Antara Jogja – Jakarta

2.02.2010



Jogjakarta (dengan J) dalam pandanganku adalah kota remang-remang. Lihat saja lampu di jalan-jalan, semua remang, tak ada yang berwarna putih terang. Entah apa makna remang: mungkin tenang sebagai gambaran Jawa, mungkin kota belajar yang tidak gaduh, mungkin pula mesum. Jogjakarta pada 25 – 30 Januari 2010 bagaimanapun menyisakan hal-hal indah: teman-teman baru yang mempesona (yang diam, yang ceria, yang ‘berantakan’, yang aktivis), pengetahuan-pengetahuan baru yang mencerahkan.

Kontrakan daerah Sapen, belakang Hotel Shafir, pinggir rel, apa yang bisa dilakukan pada tempat kecil itu? Apakah kita bisa membicarakan sebuah perubahan pada diri, pada kelompok, masyarakat, ataupun negara? Sangat bisa sesungguhnya, untuk membuat diri mati dikenang: karena apa lagi tujuan manusia dihidupkan? Seperti Gus Dur misalnya, yang melampaui pandangan kebanyakan, menembus batas pengertian keimanan kebanyakan orang. Kontrakan daerah Sapen, belakang Hotel Shafir, pinggir rel, tampaknya belum ada suasana itu. Tetapi jangan lihat itu, karena di sana ada kekayaan: pribadi-pribadi yang potensial, yang ingin tahu tentang sesuatu, buku-buku, fasilitas informasi, pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran

Menikmati sesuatu dalam batasnya. Sebuah buku tentang pribadi Rasulullah berada pada sebuah tumpukan. Judul buku itu menjadi menarik karena ia terasosiasi dengan pencarianku beberapa waktu terakhir ini. Hanya satu sifat Rasul yang paling teringat: bahwa ia semakin sabar jika tekanan semakin besar. Ia semakin tersenyum jika diperlakukan semakin kasar. Wajar jika perang terbesar adalah perang melawan kekerasan pada diri.

Kereta Progo dari Stasiun Lempuyangan membawaku meninggalkan Jogjakarta. Di antara tiga mahasiswa dan seorang lelaki berambut gimbal, kereta Progo membawaku pada jalur-jalur baru, keindahan-keindahan baru. Langit masih bersinar, rumput masih menampakkan hijaunya. Semakin banyak sesuatu yang baru, semakin terasa aku tak pernah ke mana-mana. Semakin kecil rasanya.

Perbincangan terbina antara aku dan para lelaki di sekitarku. Perbincangan tentang negara yang mengenaskan, yang mengerikan. Lelaki muda tepat di sampingku mulai perbincangan dengan menyoal komersialisasi pendidikan. Ia bertanya mengapa prosentase masuk kelas pada mahasiswa adalah 75 persen? Tidak 50 persen saja. Jawabannya cukup panjang, dimulai dengan peristiwa Malari tahun 1974. Pemuda berkulit putih dengan rambut gondrong itu menyoal pula soal kekayaan minyak dan tambang emas di Papua yang mestinya bisa menggratiskan pendidikan jika semua hasilnya dikelola oleh negara. Heeeehhh…..kita saling melengkapi data kebobrokan negara, kemudian mengatakan, “Sangat mengerikan”. Berbayang-bayang pada masa depan, tentang biaya sekolah anak-anak, kemudian saling setuju hal itu menakutkan. Generasi hari ini sudah dilanda ketakutan atas komersialisasi pendidikan, bagaimana besok?

Pemuda tepat di depanku tampaknya tertarik pada pembicaraan itu. Ia kemudian menimpali. Pengetahuannya luas, tentang perekonomian, tentang sejarah, pun tentang hukum. Ia mengatakan sedikit rahasia kekayaan Singapura yang diperoleh dari bumi Indonesia. Lengkaplah kekacauan di negara ini. Semakin banyak dan menumpuk dari hari ke hari. Jadi teringat pada perbincangan di Malang beberapa waktu lalu: kebijakan-kebijakan negara kita putus sama sekali dengan aspirasi masyarakat. Tidak ada yang menggambarkan kebutuhan rakyat. Indonesia berhasil mengadopsi teori-teori demokrasi, tetapi gagal mengadopsi spiritnya. Demokrasi Indonesia seperti tak berurat akar, yang kelimpungan, yang mudah goyah, yang elit.

Any Rufaidah
Depok, 1 Februari 2010

Read More......

