6.18.2013

Framework Pendidikan Perdamaian Lederach

Any Rufaedah 

Menyusul banyaknya kasus kekerasan di Indonesia, banyak orang bertanya mengenai sumber kekerasan dan bagaimana mengatasinya. Berbagai jawaban pun muncul. Ada yang menjawab penyerangan dilakukan karena kepentingan politik, ada yang menjawab karena kekecewaan masyarakat atas ketidakadilan sosial (misalnya kemiskinan), karena penafsiran agama yang terlalu kaku, dan sebagainya.

Psikologi adalah ilmu yang banyak mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Para pakar psikologi diundang dalam seminar-seminar untuk keperluan tersebut. Psikologi memang memberi banyak perhatian pada kasus-kasus kekerasan. Banyak pakar telah mengeluarkan teori-teori untuk menjawab masalah tersebut. Sebut saja Gustave Le Bon, Daniel J. Christie, dan tokoh-tokoh psikologi klasik Konrad Lorenz dan Sigmund Freud.
Secara garis besar, dalam psikologi terdapat tiga paradigma besar mengenai kekerasan. Pertama, paradigma biologis. Dalam paradigma ini, kekerasan dilihat sebagai insting bawaan. Salah satu tokoh yang meyakini pendapat ini adalah Konrad Lorenz, ilmuwan peraih Nobel Tahun 1973 di bidang fisiologi dan kedokteran. Ia mengatakan setiap orang dan spesies lainnya membawa insting berkelahi (fighting instinc). Setiap spesies memahami isyarat stimulus-stimulus yang ada dan mampu meresponnya secara otomatis. Seorang anak kecil yang menyerang saudaranya karena mainannya diambil adalah respon yang bersifat naluriah. Namun tujuan melakukan perkelahian menurut Lorenz (1966) adalah untuk mempertahankan diri (survive). Kedua, paradigma frustrasi-agresi (dikembangkan oleh John Dollard dkk sejak 1939). Paradigma ini mengatakan bahwa kekerasan/penyerangan disebabkan oleh rasa frustrasi, yaitu gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan (Dollard dkk, 1939, dalam Wrightsman, 1977). Ketiga, paradigma Model Umum Agresi (General Aggression Model/GAM), dipelopori oleh Craig A. Anderson dkk sejak tahun 1996. Menurut paradigma ini, perilaku menyerang disebabkan oleh berbagai macam variabel, baik yang berasal dari pelakunya, misalnya suasana hati, pikiran, karakter mudah marah, atau dari stimulus eksternal. Paradigma GAM tidak bisa disebut behaviorisme, biologis, atau kognitif saja, karena ia mengakui faktor internal dan eksternal dapat memicu perilaku kekerasan.
Itulah ulasan singkat mengenai teori-teori kekerasan dalam psikologi. Namun, dalam tulisan ini, penulis tidak hendak mengulas lebih dalam teori-teori tersebut (termasuk kritik-kritiknya), melainkan sedikit teori seorang profesor sosiologi dan studi konflik, John Paul Lederach. Lederach dalam salah satu bukunya, Preparing for Peace (1996), menyampaikan sebuah framework yang layaknya digunakan oleh aktor-aktor yang berkecimpung dalam pembangunan perdamaian. Framework itulah yang akan penulis sampaikan dalam tulisan ini. Secara spesifik, uraian ini adalah jawaban singkat terhadap pertanyaan “Bagaimana mengatasi konflik (yang sering berujung pada kekerasan)?”
Lederach menyebut konsepnya tersebut dengan “An Intergrated Framework for Training”. Ia terdiri dari popular education, appropriate technology, dan ethnography. Popular education adalah konsep yang diusung oleh Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan yang namanya sudah tak asing di Indonesia –sekadar untuk mereview, popular education menjelaskan macam-macam kesadaran, yakni kesadaran tertutup, kesadaran naif, kesadaran terbuka, dan kesadaran kritis. Secara singkat, popular education mengatakan syarat utama untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik adalah kesadaran kritis. Kesadaran kritis sendiri dicapai hanya dengan melalui pengetahuan. Individu yang masih memiliki kesadaran tertutup tidak mungkin bisa begitu saja menyadari adanya masalah jika tidak diberi/mendapat pengetahuan. Oleh karena itu, menurut Lederach, popular education harus menjadi framework bagi para aktor yang ingin mencegah terjadinya kekerasan/penyerangan.
Komponen kedua adalah appropriate technology (teknologi tepat guna). Konsep ini dimunculkan di tengah kritik terhadap model pengembangan masyarakat yang berbasis transfer (yang dinilai problematik). Menurut Lederach, pendekatan yang tepat untuk membangun perdamaian (di dalamnya menyangkut membangun cara berpikir toleran/damai) adalah kontekstualisasi. Kontekstualisasi di sini berarti  menggunakan pengetahuan lokal dan menghadapkan individu/masyarakat pada konteks masalah yang sebenarnya. Dalam hemat Lederach, fasilitator pembangunan perdamaian selayaknya mengajak individu/masyarakat untuk menggali nilai-nilai perdamaian dengan cara yang tersedia dalam kultur mereka sendiri (indigenous knowledge). Kedua, dalam proses pembangunan perdamaian, fasilitator selayaknya mengajak individu/masyarakat agar bersedia berbagi pengetahuan satu sama lain dengan fokus pada realitas dan masalah yang mereka hadapi.
Komponen ketiga adalah etnografi. Sebagaimana dikenal dalam antropologi atau sosiologi, etnografi adalah metode penelitian yang menekankan pada kedalaman. Lederach mengajukan metode ini dalam upaya pembangunan perdamaian. Secara singkat, Lederach mengatakan bahwa fasilitator pembangunan perdamaian layaknya menggunakan metode etnografi agar pemetaannya terhadap sumber konflik mendalam. Dengan demikian, cara yang tepat untuk mencegah dan mengatasi konflik tidak salah sasaran.
Framework Lederach hanya salah satu dari sekian banyak yang ada. Tidak ada yang tahu secara pasti model mana yang paling efektif. Namun apa pun pendekatannya, dalam hemat penulis semuanya layak digunakan, mengingat masalah kekerasan, penyerangan, konflik, intoleransi semakin lama semakin kompleks, bahkan terkadang tidak dapat diselesaikan.

