Society Approach”. Advances in Intelligent Systems Research: JCIS-2006 Proceedings. Atlantis Press.
Surya, Y. & Situngkir, H. ( 2008 ). Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisik/Kompleksitas. Kandel.
Waldrop, M. M. (1992). Complexity: the Emerging Science at the Edge of Order and Chaos. Simon & Shuster.







Pelayanan Kesehatan Indonesia

Any Rufaidah

Men Sana In Corpore Sano. Peribahasa tersebut benar adanya, karena kemampuan berkreativitas dan berinovasi banyak tergantung pada kesehatan ragawi. Dalam konteks kenegaraan, logika ini diakui kebenarannya. Oleh sebab itu, di dalam kampanye-kampanye kesehatan disebutkan kata-kata bijak seperti “Bangsa yang Cerdas adalah Bangsa yang Sehat”.

Kondisi sehat diperlukan oleh semua bangsa, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia mengharapkan bangsa yang sehat agar kekayaan yang ada dapat dikelola dengan baik, dimanfaatkan sebaik mungkin, dan dinikmati oleh anak cucu bangsa. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, ”Sudahkah Indonesia menjadi bangsa yang sehat?”
Jawaban atas pertanyaan ini bisa ditilik dari kondisi riil yang ada di lapangan. Yang pertama bisa dilihat dari kesehatan balita dan anak-anak. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 lebih dari empat juta anak-anak di bawah usia dua tahun menderita gizi buruk. Di tahun 1998, lembaga yang sama mencatat sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Angka yang lebih memprihatinkan ditunjukkan oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF). Mereka mencatat sekitar 40% balita Indonesia menderita gizi buruk (Sinar Harapan on-line, 25/1/02).
Keadaan ini ternyata tidak kunjung teratasi. Tahun 2005, tercatat sedikitnya 22.027 atau sekitar 12,6% balita di Kabupaten Cianjur menderita kurang gizi, sekitar 2.411 atau 1,4% di antaranya sudah digolongkan menderita gizi buruk (tempointeraktif, 14/6/05). Tahun 2006, di Solo ditemukan 1.640 balita dikategorikan kekurangan gizi, dan 290 di antaranya digolongkan menderita gizi buruk (tempointeraktif, 29/8/06).
Status gizi berkonsekuensi langsung pada kecerdasan. Lebih-lebih, kondisi ini terjadi pada usia pembentukan otak. Menurut ahli gizi, 80% proses pembentukan otak berlangsung pada usia 0-2 tahun (Sinar Harapan on-line, 25/1/02). Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Depkes. Pada tahun 2001, sekitar 130-140 juta rakyat Indonesia mengalami penurunan kecerdasan akibat kekurangan zat yodium. Angka ini menyebabkan Indonesia menempati peringkat ke 174 dari 190 negara (gizi.net, 27/11/01).
Kedua, bisa dilihat dari angka kematian ibu dan anak. Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia pada faktanya masih sangat memprihatinkan, yaitu tertinggi di Asean. Data terakhir dari BPS adalah sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Sedangkan Laporan Pembangunan Manusia tahun 2000 me¬nye¬butkan angka kematian ibu di Ma¬lay¬sia jauh di bawah Indonesia, yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thai¬land 44 per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada¬hal, tahun 2000 itu angka kematian ibu ma¬¬sih berkisar di angka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang be¬lum lama merdeka, yang memiliki angka ke¬matian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup.
Ketiga, dari kondisi kesehatan secara umum. Hal ini bisa dilihat dari jumlah penyakit-penyakit yang umumnya menyerang masyarakat, misalnya diare, demam berdarah, flu burung, serangan jantung, hipertensi, kanker hingga HIV/AIDS. Jumlah penderita penyakit-penyakit tersebut sampai saat ini masih menjadi persoalan pelik. Perkembangannya sangat cepat dan mudah berepidemi.
Banyak faktor yang menyebabkan mengapa kondisi kesehatan bangsa Indonesia masih sangat terpuruk. Minimnya pengetahuan masyarakat, ekonomi, budaya, adalah beberapa faktor penyebab rendahnya kualitas kesehatan masyarakat. Dan satu yang paling mendasar adalah minimnya pelayanan kesehatan, terutama di desa-desa terpencil. Banyak desa-desa terpencil yang sampai saat ini belum memiliki akses kesehatan yang memadai. Data empiris setidaknya memberi gambaran bagaimana masyarakat desa dapat mengakses kesehatan yang memadai. Untuk berobat, mereka harus menempuh jarak yang tidak pendek. Akibatnya, mereka banyak yang tidak tertolong.
Demikian pula dengan perolehan protein, yodium, vaksin, dan pengetahuan kesehatan. Masyarakat terpencil tidak memiliki akses untuk mendapatkan hal-hal tersebut. Jika demikian, bagaimana masyarakat akan sehat.