Hegemoni: Antonio Gramsci

1.11.2010


Sekilas tentang Gramsci
Antonio Gramsci lahir di Ales, Propinsi Cagliari, Pulau Sardinia, Italia pada 22 Januari 1891. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Francesco Gramsci dan Giuseppina Marcias. Gramsci kecil pernah mengalami masalah dengan tulang belakang karena jatuh dari gendongan pengasuh. (Rosengarten dalam www.marxists.org). Gramsci kecil juga menderita karena masalah keuangan keluarga. Francesco dipecat (1897) dari pekerjaan sebagai kolonel karena diduga melakukan “kecurangan administratif”. Pada 1898-1904 Francesco dipenjara terkait masalah sikap oposisi politiknya (Patria dan Arif, 1999 dalam Arif dalam www.averroes.or.id). Tak lama setelah Francesco dipenjara, Giuseppina membawa Gramsci bersaudara pindah ke Ghilarza. Di sana Gramsci menyelesaikan pendidikan dasarnya.


Pada usia 11 tahun hingga dua tahun berikutnya Gramsci bekerja di kantor pajak Ghilarza untuk membantu kesulitan finansial keluarganya. Meskipun demikian Gramsci tetap menyempatkan diri belajar privat. Di sekolah ia unggul dalam akademik. Nilai semua mata pelajaran yang ia ikuti masuk dalam kategori sempurna.

Sekolah menengah pertama ditempuh di Santu Lussurgiu, sekitar sepuluh mil dari Ghilarza. Setelah itu melanjutkan ke Dettori Lyceum di Cagliari. Di Cagliari Gramsci tinggal bersama sang kakak, Gennaro. Selama sekolah, Gramsci mulai bersinggungan dengan organisasi pekerja dan politik radikal dan sosialis. Gramsci masuk pada Fakultas Sastra Universitas Turin, Italia, setelah memenangkan beasiswa. Di universitas ini karakter intelektualnya terbentuk (Rosengarten dalam www.marxists.org)

Universitas Turin sekaligus menjadi tempat bertemunya Gramsci dengan Angelo Tasca dan beberapa orang yang bisa diajak share mengenai Italian Socialist Party (PSI). Pada 1913 Gramsci bergabung dengan PSI. Pada 1914 menjadi staf editor tetap bagi Mingguan Partai Sosialis, Il Grido del Popolo(Jerit Tangis Rakyat). Selanjutnya pada 1916 tercatat sebagai kolumnis terbitan Partai Sosialis lainnya, Avanti (Patria dan Arif, 1999 dalam Arif dalam www.averroes.or.id).

Oktober 1917 meletus Revolusi Bolshevik oleh para buruh. Gerakan ini membakar semangat revolusi Gramsci. Sesudah itu, pada 1919, Gramsci bersama Angelo Tasca, Umberto Terracini, dan Togliatti mendirikan L'Ordine Nuovo: Rassegna Settimanale di Cultura Socialista (The New Order: A Weekly Review of Socialist Culture). Mingguan ini banyak menyorot politik dunia, antara lain di Eropa dan Amerika.

Gramsci menjadi anggota komite pusat Italian Communist Party/Partito Comunista d’Italia (PCI) pada 1921. Tetapi ia tidak bermain terang-terangan di partai ini hingga beberapa tahun. Lebih banyak waktunya digunakan untuk memikirkan strategi menghadapi gerakan Mussolini yang akan menggulingkan demokrasi dan sosialisme Italia.

Kurun waktu 1922-1923 Gramsci menjadi delegasi Italia dalam komunis internasional di Moskow. Setelah masa kepemimpinan itu, pada 1926 pemerintahan Mussolini memenjarakannya di penjara tersohor Roma, Regina Coeli. Gramsci divonis lima tahun penjara kemudian ditambah menjadi 20 tahun. 4 Juni 1928 Gramsci dan pemimpin PCI lainnya dipindahkan ke penjara Turi. Selama menjadi tahanan politik, atas bantuan Pierro Straffa, Gramsci menulis yang sekarang dikenal Prison Notebooks.

Gramsci meninggal di Roma pada 27 April 1937 setelah kondisi kesehatan pada tahun-tahun sebelumnya sangat buruk. Setelah Perang Dunia II, notebook yang berjumlah lebih dari 30 buah dipublikasikan dan mendapat pembaca sangat luas termasuk di negara dunia ketiga. Di antara pemikiran Gramsci, yang paling terkenal adalah “Hegemony” (Rosengarten dalam www.marxists.org).