Bahan Bacaan:
Lederach, J.P. 1996. Preparing for Peace. Syracuse University Press: New York.
Lorenz, K. (1966). On aggression. New York: Harcourt, Brace & World.
Wrightsman, L. S. ( 1977). Social psychology (2nd Ed.). California: Brooks/Cole Publising Company.

Sekitar 2011 - 2012



5.04.2013

Modal dan Tantangan Politik Perempuan


 Any Rufaedah, Pengurus Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PB PMII, Pegiat studi psikologi sosial, Penulis Buku "Freud tentang Manusia: Sebuah pengantar"(2012).

Daftar Caleg Sementara (DCS) telah diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 lalu. Dari wacana-wacana yang berkembang, ada indikasi bahwa partai-partai politik belum siap memenuhi kuota 30% caleg perempuan. Meskipun para aktivis perempuan sudah mewacanakan adanya sanksi bagi partai yang tidak memenuhi kuota 30%, pada kenyataannya parta-partai politik masih mengeluh, bahkan memohon agar tidak ada sanksi. Artinya, ada gerak yang tidak seimbang antara tuntutan pemenuhan kuota dengan kesiapan partai. Tuntunan akan kuota berjalan cepat sementara partai masih jalan di tempat.

Alasan yang paling sering dikemukakan oleh parpol adalah sulitnya mencari perempuan yang mau terjun ke dunia politik. Menurut mereka politik itu keras dan kotor. Meskipun ada banyak perempuan yang sebetulnya memiliki kemampuan di politik, tetapi mereka enggan karena alasan itu. Tersangkutnya politisi-politisi perempuan dalam kasus korupsi menambah keengganan perempuan untuk terjun di politik. Dalam hemat saya, fenomena ini menjadi kritik bagi wajah politik Indonesia saat ini. Bagaimana bisa politik yang dalam filsafatnya adalah cara untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, hari ini justru menakutkan. Mengutip Albert Camus, politik adalah ikhtiar bersama-bersama melawan yang bathil dan bertempur di sisi korban tanpa berharap akan kemenangan absolut (Takwin, 2011).

Ketakutan yang diakui perempuan sekaligus menjadi penanda bahwa politik Indonesia semakin jauh dari landasan hakikinya. Jika tetap pada landasan hakikinya, perempuan justru akan berbondong-bondong masuk politik. Sejarah telah banyak membuktikan bahwa perempuan menjadi aktor-aktor aktif dalam berbagai gerakan kemanusiaan. Sebut saja Anis Hidayah yang memotori perlindungan terhadap buruh migran dan Wardah Hafidz yang mendampingi kasus-kasus penggusuran pada masyarakat miskin kota. Keduanya telah meraih penghargaan internasional atas kegigihannya. Dalam politik pun, perempuan berperan aktif. Pada Februari 1998, dimana negara dalam keadaan Siaga Satu, para aktivis dan akademisi perempuan bergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) untuk mendesak  pemulihan ekonomi, sosial, dan politik yang genting saat itu. Gadis Arivia sebagai penggerak, dengan jelas menyebut demonstrasi SIP di bundarah HI tahun ‘98 adalah gerakan politik. It is about politics, tulisnya.