5.28.2008

Observing Reformation Progress Report

Written by Any Rufaidah

Without memorize, the age of reformation is 10 years. 10 years are enough time to realize the national expectation expected. The expectation of reformation is realization of democracy. Democracy is dead point that should be created in this nation called zamrud khatulistiwa. Reformation rise from serious condition of New Orde era, in where individual and collective rights are pressed by many ways.


The rise of reformation is the fact of society fatigue on repression, domination, and marginalization. Catching activists, firing mass media, and disciplining social organizations are the example of repression which should be ended. Finally, on May 21st 1998 reformation is boom in where Soeharto must strip off his position.

Reformation has embraced many alterations on society live. Reformation is like fresh wind although the realization must drop victim. Yet, that is value which must be paid for a change. Like the change in Germany, Italia, Uganda, Cuba, and others tyrant nation which also want victim.

Now, let’s analyze how the development of democracy which become reformation expectation. Is it stagnant, shift, or has moved?

The development of democracy can be observed from some aspects. First, it is multiparty. Why political party is positioned first number to observe democracy? The answer is because of multiparty all of society aspiration can be covered well. Indonesia first election after reformation, 2004, the number of party joined is 24. It is big alteration from before that is only 3 parties. Most urgent, multiparty is the good system to avoid domination like New Orde Era.
Second sign is direct election. Direct election is smart achievement for reformation because the aspiration sphere of society more open. Society right not only is covered collectively but also individually.

Third, it is press freedom. On democracy, press has significant role. Press is society aspiration tool. By means of press, society aspiration will be heard, and the most urgent government deceit can be corrected. Press has function as shock therapist for politician and government. It has heavy threat − reader.

Fourth, it is the development of Non-Government Organizations (NGOs). In reformation area, we feel NGOs’ spirit. They implement roles back. Aspirate society aspiration is the movement they done mostly. For example is the action with labor, farmer, fisherman, women, and others society requiring. It is urgent sign for democracy development.

Fifth, it is the risen of democratization programs. Recently, there are two national programs especially concerning on democratization − democracy school provided by Eep Syaifulloh and Ignas Kleden. One of programs is intensify correlation of democracy actors − government (and party), civil society (include NGO), businessman, and press. The programs give good effect for democracy development. Inclusive communication and good relationship will be real there.



5.24.2008

Hati-Hati Politik Hiburan

Oleh Any Rufaidah

Akhir-akhir ini dunia kepemimpinan Indonesia diwarnai dua aktor baru. Mereka adalah Rano Karno dan Dede Yusuf. Rano Karno mewarnai kepemimpinan di Tangerang, dan lebih luas, Dede Yusuf yang bernama asli Yusuf Macan Efendi berhasil menaklukkan hati penduduk Jawa Barat. Jalan politik keduanya cukup mulus meskipun ada juga kalangan yang meragukan. Mengatakan mereka berdua hanya modal tampang dan mengandalkan popularitas. Keraguan ini muncul karena karier politik kedua artis senior itu masih relatif singkat. Belum cukup matang untuk memimpin.


Pertanyaannya, mengapa mereka bisa meraih posisi penting yang diperebutkan banyak politisi itu? Padahal pergulatan politik yang dilalui belum seberapa. Dibanding tokoh-tokoh lain, proses yang ditempuh belum ada apa-apanya. Selain itu, dunia yang selama ini ditekuni jauh dari politik.

Ada satu jawaban yang bisa dilontarkan untuk pertanyaan di atas. Yaitu, karena masyarakat membutuhkan pemimpin muda yang bersih dan dekat dengan mereka. Ada kebutuhan, ada permintaan. Hukum itu kini berlaku dalam politik Indonesia. Kebutuhan berangkat dari realitas kepemimpinan yang selama ini carut marut. Banyak bukti yang secara jelas menunjukkan kondisi tersebut. Angka kemiskinan yang tak kunjung berkurang, peningkatan pengangguran, pendidikan yang bobrok, harga Sembako yang terus melambung, sementara korupsi semakin merajalela. Sungguh menyedihkan.

Keterpurukan itu tentu tidak bisa dilepaskan dari pemimpin. Masyarakat menilai, berbagai masalah yang muncul terutama disebabkan oleh pemimpinnya. Pemimpin tidak tegas, justru seringkali ikut serta dalam membantu upaya-upaya penyalahgunaan hak masyarakat demi misi penumpukan harta. Kedekatan pemimpin pun selama ini masih minim. Mereka turun kalau sedang membutuhkan suara. Setelah itu hilang tanpa jejak. Waktu banyak dihabiskan untuk interaksi dengan pengusaha dan oknum-oknum yang memiliki kepentingan tertentu di daerah yang dipimpin. Deal-deal pembangunan mall dan proyek-proyek besar lainnya menjadi rutinitas pengganti kunjungan ke masyarakat. Akhirnya, masyarakat terlupakan, tidak ter-openi, bahkan tidak lagi menjadi prioritas.

Masyarakat kini sudah lelah menghadapi realitas seperti itu. Mereka sekaligus bosan menunggu janji-janji pemimpin yang tak jelas kapan akan terwujud. Ini yang membuat mereka semakin membutuhkan pemimpin baru. Pemimpin muda yang bersih, tidak terlibat dalam kejahatan-kejahatan politik-pemerintahan serta popular. Yang terakhir ini (popular), bagi masyarakat tidak hanya berarti terkenal, melainkan dekat.

