1.25.2011

Salam untuk Wardah Hafidz


Jumat sore 21 Januari 2011, dalam perpisahan Training Advokasi Damai untuk Perempuan yang diselenggarakan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, lembaga tempat saya beraktivitas sebagai volunteer, saya berkesempatan bersalaman pipi dengan Wardah Hafidz. Dalam salaman itu, saya merasakan perasaan yang mendalam terhadap perempuan kelahiran Jombang itu. Namun pasti, itu bukan gejala abnormalitas seksual. Tepatnya, sayang itu tumbuh karena kekaguman yang mendalam.

Hal itu juga saya rasakan pada direktur saya saat ini. Saya menyayanginya karena kekaguman. Bagi saya, dia adalah perempuan tangguh, yang memegang prinsip, berani mengambil pilihan. Pada sebuah perjalanan dalam taksi, saya pernah terhenyak heran karena direktur itu mengatakan memilih tidak meneruskan program Ph.D-nya di Singapura karena merasa tidak cocok dengan budaya di sana. Sepenggal kalimatnya adalah, “Lebih baik keluar daripada mengorbankan kebahagiaan saya.” Oh Tuhan, hampir pasti saya belum pernah berani mengambil keputusan seperti itu.

Pertanyaannya sekarang adalah: “Mengapa kekaguman itu muncul?” Sedikit sudah saya singgung, karena keberanian mengambil pilihan radikal. Marilah kita melihat realitas. Meskipun telah lama pemikiran feminisme berkembang, tak cukup banyak perempuan yang berani mengambil keputusan radikal dalam hidupnya. Wardah Hafidz, setelah saya telusuri profilnya dalam Wikipedia, dia dibesarkan dalam lingkungan pesantren di Jombang. Namun, dia memilih ‘tidak taat’ pada pola pendidikan yang ‘diwajibkan’ oleh keluarganya. Dia pun keluar dari aktivitas mengajar di almamaternya di Malang, kemudian memilih menekuni dunia yang benar-benar berbeda. Dunia itu memerlukan keberanian luar biasa. Dunia itu mengharuskannya menghadapi intimidasi, premanisme, dan sebagainya.

Perempuan rasanya masih berjuang ekstra keras untuk memperjuangkan kemerdekaan dirinya. Bukan hanya dalam relasi warga negara dengan pemerintah, tetapi juga dalam relasi laki-laki dan perempuan sebagai pasangan, misalnya. Tengok saja, sudah mampukah perempuan menjadi subjek yang benar-benar merdeka di depan pasangannya? Jika pun mereka menyadari kemerdekaannya, sudahkah laki-laki mau berbesar hati menghargai itu?

Boleh saja pendapat ini dianggap ‘serangan’ terhadap laki-laki: tampaknya laki-laki mendapat kutukan budaya sehingga harus menanggung beban ‘gengsi’ jika harus membagi ‘hak’-nya dengan perempuan dan beban ‘malu’ untuk menerima perbedaan dalam diri perempuan sebagai pasangannya. Seberapa banyakkah laki-laki yang mau membagi tugas sebagai kepala keluarga dengan sang istri? Ah, rasanya hanya ada beberapa. Dan pertanyaan yang lebih kecil lagi, seberapa banyakkah laki-laki yang mau mendampingi perempuan sebagai pasangannya dalam dinamika kedirian perempuan? Seberapa banyak laki-laki yang mau memaklumi perempuan sebagai pasangannya ketika sang perempuan ingin membuka penutup kepala, misalnya? Ah, tampaknya tak cukup banyak. Sementara, perempuan mereduksi kemerdekaannya agar tetap dicintai.

Demikianlah, pada hal-hal fundamental terkait hak atas dirinya saja perempuan menghadapi banyak hambatan, apalagi pada hal-hal yang melampaui itu. Atas dasar itu, saya mengagumi dan menyayangi perempuan yang telah berhasil mengambil pilihan radikal dalam hidupnya. Pun saya mengagumi laki-laki yang dengan besar hati memberikan kemerdekaan pada perempuan sebagai pasangannya.