Hegemoni
Tafsir atas hegemoni Gramsci mengatakan hegemoni berarti “kepemimpinan moral dan filosofis”, kepemimpinan yang dicapai lewat persetujuan yang aktif kelompok-kelompok utama dalam suatu masyarakat (Bocock, 2007:1). Sedangkan Steve Jones memahami hegemoni Gramsci sebagai cultural and political leadership (Jones, 2006:3). Ditinjau dari istilahnya, kepemimpinan meluas pada arti proses/operasi, pembentukan/pengarahan. Sementara jika ditinjau dari ruangnya, hegemoni bekerja pada wilayah yang menyeluruh: moral, filosofi, budaya, dan politik. Dari ruang tersebut bisa dipahami bahwa hegemoni bekerja melalui instrumen-instrumen yang sangat masif, yaitu negara, modal, agama, pendidikan, media massa, dan lain sebagainya.

Teori hegemoni Gramsci berangkat dari refleksi terhadap marxisme yang ekonomisme, yang memandang perekonomian –perekonomian adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan bentuk dominan produksi dalam suatu wilayah dan waktu tertentu. Perekonomian terdiri dari sarana teknis produksi dan hubungan-hubungan sosial yang dibangun berdasarkan kepemilikan atas sarana produksi (lihat Bocock, 2007:34-35) –sebagai pusat terjadinya masalah sosial. Ketika masalah dalam perekonomian selesai, maka selesai pula masalah sosial. Gramsci melihat pandangan itu keliru. Menurutnya, apa yang terjadi pada kehidupan sosial tidak hanya karena pengaruh perekonomian, tetapi juga karena negara dan lembaga-lembaga masyarakat. Dengan kata lain, Gramsci ingin menekankan aspek lain yang tak kalah penting dari pemikiran Marx: politik. Gramsci melihat hegemoni tidak hanya terjadi pada kelas-kelas tertentu yang dibedakan berdasarkan ekonomi, tetapi juga pada masyarakat sipil yang jauh lebih kompleks.

Gramsci terinspirasi pula oleh apa yang dilakukan Vladimir Ilyich Ulyanov (Lenin) dalam usaha mendapatkan dukungan rakyatnya. Misalnya pada saat menghadapi Tsarisme. Lenin sadar dirinya harus mendapat dukungan sebagian besar rakyatnya agar dapat menggulingkan Tsarisme. Lenin kemudian memikirkan strategi untuk mencapai kesadaran para pekerja untuk beraliansi dengan kelompok-kelompok lain, yang di dalamnya termasuk kritikus borjuis, petani, dan intelektual. Kesadaran kelompok-kelompok ini bagi Lenin merupakan modal utama untuk menggulingkan Tsarisme. Lenin menyebarkan pengetahuan politik kepada para pekerja dan membaurkan para pengikut Partai Sosial Demokrat dengan segala kelas di masyarakat untuk mencapai kesadaran yang ia inginkan (Bocock, 2007:22-23). Apa yang dilakukan Lenin itulah yang disebut Gramsci sebagai contoh hegemoni. Hegemoni beroperasi pada ranah suprastruktur. Oleh karena itu, seperti telah disampaikan di muka, hegemoni dicapai melalui persetujuan-persetujuan masyarakat, bukan dengan cara pemaksaan-pemaksaan fisik.

Sampai di sini mungkin muncul pertanyaan tentang nilai hegemoni, mengingat hegemoni dicapai melalui persetujuan kelompok-kelompok utama dalam masyarakat. Persetujuan tidak mengandung makna negatif, tetapi justru sebaliknya. Suatu tindakan, aturan, atau kebijakan yang diambil berdasarkan persetujuan berarti baik. Dengan kata lain, hegemoni tidak berkonotasi negatif, karena ia dicapai melalui persetujuan. Jika muncul pernyataan demikian sebaiknya dipinggirkan terlebih dahulu. Ulasan Bocock soal strategi Lenin yang disampaikan di atas bisa ditinjau kembali. Dari ulasan tersebut bisa dipahami bahwa sesungguhnya persetujuan para pekerja terhadap Lenin adalah persetujuan semu. Artinya, persetujuan tidak dicapai secara murni oleh para pekerja sendiri. Ada kekuatan lain yang membentuk/mengarahkan sehingga tercapai persetujuan. Pada titik ini, hubungan dialogis yang menjadi poin krusial dari persetujuan perlu diragukan.