Kehadiran yang Tepat
Di tengah kelelahan dan kebosanan terhadap aktor-aktor lama, Rano Karno dan Dede Yusuf hadir sebagai Calon Wakil Bupati (Cawabup) Tangerang dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Barat. Kehadiran mereka sangat tepat, sesuai dengan permintaan masyarakat, khususnya masyarakat lokal. Masyarakat menyambut gembira. Terbukti, keduanya kemudian berhasil menempati posisi penting di daerahnya tersebut. Mengalahkan pesaing-pesaing yang sudah tidak diragukan lagi kapasitas politiknya, seperti Agum Gumelar. Rano yang berpasangan dengan Ismet ditetapkan menang di seluruh kecamatan. Suara yang mereka kantongi lebih dari separo jumlah pemilih, yaitu 56,5 persen.

Kesuksesan ini disebabkan oleh faktor yang linear dengan permintaan masyarakat. Muda, bersih, dan popular. Rano Karno dan Dede Yusuf masih muda, memiliki idealisme dan karakter yang pas. Citra mereka di mata masyarakat selama ini baik. Di dunia keartisan jauh dari gosip-gosip miring serta tidak suka neko-neko. Yang lebih penting, keduanya bersih. Ini menjadi akurat mengingat pergulatan mereka di dunia politik masih baru. Karena baru, maka tidak tercemar oleh kejahatan-kejahatan politik-pemerintahan. Di samping itu, mereka dekat di hati pemilihnya.
Politik Hiburan
Keberhasilan Rano Karno dan Dede Yusuf sebagai pemimpin bagaimana pun harus diakui sebagai prestasi. Tidak mudah mencapai jabatan tersebut. Perlu tenaga, pemikiran, dan biaya. Bentuk usaha keduanya minimal dapat dilihat dari keabsenan di dunia keartisan selama beberapa tahun terakhir. Dalam jangka waktu itu, baik Rano maupun Dede rela melepaskan diri dari dunia yang membesarkannya demi belajar politik. Dengan upaya tersebut, wajar jika Rano dan Dede berhasil meraih tempat no. 2 di Tangerang dan Jawa Barat. Namun, ada beberapa hal yang perlu dijadikan koreksi dari fenomena politik ini.

Politik adalah dunia yang penuh strategi. Jika tanpa strategi, bukan politik namanya. Dan politikus adalah orang yang selalu bermain strategi. Strategi politik bisa dimunculkan dari berbagai macam latar belakang. Kebutuhan pasar (pemilih) adalah salah satu faktor yang sangat menentukan strategi politik yang hendak dimainkan. Aktor lama tentu tidak buta akan kebutuhan pasar. Mereka membaca kebutuhan, kemudian menawarkan apa yang diminta pasar. Motif penarikan Rano Karno dan Dede Yusuf ke wilayah-wilayah penting bisa jadi hanya untuk memenuhi permintaan pasar. Muda, bersih, dan dekat di hati pemilih. Ketiga unsur itu adalah modal besar untuk menarik hati pemilih. Dan semuanya telah terbukti. Masyarakat Tangerang dan Jawa Barat langsung terhipnotis karena kekuatan si Doel dan si Macan. Namun dalam dunia politik keduanya bisa jadi hanya dijadikan hiburan politik, dan kemudian politik Indonesia menjadi politik hiburan. Ada kesimpulan bahwa permintaan pemilih yang dilatarbelakangi oleh kelelahan dan kebosanan atas realitas pemimpin harus diatasi dengan hiburan. Maka ditariklah orang-orang baru agar masyarakat terhibur. Dengan begitu pasar menjadi puas, sementara kekuasaan utama tetap dipegang aktor-aktor lama. Jika sudah demikian, berarti motif politik penarikan Rano Karno dan Dede Yusuf tidak lebih sebagai hiburan politik.

Kita tentu tidak ingin pemimpin hanya berfungsi sebagai hiburan politik dan politik Indonesia menjadi politik hiburan. Oleh sebab itu, masyarakat harus pandai dalam pembaca realitas politik yang sedang berkembang. Dan para artis yang saat ini banyak dilirik untuk mengikuti keberhasilan senior mereka sebaiknya juga pandai membaca fenomena. Tidak sekedar ikut tanpa menyadari fungsi dan keberadaan mereka seharusnya. Kekritisan harus selalu diasah sebelum diri sendiri dan masyarakat luas terjebak dalam politik hiburan. Semoga ini tidak terjadi.

Penulis adalah anggota Averroes Community, Malang.