Secara natural, perempuan adalah pihak yang dekat dengan kehidupan, sebab mereka dikaruniai fungsi reproduksi mulai dari hamil sampai menyusui. Karunia itu mengembangkan naluri menghidupi dan menolak perampasan hidup. Seorang ibu tahu bagaimana ekspresi lapar dan haus dari seorang anak. Sementara politik Indonesia saat ini cocok disebut politik rimba. Siapa kuat itulah yang menang. Perempuan yang terbiasa memberi air susu pada anak dan dididik dalam kultur yang mengharuskannya ramah, tentu tidak sepakat pada politik rimba. Bagi mereka lebih baik bekerja seadanya daripada berurusan dengan dunia yang bertolak belakang dengan nalurinya. Penolakan perempuan pada politik semestinya menjadi cambuk bagi parpol, bahwa perilaku para politisi yang didominasi laki-laki saat ini keras dan kotor. Yang berani mendekat hanyalah orang-orang yang keras dan kotor pula.

Mahalnya Harga Politik
Faktor yang juga menjadi alasan enggannya perempuan terjun ke politik adalah mahalnya biaya untuk nyaleg. Untuk menjadi caleg DPR RI dan DPRD Provinsi membutuhkan uang miliaran rupiah. Untuk tingkat DPRD Kabupaten/Kota membutuhkan ratusan juta rupiah. Kenyataan itu tentu saja membuat caleg berpikir ulang. Perilaku masyarakat yang pragmatis akibat pembiasaan money politic sangat mempengaruhi harga politik saat ini. Adanya ‘mafia-mafia’ caleg juga menambah biaya politik. ‘Mafia-mafia’ itu sengaja hanya mengambil uang caleg sementara kerjanya untuk membantu kampanye tidak seberapa. Jika caleg tidak pandai-pandai merekrut tim kampanye, mereka bisa tercebur dalam permainan ‘mafia-mafia’ itu.

Pencalegan memang membutuhkan biaya, tetapi sebatas untuk biaya cetak alat kampanye, biaya transportasi, dan konsumsi ringan saat pertemuan dengan calon pemilih. Tidak ada dana berlebihan jika yang dikeluarkan hanya untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut. Yang membuat dana bengkak adalah cash money yang dibagi-bagikan kepada calon pemilih. Fenomena itu biasa disebut serangan fajar. Masyarakat yang berpendidikan rendah banyak yang menerimanya. Saya pernah membuktikannya sendiri di suatu daerah. Masyarakat yang lulusan SMP banyak yang menerima uang suap dari tim sukses caleg. Semuanya mereka terima. Yang dipilih adalah caleg yang memberi uang paling banyak.

Praktik itu telah menularkan virus yang sangat merusak politik pada masa-masa berikutnya. Partai politik punya tanggung jawab besar dalam upaya menyudahi money politic. Banyak cara yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah memberi sanksi kepada caleg yang terbukti memberi uang kepada calon pemilih. Meskipun ada pengawas pemilu, pada kenyataannya penindakan hukum tidak berjalan karena terkendala alat bukti dan ketakutan masyarakat untuk menjadi saksi. Partai politik lah yang mampu mengambil peran. Jika money politic berhasil dihentikan, harga politik tentu saja tidak akan mahal. Dengan demikian perempuan tidak perlu takut karena biaya nyaleg yang mahal.

Modal dan Tantangan Politik Perempuan
Sebenarnya perempuan adalah kelompok yang dapat memperbaiki wajah politik Indonesia. Naluri menghidupi, sikap dan perilaku yang ramah adalah modal yang sangat berarti. Selama ini politisi perempuan yang ada di parlemen memang belum mampu menjadi warna baru dalam politik. Mereka masih sebatas ngikut arus yang selama ini diciptakan mayoritas politisi laki-laki. Akibatnya, politisi perempuan seolah hanya jadi pelengkap. Yang lebih parah lagi, mereka terseret dalam kasus-kasus korupsi yang didalangi politisi laki-laki. Semestinya perempuan menggunakan naluri-naluri menghidupinya dalam berpolitik, tidak justru terjebak pada politik keras dan kotor.