Setelah selesai berpamitan dengan peserta training, Mbak Wardah sekali lagi berpamitan. Dia menepuk bahu saya sambil berkata, “Yo’”. Saya amati langkahnya, langkah yang tak biasa untuk ukuran perempuan pada umumnya. Di tengah jalan, dia terang karena sorot lampu-lampu kendaraan yang padat kala itu. Rok batik panjang dan blues warna hijau sungguh semakin indah terkena sorot lampu.

Salam untuk Wardah Hafidz

Depok, 25 Januari 2011. 00.17

Any Rufaidah

1.20.2011

Pagi yang Biasa Saja

Pagi yang biasa saja. Dan seperti biasanya, malas bangun untuk beraktivitas. Dan juga seperti biasanya, keputusan bangun diambil in the last hour. Mengurus diri seadanya, berpenampilan seadanya, berjalan pada jalur biasanya, dan menuju kelas biasanya. Itu adalah kelas terakhir mata kuliah kapita selekta, sekaligus mata kuliah terakhir jika lulus.

Pembicaraannya tidak cukup menarik, peace psychology. Entahlah, mungkin karena sudah satu semester ini ikut kelas mediasi konflik sehingga yang disampaikan kala itu terasa hambar dan di permukaan saja. Atau mungkin karena faktor lain yang lebih personal. Namun, lupakan. Tokoh-tokoh peace psychology tingkat dunia diperkenalkan dalam ceramah pagi itu, plus literatur-literatur, plus sepak terjang para punggawa peace psychology tingkat dunia. Ada nama Daniel J. Christie, Michael Wessels, Morton Deutsch, Cristina J. Montiel, Deborah Du Nann Winter, Susan Opotow, Herbert C. Kelman, Naomi Lee, Fathali Moghadam, Joseph de Rivera, dan sebagainya.

Hampir 2 jam berlalu tetap tidak begitu seru. In last minutes, keluarlah tema keindonesiaan. Ah, tapi tidak terlintas sedikit pun soal PMII yang selalu ‘mengajarkan’ keindonesiaan dalam momen Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA). Disebutnya sebagai gagasan. Sesungguhnya gagasan tersebut muncul sebagai jawaban atas konflik etnik/suku yang kerap terjadi di Indonesia. Konflik jenis ini memang diakui lebih sulit diselesaikan daripada interstate conflict. Tak lain karena melibatkan identitas kesukuan.

Bagaimana mengatasi konflik etnik/suku?, itu pertanyaannya. Dan jawabannya adalah: “dengan membangun sense of citizenship”. Istilah orisinal menurut saya. Untuk menumbuhkan rasa tersebut, maka negara harus kuat. Pejabat, birokrat, penegak hukum, semua harus kuat. Atas nama publik, semua pihak yang menyalahgunakan hak publik harus ditindak tegas. Warga negara harus taat pajak dan menghormati hak-hak publik. Mereka yang melanggar harus ditindak tegas. Sekali lagi, negara harus kuat.

Namun, Indonesia adalah negara yang cukup kompleks permasalahannya. Banyak yang mengatakan berulanga-ulang masalah di negara ini seperti lingkaran setan. Dan sayangnya, pun pada kelas ini, gagasannya tidak terjawab dengan tuntas. “Siapa yang memulai menumbuhkan sense of citizenship?” itu pertanyaannya. Mungkin Jürgen Habermas menjawab ‘Intelektual Organik’. Jawaban itu baik. Jika intelektual/akademisi yang dianggap mampu menumbuhkan sense of citizenship, maka sebarkanlah gagasan itu dan berkomitmenlah pada upaya itu. Tinggalkan, atau setidaknya kurangi ‘ngobyek’. Itu perjuangan mulia, nyonya, Tuhan yang akan memberi penghargaan.