Dalam ulasan yang disampaikan oleh Bocock di atas, Lenin sadar betul dirinya mesti memberi pendidikan politik kepada para pekerja sebagai usaha memperoleh dukungan untuk menggulingkan Tsarisme. Ada tujuan dan ada kesadaran untuk membentuk/mengarahkan sehingga publik menyetujui. Lenin mengikat para pekerja dan kelompok-kelompok lainnya dalam satu ideologi dengan tujuan menghancurkan Tsarisme. Di sinilah hegemoni menunjukkan nilainya.

Any Rufaidah, 12 Januari 2010

Daftar Bacaan
Bocock, Robert. 2007. Pengantar Komprehensif untuk Memahami Hegemoni, terj. Ikramullah Mahyuddin. Yogyakarta: Jalasutra.

Jones, Steve. 2006. Antonio Gramsci. New York: Routledge.

Rosengarten, Frank. An Introduction to Gramsci's Life and Thought. www.marxists.org with the kind permission of Frank Rosengarten.

Arif, Saiful. Lebih Jauh dengan Gramsci. www.averroes.or.id.

Read More......

Irshad Manji

12.26.2009

Irshad Manji (41) adalah Muslimah kelahiran Uganda yang hidup di tengah “tradisi” kekerasan dan perbudakan. Di usia empat tahun, ia dibawa berimigrasi ke Kanada. Imigrasi adalah satu-satunya pilihan ribuan warga Uganda sebagai konsekuensi kediktatoran Idi Amin Dada untuk membersihkan warga selain kulit hitam. Tidak ada pilihan bagi kulit berwarna untuk tinggal kecuali dengan mengorbankan nyawa. Kediktatoran Amin Dada beberapa generasi berikutnya benar telah usai, tetapi kekerasan dan perbudakan tidak beringsut sedikit pun. Hanya perbedaan objek saja. Kali ini adalah terhadap orang-orang berkulit hitam.


Irshad adalah sosok kritis. Sejak kecil ia sudah mempertanyakan hal-hal besar yang dilihatnya. Mengapa ada perbudakan pada keluarga-keluarga Muslim?, ada apa dengan Islam?, hingga remaja dan dewasa pertanyaan tersebut semakin penting baginya. Suasana lebih demokratis di Kanada adalah iklim yang cocok bagi Irshad untuk berpikir tentang hal-hal “nakal” tersebut. Suasana itu yang pada akhirnya mendukung sosok Irshad tumbuh sebagai pemberani, atau dalam penamaannya adalah Muslim Refusenik.

Irshad kecil diasuh oleh suster-suster Gereja Baptis Rose of Sharon. Irshad dan kakaknya sering dititipkan di sana sampai orangtua mereka usai bekerja. Hari-hari di gereja memberikan banyak pelajaran bagi Irshad. Ia mempelajari injil, dan seperti biasa mempertanyakan apapun yang dilihat dan didengar mengenai agama. Kekritisan membawa Irshad yang kala itu masih delapan tahun mendapat penghargaan tahunan sebagai Orang Kristen Paling Menjanjikan.

Namun sayang bagi Irshad, penghargaan justru memotivasi sang ayah untuk mengambilnya dari gereja. Madrasah adalah tempat yang harus dimasuki berikutnya. Madrasah yang terletak di Richmond itu beriklim tidak nyaman bagi Irshad. Pola pendidikannya dipenuhi dengan otokrasi dan pembedaan. Pengkotak-kotakan laki-laki dan perempuan dalam batas-batas yang tidak semestinya dilakukan secara “normal”. Doktrinasi yang mensaratkan pembungkaman terjadi dengan wajar di sana. Irshad, sebagai anak kritis sering mendapat perlakuan tidak nyaman dari pengajar akibat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Ia pernah diusir pula akibat kekritisan yang tak umum itu.

Pendidikan tingkat pertama Irshad diselesaikan di J.N. Burnett. Jiwa kepemimpinan Irshad teraktualisasi di sana, yaitu dengan menjadi ketua Osis. J.N. Burnett memberi pelajaran sekaligus perbandingan antara otokrasi dan demokrasi. Antara budaya Muslim Afrika Timur dengan Kristiani di tempatnya sekarang. Perbandingan otokrasi dalam masyarakat Muslim dan demokrasi dalam masyarakat Barat adalah hal besar yang membawanya menjadi pemburu kebenaran. Seperti musafir di padang pasir, Irshad kehausan jawaban atas pertanyaan mengenai agama dan realitas kehidupan Islam. Menyelinap ke perpustakan yang tak boleh ia masuki sebagai perempuan hingga menjadi apa yang ia sebut “tikus mall” untuk mendapatkan Al Qur’an berbahasa Inggris dilakukan untuk mencari jawaban atas makna Islam.