Kedua, perempuan memiliki kesolidan yang tinggi. Kita bisa lihat buktinya dalam kehidupan sehari-hari. Jika diajak melakukan aktivitas, ibu-ibu lebih kompak dibandingkan bapak-bapak. Karakter itu terbangun dari kultur yang mendidik perempuan agar lebih berkomunitas. Perempuan Indonesia biasa melakukan berbagai aktivitas secara berkelompok. Dalam tradisi buwuh (membantu orang hajatan) misalnya, perempuan mengerjakan keperluan-keperluan hajatan dengan beramai-ramai. Waktu yang mereka habiskan pun lama. Di situlah terjadi interaksi yang mendalam di antara ibu-ibu. Berbeda dengan laki-laki yang ditekankan untuk mandiri. Laki-laki diberi tanggung jawab sebagai pencari nafkah utama. Itu sebabnya laki-laki lebih sibuk dengan urusan kemandiriannya. Mereka bertindak lebih cepat dan hanya sesuai kebutuhannya, sementara perempuan punya ruang yang lebih banyak untuk interaksi dengan sesama.  

Soliditas yang kuat ini menjadi modal yang sangat penting dalam politik. Dengan soliditas kuat, perempuan bisa menggalang kekuatan sesama politisi perempuan. Kekuatan itu secara bersama-sama kemudian digunakan untuk mempengaruhi sistem dan perilaku politik. Tidak mudah memang, tetapi jika dimulai dan disuarakan terus-menerus maka perubahan wajah politik akan terjadi. Bukankah berani memulai dan konsistensi adalah syarat untuk sebuah perubahan? Selamat berjuang, politisi perempuan.

3.15.2013

Demi Tuhan, Hatiku

“Demi Tuhan, Hatiku.” Itu adalah sebuah judul dalam buku biografi Kahlil Gibran. Kata itu menggambarkan mungkin kebimbangan, mungkin kegelisahan, mungkin dilema, mungkin keputusasaan, dan sejenisnya yang sedang dialami Gibran. Mengapa saya mengutip kata itu? Ya, karena malam ini saya mengalami sebuah kekecewaan yang kemudian memuncak menjadi tangisan. Perasaan itu bermula dari pengalaman penipuan yang saya alami malam ini. Singkatnya saja, saya membeli tiket penerbangan online via FB. Pemilik FB itu sering mengirim promo-promo tiket. Sebelumnya tidak pernah saya gubris. Malam ini saya jadi berpikir pesan ke dia karena asisten orang yang akan membiayai perjalanan saya sudah pada tahap tidak bisa diandalkan. Waktu yang dibutuhkan untuk memesan tiket sudah sangat tidak rasional. Jadwal penerbangannya sampai saya yang carikan sehingga dia tinggal issued, tapi itu juga tidak dilakukan sampai dua hari. Saya telepon ke 4 agen perjalanan, kebetulan terkendala semua. Ada yang tidak jual tiket dengan maskapai itu, ada yang pas kebetulan tidak angkat telepon, dan ada yang belum melayani penerbangan internasional. 

Maka saya chattinglah dengan agen tiket palsu. Saya kasih jadwal kemudian dia kasih harga. Saya langsung minta bookingkan karena jadwalnya memang sudah saya cek. Jadi sebetulnya hanya tidak ingin ribet untuk bayar dengan bank-bank atau kartu kredit yang saya tidak punya. Ini sebuah kesalahan, terlalu berpikir pragmatis, ingin serba instan. Setelah saya tahu harga totalnya cukup untuk keuangan saya, maka saya minta di-issued-kan. Syarat agen palsu adalah transfer terlebih dahulu. Sebelum saya transfer saya menelepon untuk memastikan apakah agen itu benar ada apa tidak. Dia cukup meyakinkan, maka percayalah saya. Dalam alam bawah sadar saya, saya punya pengalaman pesan tiket via online pada agen langganan, dan hasilnya baik-baik saja, sehingga saya tidak curiga berlebihan. Saya meminjam uang teman saya, karena uang untuk tiket itu masih di sponsor dan uang dari sponsor lainnya masih ada di rekening teman. Tidak memungkinkan untuk mengurusi semua itu dalam waktu cepat malam ini, sehingga saya telepon teman saya yang sangat dermawan (sebetulnya karena dia sangat mencintai saya dengan rasa yang tulus saya kira). Proses transfer terjadi kemudian saya minta di-issued-kan. Ternyata email tiket tidak kunjung datang dan agen palsu memblok FB saya. Nomor HP-nya pun tidak aktif. Saya ‘sedikit’ lemas, karena impian tiket clear malam ini tidak terwujud. 