11. 25, 25 menit lewat dari jadwal kuliah, kelas berakhir dengan copy meng-copy file. Terima kasih untuk Profesor.

Depok, 11 Desember 2010

Any Rufaidah

11.09.2010

Pikiran kecil saja

Ini pikiran kecil saja, yang hadir tengah malam 7 November 2010, yang muncul begitu saja tanpa terketahui apa yang memicunya. Ah, bukankah banyak sekali hal-hal yang muncul tanpa terketahui sebabnya. Itu adalah bagian dari kemahatakberdayaan manusia memahami setiap apa yang terjadi. Tema besar dari pikiran ini adalah soal korelasi. Kasusnya adalah barokah dan tidaknya rejeki.

Pernah (dan sering) saya (dan mungkin kita) mendengar penjelasan mengapa saudara-saudara kita yang bekerja sebagai buruh migran tetap saja melarat, tak ada materi yang menunjukkan kemakmuran meski dikabarkan uang yang didapatkan sangat menggiurkan jumlahnya. Katanya karena perilaku saudara-saudara selama di luar negeri kerap menyalahi norma-norma sosial dan agama. Maka katanya wajar jika hasil kerja tidak ada dan materi yang sudah terkumpul cepat terjual. Akhirnya tetap saja melarat.

Hmm. Begitukah penjelasannya? Saya meragukan nalar tersebut. Soal tetap melarat adalah soal tidak adanya keberlanjutan penghasilan, bukan terkait langsung dengan bagaimana cara kita mendapatkan rejeki atau tingkah laku selama mengais rejeki itu. Jika kawan-kawan ex buruh migrant tetap berada pada keadaan yang dulu bukan karena perkara mereka berperilaku buruk semata-mata, melainkan karena tidak adanya sustainability penghasilan. Banyak orang-orang penting di negeri ini tetap kaya meski tingkah lakunya demikian terlihat adanya. Bagaimana menjelaskannya? Tak lain itu karena mereka terus berpenghasilan/mendapat aliran uang. Bagaimana nalarnya uang kawan-kawan ex buruh migran, misalnya, habis tanpa diketahui dan kemudian itu dihubungkan dengan ketidakbarokahan akibat perilaku? Ini persoalan yang sangat rasional: uang habis karena dibelanjakan. Semua pasti pas hitungannya.

Any R.
Depok, 8 November 2010. 00.51.

Salam untuk Nuril

5.14.2010

Pacha, Chalwanka, Inca



Perjalanan kecil dengan keperluan mengantar seorang kawan ke sebuah mall mengantarkan saya pada sesuatu yang mengagumkan, yang sama sekali baru, yang menyadarkan pada keindahan anugerah Tuhan yang disebarkan di muka bumi. Lelaki paruh baya dengan pakaian dan ikat kepala etnik sedang memainkan alat musik berbentuk angklung dengan ukuran kecil. Ia menebarkan nada-nada indah yang bukan hanya seperti menarik telinga saya untuk mendengar, tetapi juga semacam menghanyutkan hati saya di dalamnya. Nama lelaki itu adalah Pacha. Dari mini brosur yang diberi oleh panitia, ia berasal dari Peru, Amerika Selatan. Ia adalah pendiri grup musik etnik dari pegunungan Andes, Amerika Selatan, bernama Chalwanka. Dari mini brosur itu pula saya mendapat informasi nama Chalwanka diambil dari bahasa asli suku Inca (bahasa Quechua (baca: Kechua)) yang berarti “Ikan Batu” dan alat musik yang dimainkan Pacha pada pertunjukan malam itu adalah Zamponas (baca: Zamponyas) & Quenas (baca: Kenas). Pacha sudah bergaul dengan Zamponas dan Quenas selama 20 tahun dan telah performance di beberapa negara seperti Italia, Portugal, Spanyol, Brazil, Jepang, dan Indonesia saat ini.