Irshad dewasa bekerja sebagai pemandu acara bernuansa dialog agama di Queer Television. Proses belajar yang telah ditempa dengan cara yang tak biasa membuatnya lihai berbicara tentang agama. Memproduksi acara TV dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tayangan adalah rutinitas padat yang harus ia lalui. Di samping itu, melayani dan menjawab berbagai “serangan” yang ditujukan padanya sebagai Muslimah liberal adalah kesibukan yang tak kalah menyita waktu. Pertanyaan tentang ketuhanan sampai pilihan seksual sebagai lesbian menjadi tema yang harus ia jawab. Tetapi itu yang membuat Irshad terus berintrospeksi dan mempelajari agama secara lebih mendalam.

Selain sebagai seorang Muslim liberal, Irshad tanpa ragu menyebut dirinya feminis. Penobatan diri sebagai feminis bukan hanya keputusan ikut-ikutan bagi Irshad. Ia mengambilnya sebagai sebuah kesadaran. Kesadaran atas penindasan terhadap perempuan, khususnya pada budaya Arab yang mengaku paling Islam. Hingga hidupnya kini, Irshad tetap teguh memegang keyakinannya sebagai Muslimah yang disebutnya refusenik, orang yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi, dan sebagai feminis.

Irshad menulis karya The Trouble with Islam Today: A Wake-up Call for Honesty and ChangeKarya tersebut mengundang kontroversi di kalangan Muslim. Beberapa negara Islam melarang bestseller internasional tersebut masuk ke wilayahnya. Irshad juga harus ekstra menjaga diri karena teror setelah terbitnya karya tersebut. Hal itu menjadi alasan untuk tidak berumah tangga atau memiliki anak pula.

Meski demikian, The Trouble with Islam Today kini telah tersebar di 30 negara. Dalam edisi Indonesia, Irshad memberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Terbitan pertama edisi Indonesia baru pada bulan April 2008 atau tiga tahun setelah edisi bahasa Inggris. Pemikiran Irshad memang belum dikenal luas, tetapi pada kalangan pemikir Islam generasi muda dan gerakan perempuan nasional, misalnya pada Wahid Institute dan Koalisi Perempuan Indonesia, ia diterima dengan terbuka (Vintage, Canada: 2005).

Atas pemikiran dan keberaniannya, beberapa lembaga memberi Irshad penghargaan. Oprah Winfrey memberi Chutzpah Award atas keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya. Majalah Ms. Menjuluki Irshad sebagai Feminis Abad 21. Maclean’s memberi penghargaan Honor Roll 2004 sebagai ”Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh” dan The Jakarta Post mengakuinya sebagai satu dari tiga Muslimah yang mampu membawa perubahan positif dalam Islam.

Irshad kini menekuni aktivitas di beberapa bidang. Sebagai mentor mahasiswa muda dengan spesifikasi hak asasi manusia dan kebijakan publik pada The Pierre Trudesu Foundation Montereal, Kanada, sebagai dewan editorial antariman di majalah Seventeen New York, dan menangani Project Ijtihad, lembaga yang dirintis untuk pergerakan reformasi liberal bagi para Muslim muda, dijalankan secara bersamaan.
Penyiksaan terhadap pelayan dan pekerja kulit hitam berlangsung “normal” pada keluarga-keluarga Muslim Afrika Timur kala itu. Tidak terkecuali di dalam keluarga Irshad. Pemukulan terhadap Tomasi, pelayan keluarga sudah biasa dilakukan oleh sang ayah.

Bahan Bacaan
Manji, Irshad. 2008. Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umam Islam Saat Ini. Jakarta: Nun Publisher dan Koalisi Perempuan Indonesia.

Any Rufaidah, Depok, 27 Desember 2009
Tulisan ini dipublikasikan pula pada www.averroespress.net


Read More......