Itu cerita permulaan. Tapiii…yang membuat saya kecewa malam ini sehingga menuliskan “Demi Tuhan, Hatiku” bukanlah itu. Pada akhirnya saya berpikir untuk melapor polisi meski teman yang meminjamkan uangnya pada saya tidak marah atau menyalahkan saya. Dia hanya bilang, “Tenangkan pikiran sampean. Nanti kan ada rejeki lagi.” Saya BBM teman saya yang polisi untuk bertanya apakah ada teman polisi di Jakarta Pusat. Dia bilang tidak punya, tapi dia menyarankan saya untuk melapor ke Polsek terdekat. Jam menunjukkan pukul 23 lewat. Saya memutuskan menuju Polsek Paseban yang jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Yang mendorong saya bukan sepenuhnya “agar uang saya kembali”, tetapi “saya orang yang cukup mengenyam pendidikan dan saya sadar hukum, maka saya tidak boleh membiarkan kasus penipuan lewat begitu saja.” Kedua, saya berpikir kalau kasus penipuan seperti itu bisa diselesaikan, maka kasus-kasus serupa tidak akan terjadi atau merebak, sehingga tidak akan ada korban lagi.

Di Polsek Paseban, setelah saya bercerita pada seorang polisi agak tua yang sedang piket, ternyata saya diarahkan ke Polres karena Polsek-nya itu hanya pospol. Baiklah, saya ikuti sarannya. Saya ambil motor di kos dan melaju ke Polres yang jaraknya juga tidak jauh dari tempat saya tinggal. Lapor ke pos penjagaan saya berhadapan dengan satu polisi yang agak kasar dan satu polisi ramah. Baiklah. Saya diarahkan menuju bagian pelaporan. Polisinya agak muda. Mungkin usia antara 32-35. Oh ya, di samping itu saya juga telah berkomunikasi dengan teman yang sudah transfer untuk tiket saya agar menelepon bank dan memblokir rekening agen palsu. Di ruang pelaporan saya bercerita lagi…bla bla bla. Pak polisi yang saya hadapi sedang memutar lagu-lagu dari komputernya sambil mendengarkan saya bercerita. Karena menurut saya itu adalah tindakan tidak menghargai, saya pura-pura saja memegang telinga sambil mengernyitkan dahi agar dia mengecilkan musiknya. Pura-pura itu berhasil. Akhirnya pak polisi mengecilkan musik. Saya melanjutkan cerita. Daaaann…kesimpulannya adalah, lapor perkara mestinya di Surabaya karena transfernya dari sana. Saya terus bertanya, “Mengapa harus begitu? Rasanya tidak rasional karena saya yang menjadi korban di sini. Teman saya memang yang mengalami kerugian saat ini, tapi saya juga akan membayarnya. Tapi intinya tetap begitu, lapornya harus di Surabaya. Karena sudah malas berdebat lagi, saya segera sudahi saja lah. Pada intinya, dia tidak mau melayani laporan.

Itu pengalaman yang membuat saya sangat galau. Seharusnya Indonesia punya sistem yang cepat, tanggap, dan terpadu. Seharusnya, kalau ada laporan dari korban, polisi bisa segera menindaknya. Jika itu bukan di TKP, dia akan bisa kontak ke Polres TKP. Seharusnya polisi punya greget untuk membasmi kejahatan. Mana ada alasan tidak bisa, karena faktanya semua data WNI bisa diakses oleh Polri dan TNI. Agak mustahil kalau Polri menjawab tidak bisa menangkap pelaku penipuan. Apalagi, pada kasus saya ada nomor rekening pelaku. Dan tentu mereka punya hak untuk ikut campur ke bank dalam upaya penangkapan. Semua sangat mungkin dilakukan, bahkan pada waktu yang sangat cepat. Tetapi, pelapor seolah disuruh tidak melapor. Itu akan menambah pekerjaan saja. Ada kesan pak polisi-pak polisi itu memang tidak mau kerja. 

Demi Tuhan, Hatiku, jadi benar teriakan-teriakan teman-teman aktivis bahwa “polisi kerap melakukan pembiaran.” Saya masih menyangsikan kata teman-teman aktivis bahwa ada pembiaran, tapi faktanya sangat terlihat. Demi Tuhan, Hatiku, jadi wajar jika orang-orang yang kehilangan benda-bendanya, motor, laptop, kamera, mobil, HP dan lain sebagainya memilih tidak melapor. Melapor kadang tidak dipercayai, kadang dianggap mengada-ada, dan sejenisnya. Demi Tuhan, Hatiku, Indonesia tak seharusnya begini. Indonesia seharusnya bisa sangat baik. Demi Tuhan, Hatiku, malam ini tiba-tiba saya menangisi keadaan negeriku yang seolah tak memegang nilai dan komitmen. Demi Tuhan, Hatiku, malam ini tiba-tiba saya punya keinginan untuk pindah kewarganegaraan. Indonesia yang saya akui sangat saya sayangi tiba-tiba ingin saya tinggalkan. Demi Tuhan, Hatiku, semakin saya tidak ingin bekerja pada pemerintahan. Demi Tuhan, Hatiku, tiba-tiba saya ingin menjadi aktivis dan akademisi saja, dunia yang saya rasa paling memegang nilai-nilai universal. Seandainya saya sudah punya pilihan pekerjaan lain, maka saya akan mundur dari pekerjaan saya sekarang ini. Demi Tuhan, Hatiku, ternyata mencoba percaya dan menganggap semua orang baik adalah kesalahan. Demi Tuhan, Hatiku, saya lelah pada orang yang mengaku sibuk sehingga tidak sempat memesankan tiket sampai berhari-hari. Demi Tuhan, Hatiku, Indonesia seharusnya tidak seperti sekarang ini. 