Di sudut kiri lokasi pertunjukan, tiga perempuan cantik tampak sibuk melayani orang yang melihat-lihat album Chalwanka. Saya ingin memiliki satu album itu. Tetapi kemudian abai karena tampaknya banyak sekali pengeluaran di bulan ini. ‘Membeli lain kali via email seperti prosedur yang dijelaskan,’ kata dalam batin. Baiklah. Makan adalah langkah berikutnya. Ayam bakar dan teh manis hangat di lantai dua Margo City –terima kasih kepada sang kawan yang mentraktir. Tepat ketika hendak pulang, Pacha menyelesaikan pertunjukkan. Dari jauh ia tampak sedang membuka baju etniknya. Sudah saatnya ia melayani pengagum dadakan dan penonton. Begitu kuat hasrat untuk bersalaman atau foto dengannya. Sebagai orang Peru yang berbakat, yang berdedikasi tinggi pada apa yang dikagumi, yang telah menyusuri beberapa bagian dunia, yang menjadi salah satu bukti besar keagungan dan keindahan Tuhan, tangannya menjadi bernilai dan gambar dirinya menambah harga orang-orang yang berdiri di sampingnya. ‘Aku ingin berdiri di sampingnya’. Satu album, kemudian mendekat, meminta tanda tangan, berjabat tangan, dan meminta teman mengabadikan kami.

Raut muka Pacha dari dekat memang menyiratkan dedikasi, pribadi yang teguh. Pada gambar diri di brosur mini, ia menatap dengan demikian tajam. Tangannya setengah menggenggam. Anting di telinganya tak memudarkan siratan itu.

Selain Pacha dan musiknya, suku Inca adalah keindahan yang rasanya tak layak dilewatkan. Inilah suku Inca:

Budaya Suku Inca

Author: chalwanka _ 31 Januari, 2010

Budaya suku Inca kemungkinan berpadu dengan kebudayaan suku sebelumnya yang sudah sejak ribuan tahun lalu tinggal di Peru.

Kerajaan Inca adalah sebuah kerajaan kuno yang telah ada sejak ratusan tahun lalu dan musnah ketika bangsa Spanyol memasuki wilayah Amerika Selatan. Suku Inca dengan ibukota Cuzco atau Qosqo, sekarang Peru terletak di sisi paling selatan tepatnya di pegunungan Andes, berakhir pada 1533 masehi. Inca disebut sebagai peradaban “pra-Columbus, artinya sudah ada sejak sebelum kedatangan Christopher Columbus. Selama periode tersebut, Inca menguasai sebagian besar wilayah Amerika Selatan bagian barat.

Sejarahwan mencatat, Inca dengan raja terakhir Atahualpa disebutkan tewas karena terbunuh oleh tentara Spanyol bernama Francisco Pizarro. Karena sejak peperangan tersebut selama 400 tahun, Inca yang disebut juga kota benteng hilang dari peradaban sejarah. Hingga pada pertengahan 1911 banyak orang menganggap cerita yang turun-temurun ini hanyalah dongeng di kalangan suku Indian.

Penemuan suku Inca berhasil terungkap berkat ekspedisi yang dilakukan oleh Profesor Hiram Bingham dari Yale University. Dalam perjalanan penjelajahan yang berlangsung Juni 1911, Bingham diikuti staf dan asisten pembantunya, melakukan penelusuran ke jalur yang belum pernah dilewati, yakni lembah Urubamba yang terletak di wilayah selatan Peru. Penemuan bermula dari petunjuk seorang pemilik penginapan kecil yang menunjukkan sisa-sisa peninggalan suatu suku. Baru ketika dicari petunjuk lain dengan menyusuri wilayah gunung maka ditemukanlah kota hilang suku Inca yang berada di pegunungan Andes.