Aku Hanya Kotoran Binatang

Any Rufaidah

Aku ini hanya kotoran binatang
Yang mengaharap mata tak jijik saat melihatku
Aku ini hanya kotoran binatang
Yang berharap hidung-hidung tak tertutup saat dekat denganku
Aku ini hanya kotoran binatang
Yang berharap tak ada kaki yang menginjakku
Aku ini adalah kotoran binatang
Yang menunggu orang mengangkatku
Tumbuh bersama bunga, menciptakan keindahan, menghadirkan keharuman
Tapi aku hanya kotoran binatang
Berharap pun adalah khayalan
Aku hanya kotoran binatang


5.03.2008

Anak Perlu Dispensasi

ANY RUFAIDAH, S. Psi


Tuntutan zaman memaksa bangsa ini menjadi bangsa yang tangguh dan mampu bersaing di kancah internasional. Persaingan dunia yang semakin lama semakin ketat menuntut persiapan diri sebaik mungkin. Jika tidak mampu bersaing, bersiap-siaplah terlindas zaman. Tuntutan itu menjadikan kebutuhan akan pendidikan berkualitas semakin besar. Untuk itulah, pendidikan menciptakan formulasi-formulasi kreatif. Kita amati, dari tahun ke tahun Depdiknas mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru dengan tujuan utama untuk meningkatkan SDM. Nilai minimum kelulusan SMA yang semula hanya 3,01 dinaikkan menjadi 4,01 pada tahun ajaran 2003/2004. Pada tahun ajaran berikutnya (2004/2005), nilai dinaikkan lagi menjadi 4,25. Asumsinya, jika siswa mampu lulus belajar dengan standart nilai tinggi, kemampuan akademiknya dapat diakui. Bukan hanya Depdiknas yang mengeluarkan formulasi-formulai dalam bentuk kebijakan baru. Sekolah-sekolah nampaknya bekerja keras pula dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Salah satu dari sekian banyak program yang ditawarkan adalah fullday school.


Program fullday school menerapkan sistem belajar sehari penuh, dimana siswa belajar sepanjang hari di sekolah, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 atau lebih. Sekolah-sekolah yang menerapkan sistem ini menawarkan berbagai fasilitas belajar dan les-les tambahan. Komputer lengkap dengan jaringan internet, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, dan fasilitas lainnya sudah tersedia. Guru-guru selalu siap memberikan pelajaran tambahan hingga sore hari. Bimbingan agama pun tersedia. Layaknya supermarket, sekolah menyediakan segala sesuatu yang berhubungan dengan peningkatan mutu SDM. Dan yang paling penting, fullday school sangat berguna untuk menghindari pergaulan-pergaulan negatif, meminimalisir pengaruh luar sekolah seperti penggunaan narkotika dan miras, balapan liar, tawuran antar pelajar, gank liar seperti halnya gank motor, dan bentuk-bentuk pergaulan negatif lainnya. Dengan memperpanjang waktu di sekolah, anak-anak diharapkan menjadi generasi cerdas dan “bersih”. Pada sisi ini, fullday school sangat bermanfaat. Di era globalisasi yang serba bebas ini, anak-anak (remaja) memang mudah terpengaruh berbagai macam hal. Kehadiran dunia maya yang biasa disebut cyberspace dan kecanggihan teknologi memungkinkan remaja mengakses berbagai informasi dengan mudah. Dengan segala kemudahan itu, gaya hidup di berbagai belahan dunia dapat terserap dengan mudah. Seakan-akan tidak ada batas yang memisahkan antara bagian dunia satu dengan bagian lainnya. Peneliti budaya ITB, Yasraf A. Piliang (2004) menyebut realitas ini sebagai dunia tanpa batas (bouderless world). Gaya remaja Barat dengan rok mini, blue jeans sobek-sobek, body piercing, cat rambut warna-warni, dapat masuk dan diimitasi dalam waktu sekejap mata.

Pengaruh-pengaruh negatif pergaulan yang berkembang di era globalisasi ini memang seharusnya diperhatikan. Jika tidak, bangsa ini akan terancam kehilangan identitas dan jati diri bangsa. Tidak memiliki ciri khas yang bisa dibanggakan dan mudah dipermainkan oleh kekuatan asing. Fullday school sebagai salah satu tameng atas kemungkinan itu perlu mendapat apresiasi. Tetapi perlu diingat, kita tetap tidak boleh meremehkan keterbatasan anak (peserta didik) yang mengikuti program tersebut.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang siswa SMP yang mengikuti sekolah fullday. Ketika saya bertanya sekolah di mana? Ia menjawab, kemudian mengatakan ingin segera pindah dari sekolahnya sekarang. Sebab, di sekolahnya terlalu banyak tugas dan tidak ada waktu untuk bersantai dan bermain-main. Dengan nada ketus ia mengatakan, “Masak anak SMP tidak diberi waktu main.”

Siswa itu merasa tertekan dan tidak sanggup mengikuti program fullday. Gambaran ini hanya satu dari sekian banyak contoh yang riil terjadi. Bayangkan saja, berapa jumlah siswa yang mengalami hal serupa. Sebenarnya mereka ingin pindah sekolah, tetapi ada faktor yang menghalangi, salah satunya adalah orang tua. Terkadang orang tua tidak mengijinkan anaknya pindah sekolah, karena fullday school dianggap the best program. Orang tua berharap dengan mengikuti program ini anak akan berprestasi. Mereka lupa bahwa model pendidikan yang tak dikehendaki anak justru akan menjadi boomerang. Anak merasa tertekan karena tidak kuat menanggung beban sekolah. Di sinilah pengertian orang tua sangat dibutuhkan.