Jakarta, 15 Maret 2013. 02.32.

3.12.2013

Calcutta dan Segala Kebaikannya

Baru terpikir membuat catatan ini setelah satu setengah tahun kunjungan terjadi. Waktu yang sangat lama. Entah apa, mungkin karena di saat mencari referensi sebuah negeri kemudian menemukan sebuah catatan perjalanan sehingga terdorong untuk menulis catatan perjalanan. Sebelumnya saya hanya membuat catatan kecil tentang keberadaan saya di Calcutta, sebuah kota indah di negeri India. Tapi itu hanya ungkapan syukur, bukan sebuah catatan perjalanan yang lengkap menceritakan Calcutta dan segala kebaikannya. Baiklah, saya akan segera memulai catatan, dari pikiran yang begitu saja keluar, yang mengalir, tanpa editing yang ketat. 

Perjalanan saya ke Calcutta bisa dibilang sebuah rejeki. Mendekati hari raya Idul Fitri, direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN), tempat saya bekerja, menelepon untuk memberitahu undangan konferensi yang diselenggarakan Women’s Studies Research Centre, University of Calcutta, Kolkata, India. Undangan itu sejatinya ditujukan kepada AMAN pusat yang ada di Bangkok. Namun karena mendekati hari raya, direkturnya memberikan ke AMAN Indonesia. Di sini sendiri sebetulnya tidak ada yang bisa berangkat karena akan mudik. Saya satu-satunya staf yang sudah menyatakan tidak mudik. Direktur mendengar hal itu, lalu berpikirlah untuk mendelegasikan saya. Benar-benar rejeki bukan? 

Waktu acara kira-kira kurang satu bulan, sementara saya belum punya paspor. Cukup lelah memang jika harus mengikuti prosedur-prosedur birokrasi untuk mengurus paspor. Saya lupa bagaimana inisiatif saya muncul, kebetulan di AMAN ada pertemuan anak muda yang membincang masalah lingkungan dan lain sebagainya. Di situ hadir Mbak Nana Firman, seorang konsultan NGO internasional yang menangani masalah lingkungan. Mobilitas internasionalnya jangan ditanya lagi. Saya merasa akrab saja dengan dia. Kemudian saya berbicara tentang paspor. Dan, ternyata pamannya adalah Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Mbak Nana tanpa berat hati memberikan nomornya. Hahaha…benar-benar keberuntungan. Saya kontaklah Kepala Kantor Imigrasi yang dimaksud. Namanya Pak Jon. Dia ramah sekali. Setelah saya sampaikan maksud saya –tentu dengan prolog bahwa saya teman keponakannya– disuruhlah saya datang ke kantor imigrasi. 

Di luar urusan itu, saya perlu mengurus dokumen persyaratan paspor. Kartu Keluarga dan akte kelahiran yang asli masih ada di rumah. Saya minta ibu untuk mengirimnya. Ups…ada kesalahan di KK, jadi harus ngurus yang baru ke Dinas Kependudukan Banyuwangi. Untunglah ada seseorang yang sudah seperti kakak yang bisa dimintai bantuan. Dia biasa dipanggil Uut. Saya menanggilnya Mas Uut. Orangnya lumayan manis, ramah, dan sudah seperti saudara. Belakangan, dalam komunikasi soal KK itu, dia menyampaikan dulu pernah suka sama saya. Hahahay….tersenyum saja dalam batin. Sayangnya dia tidak punya keberanian untuk bilang suka. Alasannya adalah merasa tidak pantas karena saya bla bla bla. Itu alasan klasik sebetulnya. Namun hubungan seperti sekarang ini rasanya lebih baik, tetap seperti saudara dan tidak punya kenangan urusan hati. Untuknya, saya mendoakan kebahagiaannya. 