Neopsikoanalisis

12.01.2009


Prinsipnya, kelompok neopsikoanalisis mengakui bahwa ketidaksadaran (unconsciousness) berpengaruh sangat luas pada perilaku dan kepribadian manusia. Kedua, ada dinamika psikis yang terjadi pada manusia. Ketiga, pengalaman masa kanak-kanak berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Ketiga prinsip ini yang menjadi dasar penyebutan neopsikoanalisis. Tetapi, sebagai catatan, semua tokoh neopsikoanalisis tidak bersepakat penuh pada teori Freud, terutama tentang dorongan seksual dan agresif dan penis envy. Berikutnya akan dihampiri pemikiran tokoh-tokoh neopsikoanalisis.


Carl Gustav Jung (1875 – 1961)
Sekilas tentang Jung
Jung lahir di sebuah desa kecil di Swiss bernama Kesswil pada 26 Juli 1875. Ayah Jung adalah pendeta desa. Keluarga Jung tergolong cukup berpendidikan. Pada usia enam tahun Jung mendapat pelajaran bahasa Latin dari sang ayah. Jung tamat studi kedokteran dari Universitas of Basel, Swiss dengan spesialisasi psikiatri. Pada 1905 ia mengajar psikiatri di Universitas Zürich, Swiss, dan mulai praktik psikiatri di bawah bimbingan Eugene Bleuler, orang pertama yang mencetuskan nama skizofrenia. Mulai melakukan korespondensi dengan Freud setahun berikutnya. 1907 Jung bertemu dengan Freud di Wina. Jung pernah berbincang-bincang selama 13 jam bersama Freud. Kehadiran Jung sangat berarti bagi Freud.

Pada tahun-tahun berikutnya, Jung terlibat semakin jauh dalam perkumpulan psikoanalisis. Bahkan ia sempat menjadi ketua himpunan psikoanalisis pada 1910. Antara 1913-1914 Jung mulai tidak bersepakat pada teori-teori Freud. Atas dasar itu ia memutuskan hengkang dari Freud. Jung meninggal di Zürich pada 6 Juni 1961 (K. Bertens (pengantar) dalam Freud, 1991) dan Boeree, 2005).

Teori-Teori Jung

Setelah keluar dari himpunan psikoanalisis, Jung mengembangkan apa yang disebutnya psikologi analitis. Dari usaha tersebut Jung menghasilkan konsep-konsep mengenai manusia. Menurutnya, manusia/self mempunyai tiga elemen: ego, ketidaksadaran personal (personal unconscious), ketidaksadaran kolektif (collective unconscious). Ego adalah element of self yang disadari yang memberi petunjuk bagaimana individu berperilaku. Ego berisi persepsi-persepsi dan perasaan-perasaan sadar.

Ketidaksadaran personal adalah bagian self yang berisi pengalaman-pengalaman individual yang telah direpresi. Meski disebut ketidaksadaran, elemen ini masih bisa dibuat sadar. Sedangkan ketidaksadaran kolektif adalah elemen yang bersifat universal, dari berbagai generasi, bukan individual. Elemen ini sangat sulit disadari. Contoh ketidaksadaran kolektif adalah pengalaman kreatif para seniman atau musisi di seluruh dunia dari sepanjang masa, pengalaman mistikus dalam seluruh agama, kemiripan dalam mimpi, fantasi, mitologi, dongeng, sastra, atau pengalaman mati suri. Orang mati suri memiliki pengalaman yang sama, yaitu: meninggalkan raga dan dapat melihatnya, seperti masuk terowongan, bertemu dengan keluarga atau tokoh-tokoh religius, dan lain sebagainya.

Ketidaksadaran kolektif berisi apa yang disebut archetype. Konsep archetype sama dengan insting dalam konsep Freud. Tiga archetype yang paling penting menurut Jung adalah anima, animus, shadow. Anima adalah archetype kewanitaan pada diri laki-laki, animus adalah archetype laki-laki pada wanita, dan shadow adalah archetype kebinatangan atau disebut pula sisi jahat manusia. Archetype-archetype yang lain antara lain archetype ayah, ibu, anak, pahlawan, gadis, orangtua yang bijak, Tuhan, dan sebagainya. Jung memperkenalkan pula persona, yaitu karakter yang kita tampilkan pada saat berada di lingkungan. Archetype-archetype yang telah disebutkan muncul dalam persona, meski kemunculannya bersifat tidak disadari.