Perpaduan kebudayaan
Meski telah hampir 100 tahun penemuan peradaban Inca terkuak, hingga kini masih banyak misteri yang belum terungkap. Jumat (15/3) peneliti dari Peru kembali melaporkan ditemukannya puing-puing bekas jalan, candi kuno, dan sistem irigasi yang dibuat pada awal berdirinya kota kerajaan Inca, Cuzco. Candi yang baru ditemukan ini menurut peneliti merupakan kebudayaan yang ada sebelum suku Inca melekat di Peru. Di lokasi ini ditunjukkan adanya pelaksanaan ritual kepercayaan dan juga perlakuan militer.

Ahli arkeologi Inca, Oscar Rodriguez mengatakan ada 11 kamar yang di dalamnya tersimpan mumi dan patung. Bangunan ini sebagiannya adalah hasil renovasi bangunan lama yang disebut umurnya jauh lebih tua dari suku Inca sendiri. “Ini adalah perpaduan antara suku Inca dan kebudayaan suku sebelumnya. Ini adalah konsekuensi,” ujar Washington Camacho, direktur Sacsayhuaman Archaeological Park. Bangunan ini diubah dari arsitektur sebelumnya yang itu adalah lebih kuno dibanding Inca.

Kebudayaan yang kejam
Peneliti menduga, ada kesamaan antara suku-suku yang tinggal di wilayah tersebut sama dengan kebudayaan Inca waktu berdiri. Suku ini kemungkinan menjadi penyembah matahari dan memiliki tradisi yang kejam. Setelah Inca muncul dan mengalahkan suku tersebut, maka warisan kebudayaan yang sama membuat Inca merenovasi dan membuat kepercayaan pada para dewa semakin kuat. Penemuan ini terungkap berdasarkan penemuan mumi anak-anak berusia 15 tahun yang diperuntukkan bagi sang dewa. Dari helai-helai rambut yang ada diketahui bahwa anak tersebut digemukkan sebelum dikorbankan.

“Kami mempelajari sejarah dari rambut anak ini untuk mengetahui cerita masa lalu,” ujar Andrew Wilson, seorang arkeolog di Universitas Bradford, Inggris dalam temuannya yang ditulis di Proceedings of the National Academy of Sciences, pada tahun lalu. Pengukuran radio isotop yang ada memperlihatkan, setahun sebelum anak tersebut dikorbankan, mereka diberi makanan mewah seperti daging dan jagung. Makanan ini adalah pengganti jenis makanan karbohidrat seperti kentang yang biasa dimakan oleh anak ini.

Tiga atau empat bulan sebelum dikorbankan, ritual anak ini lebih mengerikan. Tumbal yang sudah siap dibawa ke gunung dan pada periode itu diberi makan yang dicampur dengan racun. Bukti-bukti kematian mumi kecil yang dinamai Llullaillaco Boy ini sangatlah tragis. Selain racun juga ditemukan adanya indikasi kandungan obat halusinasi. Anak sebagai tumbal ini oleh peneliti diduga mati bukan karena racun melainkan karena suatu tragedi penyiksaan secara perlahan akibat halusinasi. Ini terbukti dari temuan pakaian yang melilit ketat dan tulang rusuk yang patah serta tulang panggul yang bergeser.

Sumber : http://www.chalwanka.com (dengan editing kecil pada tata bahasa)

Email chalwanka: chalwanka_pacha@yahoo.com
FB: wilmerleon500@yahoo.eschalwanka-teers

Any Rufaidah
Depok, 14 Mei 2010

4.13.2010

Warna, Ayam, Helm, dan Seragam


Setiap hari, setiap saat, kita menerima informasi yang bermacam-macam. Tak jarang mereka meletupkan ide, kenangan indah, kemarahan, kebencian, sanggahan, pembenaran. Satu pemandangan saja terkadang menjadi pemicu bagi lahirnya ide-ide segar. Ia berasosiasi dengan ide-ide sebelumnya dan terkumpul menjadi sebuah pemikiran yang sistematis, yang bisa dijelaskan dengan baik, yang menjadi refleksi dan pelajaran diri. Sayang rasanya jika ide yang meletup-letup setiap hari lewat begitu saja. Apa yang membuat Plato dikenal hingga hari ini, Soe Hok Gie, Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, Raditya Dika, dan sebagainya yang banyak jumlahnya, jika bukan karena mereka mencatat.