Singkat cerita, dokumen-dokumen dari Banyuwangi sampai ke tangan saya. Maka segeralah saya menghadap Pak Jon di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Setelah menunggu beberapa saat, saya berhasil masuk ke ruangannya. Seperti kesan saya di telepon, betul Pak Jon adalah sosok yang ramah. Usianya mungkin sudah 50 tahun, jadi sudah seperti ke ayah sendiri. Dia mengecek dokumen saya kemudian memberikan coretan memo dan diserahkan kepada anak buahnya. Tidak ada bantahan apa pun. Sepertinya punya pengaruh itu memang enak ya. Semuanya jadi mudah. Hehehe. Tapi dalam proses ini saya melalui semua prosedur, hanya saja lewat jalan tol jadi prosesnya cepat. Saya tunggu pak anak buah memproses. Dan abra kadabra, menjelang jam tiga sore sudah selesai semua proses. Besoknya saya ambil paspor di ruang khusus, ruang Pak Jon. Atas bantuan itu, saya berdoa untuk kemuliaan Pak Jon. (sebagai catatan, tidak ada proses suap-menyuap di sini. Harga paspor normal 270 ribu. Saya hanya membawakan oleh-oleh dari India sebagai rasa terima kasih).

Scan paspor saya kirim ke panitia di Calcutta. Tak lama kemudian saya mendapat balasan tiket. Hahahay…tentu saja senang. Tapi tunggu dulu, proses belum berakhir karena saya harus mendapatkan visa. Proses ini cukup memakan waktu juga, karena saya harus menghadap vice director duta besar untuk diwawancara. Maklumlah, saya diundang untuk ikut konferensi tentang Partisipasi Politik Perempuan dan Pengurangan Kemiskinan dan nama lembaga saya ada kata Muslimnya. Wajar saja jika kedutaan menaruh curiga bahwa saya teroris dan lain sebagainya. Vice director menanyakan banyak hal, mulai dari konferensinya dan detail lembaga saya. Sampai struktur lembaga ditanyakan. Sementara saya dengan polos mengeluarkan jawaban: “Silakan datang ke kantor kami” ketika vice director menanyakan alamat kantor kami. Lagian sih ada-ada saja sampai menanyakan detail alamat. Dan dia tidak puas pula. Visa belum dikeluarkan. Saya disuruh kembali besoknya dengan membawa summary annual report dan profile lembaga. Inang…segitunya ya. Apalagi kalau di kedutaan Amerika. 

28 September 2011 jam 4 sore saya berangkat ke bandara. Check in dan lain sebagainya selesai, masuklah saya ke dalam pesawat Emirates yang akan membawa saya ke Dubai. Menurut Bidhisa Mukheerje, panitia yang mengurusi tiket dan akomodasi saya, tidak ada penerbangan yang via Bangkok pada tanggal yang saya tentukan. Adanya yang lewat Dubai. Jalur itu berputar. Jadi saya harus ke Timur Tengah dulu untuk mencapai India. Memang masih Asia, tapi jaraknya dua kali lipat. Saya menempuh  Dubai dalam waktu sekitar tujuh jam. Tapi perjalanan sungguh tidak terasa. Pertama karena fasilitas pesawat betul-betul memanjakan kita, ada film dan musik yang bisa kita dengar. Kedua, karena sering dikasih makan. Seingat saya lebih dari empat kali pramugari menghampiri untuk memberi makan dan minum. Jadi rata-rata 1,5 jam kami diberi makan atau snack atau minuman. Harga memang tidak pernah bohong ya. Setahu saya, perjalanan PP sekitar 10 juta. Jadi sekali perjalanan sekitar 5 juta. 
 
Di pesawat saya sederet dengan sepasang mahasiswa doktoral asal Jepang. Mereka suami istri. Si suami sedang melakukan penelitian di Indonesia dan istrinya hanya menemani. Si suami yang jajar tepat di samping saya. Saya menyapanya kemudian memperkenalkan diri. Saya bilang saya sedang menyelesaikan S2 Sains Psikologi Sosial. Dia tampak kagum. “Wooh…wooh…,” katanya. Pikir saya, “Ini orang kok kagum begitu ya? Apakah psikologi sosial adalah ilmu yang prestisius dan terkenal susah?” Saya tidak tahu pasti. Mungkin sikap orang yang berpendidikan ya begitu itu, menghargai orang yang sedang menempuh pendidikan. 

Lampu pesawat dimatikan, hampir semua penumpang pun tidur. Saya memilih membuka-buka draft presentasi yang akan saya sampaikan di konferensi. Saya menuliskan poin-poin di buku catatan yang saya bawa. Tapi tidak sampai satu jam, saya pun memilih tidur. Sampai di Dubai pukul 12 malam. Saya langsung mencari petugas maskapai untuk menanyakan gate penerbangan menuju India. Sesuai jadwalnya saya akan berangkat pada pukul 2 dini hari. Saat mencari jalan menuju gate, saya melihat Gading Marten sedang melintas. Saya sapa saja, “Gading ya?” Dia jawab “Iya”. Kemudian berlalu begitu saja. Maaf ya, tidak hobi minta foto sama artis. Hehehe. 