Bagian lain yang penting dari pemikiran Jung adalah proses pengembangan diri yang disebut proses individuasi. Menurut Jung, diri akan berkembang menuju satu titik yang stabil. Untuk mencapai titik tersebut, orang harus mampu menyelaraskan perasaan atau dorongan yang saling beroposisi dalam diri. Untuk mencapai keselarasan tersebut orang harus mampu membuat sadar perasaan atau dorongan yang tidak disadari (Glassman & Hadad, 2009 dan Boeree, 2005).

Intisari Pemikiran Jung

Prinsip Jung tidak jauh berbeda dengan Freud, bahwa manusia adalah entitas yang berkonflik. Manusia adalah entitas yang terdiri dari kesadaran dan ketidaksadaran dan memiliki archetype-archetype yang saling beroposisi. Atas dasar itu Jung menyimpulkan kepribadian introvers dan ekstrovers: kepribadian yang berfokus pada diri sendiri dan kepribadian yang berfokus pada dunia luar.

Bersambung….

Bahan Bacaan
Boeree, C. George. (2005). Sejarah Psikologi dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern. terj. Abdul Qodir Shaleh. Jogjakarta: Prismashopie.

Freud, Sigmund. (1991). Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah, terj. K. Bertens. Jakarta: Gramedia.

Glassman, William E. & Hadad, Marilyn. (2009). Approaches to Psychology (5th edition). Berkshire: Open University Press/McGraw-Hill Education.

Any Rufaidah, Depok, 28 November 2009



Read More......

Aliran-Aliran Psikologi

11.13.2009


Tulisan ini adalah kajian mengenai aliran-aliran dalam psikologi. Ada 11 aliran yang akan dibahas: psikoanalisis, neopsikoanalisis, behaviorisme, neobehaviorisme, kognitif, gestalt, humanistik, psikologi biologi, psikologi evolusioner, psikologi fenomenologi eksistensialis, dan psikologi kritis. Sebelum beranjak pada kajian, sebaiknya dipahami terlebih dahulu bahwa pertanyaan besar dalam psikologi adalah: “Apa manusia itu?” Dalam hemat saya, pertanyaan ini perlu ditancapkan dalam otak agar tidak lupa bahwa psikologi mempelajari manusia.


Objek materi psikologi adalah manusia dan objek formanya perilaku. Pertanyaan tersebut boleh jadi terlalu terkesan filosofis, tetapi menurut saya pertanyaan itu yang bisa mengantarkan para pengkaji psikologi pada pokok-pokok yang lebih mendasar, pemahaman yang tak mudah dilupakan. Apalagi beberapa aliran yang muncul benar-benar berangkat dari pertanyaan filosofis. Psikologi fenomenologi eksistensialis misalnya, ia berangkat dari filsafat fenomenologi eksistensialis Friedrich Nietzsche, Søren Kierkegaard, Martin Heidegger hingga Jean-Paul Sartre.

Psikoanalisis
Satu-satunya tokoh psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856 – 1939). Nama asli Freud adalah Sigismund Scholomo. Namun sejak menjadi mahasiswa Freud tidak mau menggunakan nama itu karena kata Sigismund adalah bentukan kata Sigmund. Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia. Saat itu Moravia merupakan bagian dari kekaisaran Austria-Hongaria (sekarang Cekoslowakia). Pada usia empat tahun Freud dibawa hijrah ke Wina, Austria (Berry, 2001:3). Kedatangan Freud berbarengan dengan ramainya teori The Origin of Species karya Charles Darwin (Hall, 2000:1).

Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, terj.,1991:4). Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O. Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O. Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.

Id adalah kumpulan dorongan-dorongan kesenangan, seperti dorongan seksual (libido), dorongan makan, dorongan menyakiti, dan sebagainya. Prinsip id adalah kesenangan (pleasure principle). Id bertempat di alam tak sadar. Lawan id adalah superego. Superego merupakan kumpulan dorongan-dorongan taat terhadap aturan masyarakat, agama, dan lain sebagainya. Prinsip superego adalah moralitas (morality principle). Sebagian superego disadari dan sebagian tidak disadari.

Di tengah-tengah id dan superego adalah ego. Ego sebagian disadari dan sebagian tidak disadari. Prinsip ego adalah realitas (reality principle). Ego berperan sebagai jembatan, yang mengontrol realitas dan mengatur kapan id boleh menyalurkan dorongannya ke kesadaran dan kapan tidak, sesuai dengan realitas yang ada. Jika keadaan tidak memungkinkan penyaluran id, ego akan merepresi id. Tetapi meski telah direpresi, id tidak pernah berhenti berusaha menyalurkan hasratnya dalam kesadaran. Secara terus-menerus id mencoba mendobrak benteng ego. Ego sendiri mendapat tuntutan dari superego untuk menekan id. Di sinilah konsep Freud tentang manusia: manusia adalah entitas yang selalu berdinamika (atau berkonflik).

Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan-keinginannya. Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.

Demikian pula Freud menjelaskan keseleo lidah dan kesalalah-kesalahan kecil sehari-hari. Keseleo lidah menurut Freud disebabkan oleh letupan-letupan dorongan bawah sadar. Misalnya: seseorang bermaksud menyebut Agus, namun yang terucap adalah Lutfi. Menurut analisis Freud, nama Lutfi muncul karena dalam ketidaksadaran ada sesuatu yang berhubungan dengan Lutfi. Mungkin saja seseorang yang salah menyebut itu sangat kecewa pada Lutfi. Ia ingin marah pada Lutfi. Keinginan marah direpresi karena tidak baik menurut norma masyarakat (ketentuan superego). Namun keinginan marah tidak lenyap begitu saja. Ia terus-menerus ingin menerobos pertahanan ego. Letupan-letupan keinginan itulah yang menyebabkan kesalahan menyebut nama (disarikan dari berbagai buku. Antara lain: Tafsir Mimpi, Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari, Pengantar Umum Psikoanalisis).

Karya-karya Freud

Studies on Hysteria (1895), The Interpretation of Dreams (1900), Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on the Theory of Sexuality (1905), Jokes and Their Relation to the Unconscious (1905), Dora Case (1905), Obsessive Actions and Religious Practices (1907), Creative Writers and Daydreaming (1908), Civilized Sexual Morality and Modern Nervous Illness (1908), Delirium dan Mimpi-Mimpi dalam Gradiva Karangan W. Jensen, Little Hans (1909), yang merupakan gambaran kasus Oedipus Complex, Orang dan Tikus (1909), Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah (1910), Sebuah Ingatan dari Masa Anak Leonardo da Vinci (1910), Totem and Taboo (1913), Pengantar pada Narsisme (1914), Pengantar pada Psikoanalisa (1916-1917), Orang dengan Serigala (1918), antara tahun 1918 – 1920: Naluri-Naluri dan Liku-likunya, Represi, Ketidaksadaran, Tambahan Metapsikologis tentang Teori Mimpi, Perkabungan dan Melankoli, Beyond the Pleasure Principle (1920), Ego and Id (1923), Inhibitions, Symptoms, and Anxiety (1926), The Future of an Illussion (1927), Civilization and Its Discontens (1930), Moses and Monotheism (1939).

Intisari Pemikiran Freud

Manusia adalah entitas yang berdinamika (atau berkonflik).

Manusia dikuasai oleh dorongan-dorongan yang tidak disadari. Perilakunya dipengaruhi oleh dorongan-dorongan yang tidak disadari.

Kepribadian manusia terbentuk dari pengalaman masa lalunya.

Gangguan psikologis adalah letupan-letupan dorongan yang tidak disadari. Gangguan psikologis terjadi jika dorongan yang tidak disadari sangat kuat sementara ego tidak mampu merepresi atau membuat defence mechanism.

Cara menyembuhkan gangguan psikologis adalah asosiasi bebas dan katarsis: meluapkan apa pun yang dirasakan.

Dalam kaitan dengan tatanan masyarakat, menurut Freud tatanan masyarakat dibentuk untuk merepresi dorongan-dorongan primitif yang tidak disadari.

Bahan Bacaan
Berry, Ruth. 2001. Freud: Seri Siapa Dia?. terj. Frans Kowa. Jakarta: Erlangga.

Freud, Sigmund. 1991. Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah. terj. K. Bertens. Jakarta: Gramedia.

------------------ 2001. Tafsir Mimpi. terj. Apri Danarto, Ekandari Sulistyaningsih, Ervita. Yogyakarta: Jendela.

------------------ 2002. Totem dan Tabu. terj. Kurniawan Adi Saputro. Jogjakarta: Jendela.

----------------- 2005. Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari. terj. M. Sururi. Pasuruan: Pedati.

----------------2006. Pengantar Umum Psikoanalisis. terj. Haris Setiowati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hall, Calvin S. 2000. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. terj. S. Tasrif. Yogyakarta: Tarawang.

Any Rufaidah, Depok, 13 November 2009

Read More......