Apa perlunya mencatat? Seorang siswa akan kelimpungan jika catatannya hilang menjelang ujian. Jadi catatan bagi mereka berfungsi untuk mengingat kembali pelajaran yang diberikan bapak/ibu guru. Bagi remaja yang gemar mencatat di buku harian, mencatat adalah sarana untuk curhat, meluapkan ketakjuban ataupun kemarahan. Bagi sebagian, mencatat adalah pekerjaan luhur: menuangkan dan berbagi ide. Bagi sebagian yang lain, mencatat adalah proses untuk mengenali diri. Bagi sebagian untuk kenangan. Bagi sebagian adalah semuanya: curhat, merekam, menjadikannya catatan pelajaran, menuangkan ide. Bagi saya, mencatat adalah untuk semua alasan itu, dan untuk memperkenalkan diri.

Ini adalah percikan pikiran yang hadir pada 5 April 2010. Hari itu saya mengunjungi bibi –sebenarnya dia adalah tetangga di kampung. Tetapi karena dekat dengan keluarga, saya menganggapnya bibi– yang kini tinggal di Cileungsi, Bogor, mengikuti suaminya yang TNI. Perjanjian saya dengan suami bibi beberapa kali gagal. Dan kali ini saya niatkan untuk mengunjunginya, di tengah banyaknya tugas membaca materi kuliah. Pikir saya, “Toh tak ada jaminan jika tak kemana-mana saya akan membaca buku-buku kuliah. Dan tak ada jaminan jika pergi maka tak bisa membuat resume untuk kuliah”. Mungkin ini adalah bagian dari pemikiran bahwa manusia tak semestinya dikendalikan oleh lingkungan (konstruksionis), meski tak sepenuhnya mampu.

Setelah membereskan kamar yang berantakan karena tugas ujian tengah semester, saya mempersiapkan diri. Kamar mandi, di situ tercantol baju, handuk, tempat sabun yang di dalamnya berisi macam-macam alat mandi. Tak ada warna yang sama. Handuk berwarna hijau mencolok, baju berwarna coklat tua, tempat sabun berwarna merah, puff berwarna biru cerah, sabun berwarna ungu, sikat gigi warna pink, pasta gigi warna biru mengkilat, shampoo warna hijau dan putih, dan (tak usah disebutkan) berwarna orange cerah. Betapa berwarnanya benda-benda itu. Dan itu hanya di kamar mandi. Di luar sana, tak terhitung jumlahnya. Agama mengatakan berbedaan itu rahmat. Dan sungguh itu benar. Jika saja pakaian-pakaian hanya terdiri satu warna, betapa kusamnya saya. Karena itu saya sering membeli barang-barang dengan warna yang belum saya punya. Yang cerah, yang tak umumnya bernuansa perempuan. Tak perlu didominasi satu warna agar hidup lebih berwarna.

Perjalanan cukup jauh. Menghabiskan waktu dua jam termasuk dengan salah jalur. Mestinya bisa langsung Kampung Rambutan – flyover Cileungsi – Jonggol. Tetapi karena petunjuk penjaga kos dengan pertimbangan kemacetan, jalurnya melalui Depok – Simpangan Depok – akhirnya ke Kampung Rambutan juga – flyover Cileungsi – Jonggol. Daerah Cileungsi ternyata tak jauh dari Mekarsari, tempat wisata yang sebelumnya hanya saya tahu dari stiker yang tertempel di mobil-mobil. Bahkan sebelumnya saya tak mengira Mekarsari adalah tempat wisata kebun buah. Di Jonggol saya turun di Gang Doang. Kata suami bibi, saya akan dijemput di situ. Sebetulnya itu adalah pertemuan pertama saya dengan paman. Sebelumnya kami hanya akrab melalui telepon dan perbincangan orangtua. Ada khawatir juga kalau-kalau salah orang. He he he. Namun akhirnya ketemu juga. Rumah bibi cukup jauh dari gang. Tepatnya di perumahan PNS dan TNI. 5 tahun ini bibi tinggal di situ bersama dua anaknya yang masih kelas 2 SMP dan 4 SD.