Setelah dapat informasi dan ditunjukkan jalan menuju gate, saya berjalan, melewati eskalator datar kemudian eskalator tangga dan eskalator datar lagi. Bandara Dubai ampun panjang dan megahnya. Mungkin panjangnya satu desa. Megahnya seperti istana Timur Tengah mungkin. Di salamnya ada mall dan gallery produk-produk kelas dunia. Mau merk apa saja tersedia. Hiasan-hiasan cantik seperti pohon palm dan duplikasinya yang terbuat dari bahan berkilau ada semua. Foto-foto mewah ala fotografi kelas dunia terpajang di beberapa sudut bandara. Beberapa bagian dinding terbuat dari keramik dengan gambar kuda berlari. Beberapa bagian lantai beralaskan karpet tebal. Fasilitas internet, mushalla, tempat tidur sampai hotel tersedia di dalam bandara. Kafe-kafe jangan ditanya lagi. Benar-benar cita rasa Dubai. Karena saat itu adalah Bulan Ramadlan, saya menyempatkan diri untuk tarawih di masjid bandara. Ukurannya tidak besar. Bahan bangunan terbuat dari kayu, mulai lantai, tiang, atap, sampai tempat imam. Saat itu sepi. Hanya ada beberapa perempuan Arab yang berbarengan shalat dengan saya. Saya sempat takut karena sepi, tapi kemudian menikmati suasananya dan juga sempat foto-foto. 

Shalat tarawih selesai, lalu saya segera menuju gate penerbangan ke Calcutta. Hahahay….suasana India sudah mulai terasa. Yang antri di situ kebanyakan orang India. Di pesawat saya bersebelahan dengan seorang bapak yang kira-kira berusia 45 tahun. Dia tinggal di Calcutta. Karakternya diam, tapi ramah dan sangat welcome pada orang lain. Ditambah lagi dermawan. Mengapa saya bilang demikian? Selama di pesawat, dia menyambut pertanyaan-pertanyaan saya dengan ramah. Waktu itu kami sambil menikmati film. Tentu saja yang saya pilih adalah film India. Saya bertanya pada si Bapak, siapa kira-kira bintang film India yang paling terkenal, apakah Shahrukh Khan? Dia menjawab “Ya, tapi sebenarnya King India itu tak akan lama lagi pamornya karena usianya sudah di atas 40 tahun,” ungkapnya. Kami juga berbicara asal negara, tujuan perjalanan, makanan, sampai bagaimana saya menuju tempat tujuan saya setelah turun dari pesawat. Bapak itu terlihat sangat berpengalaman, dia tidak banyak tanya soal negara saya. Kemungkinan karena dia sudah banyak tahu soal Indonesia. Selain itu dia paham betul jalur penerbangan dari Indonesia ke India. “Kenapa harus lewat Dubai, bukankah dari Bangkok bisa?,”  tanyanya. 

Si Bapak bekerja di dunia bisnis. Dia baru saja pulang dari Brazil untuk tujuan wisata. Sebagai seorang bisnisman, saya menduga perjalanannya ke Brazil juga untuk tujuan bisnisnya. Dia tampak tidak membawa apa-apa kecuali sebuah tas kecil untuk buku catatan dan dokumen-dokumen penting seperti paspor. Dia menanyakan bagaimana saya menuju ke tempat tujuan saya di Calcutta nanti. Saya menjawab ada sopir yang akan menjemput tapi sekarang memang belum ada kepastian. Mendengar jawaban itu, dia menawari saya tumpangan. Kebetulan dia dijemput sopirnya. Tentu saja saya senang. Jam 8 pagi waktu Calcutta kami sampai di Bandara Calcutta. Kami jalan bersama menuju tempat pengambilan bagasi. Si Bapak menanyakan kembali bagaimana sopir yang menjemput. Jawaban saya tetap sama. Mendengar itu, si Bapak mencatat nomor teleponnya kemudian memberikannya ke saya sambil bilang, “This is my phone number. Call me if you need help.” Mendapat perlakuan seperti itu dalam kondisi seorang diri di negara lain tentu sangat berharga. Untuk si Bapak, saya berdoa atas keberkahan hidupnya. Sayang sekali saya tidak menanyakan namanya. Nomor teleponnya pun hilang entah di mana. Ya sudahlah, semoga doa dapat menyambungkan kita. 

Bersambung (Calcutta yang saya lihat, suasana konferensi, dan 2 tempat penting)

Serang, Banten, 12 Maret 2013. 14.44.