Kebijaksanaan orang tua sangat diperlukan dalam menghadapi contoh seperti di atas. Jaga Image (Jaim) karena anaknya tidak mampu mengikuti fullday school yang dalam masyarakat dianggap bagus tidak perlu dipertahankan. Pemahaman orang tua terhadap kondisi anak lah yang harus ditampilkan. Orang tua harus menyadari bahwa kemampuan setiap anak dalam menyerap pelajaran berbeda. Jangan karena ketidaksadaran orang tua, anak menjadi korban. Mereka tidak mampu menyerap pelajaran dengan maksimal. Ke sekolah hanya untuk menyenangkan orang tua, bukan atas kemauan sendiri. Belajar pun sekadarnya saja. Perlu dipahami bahwa kebutuhan anak muncul sesuai dengan bakat dan minatnya. Bakat dan minat tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Tidak seharusnya dipaksakan. Selain itu, anak memiliki hak memilih orientasi belajarnya sendiri. Orang tua yang lebih dulu mengenal demokrasi harus mampu mempraktikkannya di sini. Demokrasi bukan hanya berlaku antara pemerintah dan rakyat. Di lingkungan keluarga pun memerlukan demokrasi. Bahkan, penerapan demokrasi di lingkungan keluarga lah yang justru lebih bermanfaat. Agama pun secara jelas memberi amanat kepada orang tua untuk mendidik anak sebaik mungkin. Tetapi agama tidak menghendaki pemaksaan. Kita diperintah untuk memberi kebebasan.

Dan sudah selayaknya diketahui bahwa yang disebut kesuksesan bukan hanya disokong oleh kemampuan akademik (Intelectual Quotient) yang ditawarkan fullday school. Orang sukses adalah orang yang mampu mengembangkan minat dan bakatnya secara maksimal. Bukan hanya mereka yang mampu menghafal rumus matematika atau fisika. Mereka yang pandai bermain biola atau gitar, menjadi atlet renang atau bulutangkis adalah orang-orang yang sukses pula. Dengan kata lain, “Banyak jalan menuju sukses”. Anak memiliki pilihan sendiri-sendiri untuk menemukan jalan suksesnya.

Kita semua berharap bahwa formulasi cerdas berupa fullday school mampu menghantarkan bangsa ini menjadi bangsa maju dan kokoh. Tetapi perlu menjadi catatan bahwa pendidikan yang kita tanamkan adalah pendidikan berbasis kebebasan seperti yang diajarkan oleh ahli pendidikan Brazil, Paulo Freire, bukan pendidikan berbasis sangkar. Semoga.

ANY RUFAIDAH, S. Psi, HRD Lembaga Pendidikan“El Maurice Muamalah College”Malang
(Koran Pendidikan, November 27)

4.19.2008

Kotak Telpon

Cerpen: Any Rufaidah

“Bagaimana kabarmu?
“Baik. Kamu sendiri?”
“Aku juga baik. Ga, aku mau ngomong sesuatu.”
Hatiku berdetak semakin kencang. Sejak tangan menari-nari di atas angka-angka telpon, sebenarnya hatiku sudah berdetak kencang. Tapi kali ini lebih kencang.
Kupersiapkan diri, menata emosi, menghela napas panjang dan mengeluarkannya dari mulut yang kukerucutkan.
“Sepertinya hatiku memilihmu.”
“Memilih bagaimana?”
Aku yakin sebenarnya kau sudah tahu maksudku Dirga. Kau hanya pura-pura.
“Aku suka sama kamu.”
“O…gitu. Ya nggak apa-apa.”
Kenapa kau masih pura-pura Dirga. Kuyakin kau tahu bukan itu jawaban yang kuinginkan. Kau tahu pasti kata-kata yang kuharap.
“Aku hargai perasaanmu.”
Singkat sekali kalimat itu. Hanya tiga kata. Ya…aku tahu kau laki-laki yang menghargai orang lain. Tapi kali ini kau pula harus mengerti. Tidak cukup hanya menghargai.
“Lalu?”
“Lalu apa?”
Aaaah…. Baru empat menit aku bicara denganmu Ga. Tapi kau sudah membuatku tak punya kata-kata. Tak kutemukan lagi sisa kata-kata. Kau membuatku buntu Ga. Tak tahu lah aku. Bukan aku gampang menyerah, tapi kata “lalu” adalah kata terakhirku. "Kurasa kau memang tak mau tahu walau kau bukan tak tahu."

Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Emosiku tak terkendali. Kuletakkan gagang telpon dengan setengah membanting. Lalu aku berjalan cepat meninggalkan fasilitas komunikasi itu. Di dadaku seperti ada gumpalan yang siap meledak. Gumpalan itu semakin lama semakin membesar. Bagai bola salju yang menggelinding. Hatiku ingin segera memuntahkan umpatan-umpatan dan kulemparkan muntah itu ke muka Dirga. “Aku benci atas kepura-puraanmu Dirga. Kau bilang kau menghargai, tapi kau tak mau mengerti. Kali ini otakmu benar-benar lucu. Tak seperti wajahmu yang selalu kau tampakkan bijaksana.” Aku tertawa kecut mencibirnya.

Kendali kebencian tak membuat kakiku lelah. Langkahku makin cepat. Menembus jalan gelap yang biasanya tak berani kulewati sendiri. Kali ini tak kurasakan secuil takut pun. Rasa takut tertutupi kebencian.

Tak terasa lebih cepat kulalui jalan kostan. Aku tiba di depan rumah tingkat berdinding kuning muda itu. Kupelankan kaki. Kulihat gerbang masih terbuka. Berarti jam malam belum saatnya tiba. Berat rasanya langkah kakiku menuju gerbang itu. Aku masih ingin meluapkan kebencian yang tek segera mereda. Mungkin siraman cahaya bulan mampu mencairkan gumpalan bola salju di dadaku. Mungkin tiupan angin malam mampu menyapu sisa-sisa kotoran yang melekat di hatiku. Aku masih ingin menghabiskan jatah jam malam.

***
Kuambil jalur lurus berlalu dari kost. Aku berharap pada sabit bercahaya, pada hembusan yang tak bosan berkelana mau membantu mengatasi kegalauan jiwa ini. Kuharap sinarnya mampu memadamkan bara panas dalam hati. Kuharap sentuhannya menghadirkan kedamaian. Sesekali kutarik leherku. Berharap sabit bercahaya menyalurkan terang. Kunikmati belaian hembusan yang tak bosan berkelana dalam-dalam.

Rasanya cukup jauh aku berjalan. Langkahku mulai pelan. Badanku mulai menggigil. Dan perlahan hatiku mulai stabil. Mungkin sabit bercahaya dan hembusan yang tak bosan berkelana telah menyelesaikan tugasnya menundukkan emosiku. “Mungkin jatah jam malamku sebentar lagi tiba.” Segera saja kuputuskan memutar badan. Kuambil jalur yang kulalui tadi dengan sedikit memaksa kaki yang sudah kelelahan.

Kawan-kawan kostku sudah masuk ruang peraduan mereka masing-masing. Sebagian lampu mereka sudah padam. Aku pun langsung menuju peraduan. Membaringkan tubuh. Merelaksasi otot-otot organ badan. Belum sempat kutanggalkan baju tebal yang menghalau ngilu di kulit, mataku sudah tak tahan menolak kedatangan dewi penimang. Mataku terpejam tak lama kemudian. Semua menjadi padam. Semua beban terlupakan. Ringan sekali rasanya. Andai saja hidup ini seringan pertama kali mata terpejam di tengah belaian dewi penimang.

***
“Dirga, kau kah itu?” Kuterkejut melihat sosok yang terlanjur lekat di hatiku itu. Ia berdiri di bibir pintu kostanku. Penampilannya rapi. Lebih rapi dari biasanya. Tetapi tetap ia tak meninggalkan ciri khasnya. Jaket coklat kopi susu itu memang yang paling sering ia kenakan. Wajahnya kali ini lebih cemerlang, walaupun rambutnya tak berubah. Tetap cepak, tetap sedikit bergelombang. Tapi bukan itu yang membuatnya memukau. Aku tetap menyukai perilakunya yang bijaksana. Gaya bicaranya yang bersahaja. Usahanya yang selalu tekun. Setiap kali ia beraktualisasi dalam lembar-lembar digital, tak satu hal pun ia gubris. Otaknya begitu kaya. Tak pernah habis stok ide yang tertimbun di dalamnya. Tuhan…ia begitu sempurna.
“Sama siapa kamu ke sini?”
“Sendiri. Kamu ada acara?”
“Nggak. Ada apa?”
“Mau keluar?”
“Ke mana?”
“Jalan-jalan.”
“Ke mana dulu?”
aku mencoba terus menyelidik, walau kemana pun tak penting bagiku. Jangankan jalan-jalan, bertemu saja sudah senang minta ampun.
“Jalan-jalan?”
“Aku ganti baju dulu.”

***
Jalanan kota ini memang selalu padat. Tapi Dirga memilih jalur yang lebih sepi. Kontrol gas motornya cukup pelan. Seperti biasanya ia tak berbasa-basi. Kalimat-kalimatnya singkat dan padat. Mungkin karena ia terbiasa menelan sebagian besar waktu untuk menata kata-kata.
“Yu’, aku suka sama kamu.”
“Kamu serius? Ga?”
“Ya…kapan kau pernah lihat aku tak serius?”
Kepalaku tertunduk seraya menebar senyum.