Terlinang air mata saat bertemu bibi. Mungkin sudah 15 tahun saya tak bertemu dengannya. Dia pergi dari kampung sejak saya dan anak-anak dari pernikahan pertamanya masih SD. Dia kerja di Dili, Papua, dan bertemu dengan suaminya sekarang di kota itu. Indah rasanya pertemuan itu. Saya mensyukurinya. Dan mensyukuri pula akhirnya bibi hidup bahagia dengan keluarga keduanya, tenang, punya kesibukan, dan tinggal di rumah sendiri. Hubungannya dengan 3 anak dari perkawinan pertamanya pun baik-baik saja. Tak ada yang membencinya meski ‘ditelantarkan’ sejak kecil.

Ayam
Pagi hari berikutnya, saya duduk-duduk di depan rumah bibi. Bibi memberi makan ayam peliharaannya. Ada sekitar 7 ayam. Di antara mereka ada 1 ayam paling kecil. Saya perhatikan ayam-ayam besar makan dengan tenang. Bersama-sama mereka menguasai makanan. Sementara si kecil hanya berada di pinggiran. Begitu dia bermaksud mengambil makanan yang dikuasai si besar, dirinya dihajar. Kemudian dia mundur dan kembali ke pinggiran dengan makanan ala kadarnya. Beberapa kali si kecil mencoba usaha yang sama, tetapi hasilnya juga sama. Dia harus mundur dan kembali ke pinggiran. Dia makan dengan gelagat ketakutan. Ayam besar kira-kira jumlahnya 6. Tetapi mereka tak saling berebut. Mereka rela makan sama-sama. Tetapi begitu tidak rela si kecil mengambil bagian sedikit saja.

Tersiratlah di benak, “Yang sama kuatnya rela berbagi makanan, tetapi begitu tak rela jika si kecil mengambil sedikit saja. Tidak masalah sesama si besar saling berbagi, tetapi ada kemurkaan jika si kecil bermaksud minta diberi.” Seperti hukum rimba saja, tuan. Mungkin saja itu hanya berlaku pada ayam dan binatang lainnya, tidak pada manusia. Namun jika manusia demikian, maka wajar kiranya jika ada ejekan ‘seperti binatang’. Yang diejek tak boleh langsung marah kiranya jika memang melakukan perilaku demikian.

Helm dan Seragam
Dua jam berikutnya saya diantar pulang. Sebelum berangkat, saya tanya helm pada bibi. Bibi menjawab tidak perlu, polisi tidak akan menilang. “Oh bibi, helm untuk melindungi diriku, bukan untuk diberikan pada polisi. Polisi sudah punya banyak helm, Bi.” Siapa pun kita tak bebas dari celaka. Dan, di jalan, paman menyenggol motor. Dia menghindari mobil, tetapi karena terlalu minggir, sebuah motor tersenggol. Kami tidak apa-apa. Hanya spion paman yang melesat. Sebetulnya paman yang salah, tetapi karena dia berseragam TNI, yang disenggol justru yang minta maaf. Seragam menentukan siapa yang seharusnya mengakui kesalahan, tuan. Pamanku sendiri tahu pengendara motor itu takut karena seragam. Dia mengatakannya pada saya. Apakah ‘Jadilah orang berseragam agar kau selalu benar' berlaku di negeri ini?

Any Rufaidah
Depok, 13 April 2010