Bersyukur di
pintu keluar bandara ada seorang bapak yang memegang tulisan nama Any Rufaedah.
Dia adalah sopir dari panitia. Saya menyapa Pak Sopir sambil berjalan ke arah
parkiran. Herannya Pak Sopir ini diam saja saat saya tanya. Saya pikir awalnya
karena tidak bisa berbahasa Inggris. Ternyata dia sedang nginang (mengunyah sirih dan tembakau). Saya baru tahu setelah dia
meludahkan kinangannya. India memang terkenal dengan tradisi nginang. Di Indonesia juga banyak dijumpai
pada orang tua di Jawa, atau hampir seluruhnya untuk warga Papua. Nginang seperti merokok. Alasannya
biasanya untuk menguatkan gigi.
Pak Sopir
membawa saya ke guest house dekat
Universitas Calcutta. Di tengah jalan Bidhisa Mukherjee menelepon untuk menyapa.
Bidhisa adalah panitia yang mengurus administrasi keberangkatan saya, mulai
dari mengirim undangan sampai ticketing. Dia bekerja di lembaga pengundang. Bidhisa
adalah sosok yang tegas. Dia menekuni feminisme. Saat ini sedang menyelesaikan
program Ph.D-nya.

Sekitar 1 jam perjalanan, saya sampai di guest house. Setelah sedikit proses administrasi untuk konfirmasi, salah seorang karyawan mengantarkan saya ke kamar. Suasananya nyaman, tak seperti semrawutnya lalu lintas di luar. Di lantai saya ada 2 orang karyawan yang melayani. Mereka masih muda. Usianya kira-kira 20 tahun. Tentu saja mereka sangat ramah. Kalau sedang bercakap-cakap, mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala gaya khas India.

Sore harinya,
kawan yang saya kontak melalui facebook dengan difasilitasi Mbak Iim, teman di
AMAN, datang ke Guest House. Namanya Priyanka Dutta. Usianya 3 tahun lebih muda
dari saya. Dia sosok yang cerdas. Pikirannya maju. Tahun 2012 saya ketahui dia
mengambil development studies di
Inggris, sebuah prestasi yang cukup membuktikan gambaran saya tentangnya. Dalam
pertemuan sore itu, kami bercerita banyak hal. Meski belum pernah ketemu
sebelumnya, keinginan gadis tomboy ini untuk membantu sangat besar. Dia
menanggapi ajakan diskusi saya tentang materi presentasi yang akan saya bawakan
besok harinya dengan total. Terjadilah diskusi mendalam sore itu. Sekitar 1 jam
berikutnya, Bidhisa datang untuk menyapa dan memastikan saya nyaman. Bidhisa
tak kalah ramah meski ketegasannya sangat tampak terlihat. Bidhisa memastikan
Priyanka akan banyak menemani saya selama di Calcutta. Yang paling penting,
Bidhisa memberi penginapan sampai 5 hari seperti jadwal saya di sana. Padahal
penginapan mestinya hanya 3 malam.
Singkat
cerita, Bidhisa pamit, kemudian Priyanka juga. Saya pun istirahat. Malam itu
kemudian datang peserta lain dari Myanmar. Dia adalah teman sekamar saya selama
2 malam ini. Besoknya kami berangkat bersama ke Calcutta University dengan
dijemput Pak Sopir kampus. Priyanka tidak ketinggalan. Dia datang menemani. Calcutta
University adalah universitas tua dan ternama di India. Bangunannya tidak mewah,
bahkan terlalu sederhana untuk ukuran universitas besar. Ruangan konferensi
kami hanya seperti ruangan kelas, bukan hall besar. Desain acaranya memanglah
sebuah diskusi terfokus (FGD). Namun yang datang di situ orang-orang top. Direktur
Women’s Studies Research Centre, Prof. Ishita Mukhopadhyay, hadir di
tengah-tengah kami diserta seorang professor di bidang kebijakan publik
Calcutta University. Pesertanya juga para aktivis perempuan hebat di negaranya,
di antaranya Bangladesh, Srilanka, dan India sendiri. Seperti mendapat anugerah
besar dan rejeki yang tak ternilai harganya dapat hadir di forum tersebut.

Jakarta, 4
Nopember 2013. 00.19
Bersambung….