“Sialan!!!”
belum puas aku menikmati rasa senangku, HP ku berbunyi. Aku terbangun. Badanku langsung bangkit. “Kenapa tak kumatikan HP itu agar tak menggangguku.” Kurebahkan lagi badanku sambil membaca satu pesan yang muncul di layar itu. Dari teman lama. Seperti biasa, ia hanya mengucapkan selamat malam dan tanya kabar. Aku kesal. pesan itu benar-benar tak penting. Kumelemparnya di atas tempat tidur setelah kutulis pesan singkat seadanya.

Pikiranku segera teralih ke mimpi yang baru saja kulalui. Pikiranku berkelana mencari jawaban kebenaran. Aaaahh…aku tak tahu apa maknanya. Tapi bukankah Freud menyatakan bahwa mimpi adalah kedok harapan-harapan. Kupejamkan mata. Mungkin Freud benar. Mimpi itu kedok harapanku pada Dirga. Aku sangat mengharapkannya. Aku ingin mempelajari kebijaksanaannya. Perilakunya yang bersahaja. Ketekunan usahanya. Aku ingin menyerap ilmu dari kecemerlangan otaknya. Dirga…Dirga. Sepanjang sisa malam itu pikiranku memujinya. Benar-benar tak bisa aku mengabaikannya begitu saja. Aku harus berusaha terus mendekatinya.

Tak terasa mataku terpejam lagi hingga suara bedug keluar dari rahim fajar. Aliran air kamar mandi mulai terdengar. Kawan-kawanku mulai berjajar menunggu giliran. Aku memang selalu terakhir. Lebih baik aku tak terburu-buru mengejar sujud, daripada harus berjajar di depan kamar mandi. Toh Tuhan tak akan lari kukejar. Bunyi air mulai sepi. Sambil menahan hembusan angis pagi, kubuka pintu kamar dan kupaksa kaki keluar. Kukucurkan air ke tubuh yang sebenarnya tak mampu menahan tusukan dingin. Kubasuh muka hingga kaki untuk mendapatkan kesucian sebelum menghadap Ilahi. Lalu kumulai hariku seperti biasanya. Kusabet bacaan-bacaan ringan yang belum kutuntaskan kemarin. Hampir tiap hari kubuka hariku dengan kumpulan-kumpulan kertas agar otakku terangsang. “Tapi…, sial.” Kali ini otakku tak terarah. Bukannya ia memproduksi ide-ide kreatif, tetapi memilih berlari ke sosok Dirga. Otakku seakan memerintah tangan memungut HP untuk menyapanya di pagi hari. Memang…hatiku ragu, tapi kulakukan juga perintah itu.
“Selamat pagi. Semoga pagi ini menjadi awal memperbaiki diri.”
Aaaahh…begitulah gayaku. Aku tak tahu apa makna kalimat itu. Kadang aku berlagak bijaksana, tapi tak tahu makna. Tapi biarlah. Yang penting maksudku baik.

Suara HP tak terdengar lagi. Ia masih bungkam. Seharusnya aku menyudahi, tapi selalu tak berhasil. Hatiku masih ingin menyapanya. Kukirim lagi pesan singkat dengan bahasa-bahasa yang kurasa tertata. 2x, 3x. tak ada balasan sama sekali. Sepanjang hari itu memang membosankan. Aku hanya terkurung dalam ruang sewaan sempit itu, memperhatikan layar HP murahan milikku. Berharap ada balasan. Aku benci suasana seperti itu.

Aaahh…mungkin tidur dapat meringankan. Kugunakan waktu yang tak tepat itu untuk melupakan ingatan-ingatan pada Dirga. Tapi dewi penimang tak kunjung datang. Berkali-kali kumemanggilnya. Ia masih menolak. Badanku pun terus berontak setiap kuposisikan. Seakan tak ada satu pun tempat yang nyaman. Kucoba semua posisi hingga benar-benar tak kudapati.

Hatiku memaksa bangkit. Memaksa kaki melangkah. Memaksa mulut bicara.
“Tidak! Aku tak boleh menelponnya lagi.”
“Lalu bagaimana kau dapat jawaban?” Suara itu muncul dari dalam diri. Seperti menjadi lawan atas bagian lain di hati.
“Telpon lah sekarang!”
“Tidak!!! Pesan-pesan yang kulayangkan sudah cukup. Aku tak boleh menelponnya. Jika mau, ia pasti membalas pesanku.”
“Tapi sampai kapan kau mau menunggu. Mungkin pulsanya habis. Mungkin ia masih tidur. Telponlah sekarang juga.”
“Betul juga. Mungkin pulsanya habis. Jadi nggak bisa membalas pesanku. Aku mau telpon aja.”

Dengan cepat kusambar dompet yang tergeletak di rak buku. Kumelangkah setengah berlari ke kotak telpon yang semalam kugunakan. Seperti tadi malam, hatiku berdetak kencang saat jari-jariku menari di atas angka telpon. Dan semakin kencang saat plastik yang kupegang menempel di telinga. 4x deringan, suaranya menyapa…
“Hallo”
“Ga, ini Ayu.”
“Ya…ada apa?”
“Bagaimana komentarmu Ga?”
“Komentar atas apa?”
“Atas apa yang kusampaikan tadi malam.”
Kuharap Dirga tak bertanya “apa” kali ini. Semua sudah cukup jelas. “Kau tak boleh bertanya apa-apa Ga. Jawab saja pertanyaan itu.”
“Yu’, kamu terlalu terburu-buru. Biarlah waktu yang menjawabnya. Saat ini aku sedang banyak pikiran.” Tiba-tiba seperti ada silet tajam yang menyayat-nyayat hatiku. Dia bilang aku terburu-buru.
“Baik Ga. Terima kasih.”
Kuletakkan gagang telpon dengan pelan. Bukan karena aku tak marah, tapi karena seluruh otot badanku tiba-tiba lemas. Kutempelkan kening di kotak besi itu. Dan berkali-kali kulemparkan telapak tanganku ke kotak plastik berwarna biru itu.

“Kenapa kau berkata seperti itu Dirga. Kau sebut aku terburu-buru. Oooh…benar kaukah yang bicara itu?” Hatiku berontak. “Lalu apa arti ajakan untuk menemanimu sepanjang hari itu? Kau minta aku duduk di sofa tepat di kananmu. Berbincang-bincang tentang apa saja yang membuatmu senang. Lalu apa makna gerak halus jari-jari yang kau gunakan menarik tali tasku? Aku tahu betul apa maknanya. Sesungguhnya kau ingin mengajak tanganku mengikuti ayunanmu. Aku tahu betul Dirga. Jika kau tuduh aku terburu-buru, kenapa kau biarkan waktu yang biasa kau habiskan bersama lembar-lembar digital hilang untukku? Kenapa kau izinkan matamu sering mengungkapkan sebuah bahasa yang nyata-nyata menyimpan makna? Kenapa kau biarkan kata-kata yang kutahu tak biasa keluar dari mulutmu mengalun begitu saja? Dirga…aku tak percaya itu dirimu. Kau orang yang kukenal konsisten. Kenapa kau balikkan semua dengan mudahnya. Jujur aku tak terima Dirga.”

Keningku masih menempel di kotak besi yang terlihat lapuk itu. Sayatan-sayatan di hati juga masih jelas terasa. Hatiku hancur lebur. Lalu kusandarkan kepalaku ke dinding kotak. Kutengadahkan kepala melihat langit-langitnya. “Dirga…aku tak terima.”

“Ayu!!!” Suara itu menyadarkanku. “Ngapain kamu di sini?”
“Ya telpon lah. Masak beli baju di sini?”
“Kenapa mukamu sedih begitu?”
Rupanya Soleh menangkap bahasa wajahku. Ia memang cowok super perhatian. Aku satu organisasi dengannya, jadi tahu betul karakternya.
“Cerita Yu’. Mungkin aku bisa membantu.” Aku diam.
“Mungkin kamu benar Leh. Sebaiknya ada yang mendengarku. Lalu kugiring Soleh membungkukkan badannya. Duduk di lantai persegi kotak telpon itu. Ia duduk mengikutiku. Menatap lekat menunggu bibirku terbuka. Ia laki-laki sabar. Tak satu kata pun ia keluarkan sampai aku menyuruhnya bicara.

“Yu’…bukankah kamu hanya ingin mempelajari kebijaksanaannya? Perilakunya yang bersahaja? Ketekunan usahanya? Dan menyerap ilmunya?”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu kenapa kau memaksa memilikinya?”
Hatiku terperanjat. Spontan mataku tersorot ke arahnya.
“Bukankah tanpa harus memiliki, kau bisa dapatkan semuanya?”
“Leh…dari mana kau dapatkan kata-kata bijak itu?”
“Aku baru saja memungutnya di jalanan.”
Aku dan Soleh tersenyum bersama.
“Tapi aku tetap tak terima Leh. Masak dia bilang aku terburu-buru?”
“Yu’…mungkin dia benar. Kamu memang terburu-buru.”
“Leh…aku bisa menangkap bahasa tubuhnya. Bagaimana dia menatapku. Bagaimana rangkaian kata-katanya. Bagaimana tarian jari-jarinya. Aku bisa menangkapnya dengan jelas.”
Soleh tampak kesulitan menanggapinya. Ia menghela napas. “Yu’…kau boleh nggak terima. Tapi bukankah itu bukan intinya? Mungkin kemarin dia memang suka. Tapi sekarang berubah. Dia punya penilaian Yu’.”
“Lalu…aku harus bagaimana Leh?”
“Bukankah kalimatku tadi sudah jelas Yu’”
“Kamu tetap bisa menyerap apa yang dimilikinya tanpa harus merebut tubuhnya.”
Helaan napasku mengakhiri kalimat itu. Kusungkurkan kepalaku di atas lipatan lutut.
“Iya…Leh. Terima kasih.” Kuucapkan kalimat itu pada posisi yang sama. Kotak telpon yang sama.

Kediri, 26 Juni 2007. 18.44