12.26.2009

Irshad Manji

Irshad Manji (41) adalah Muslimah kelahiran Uganda yang hidup di tengah “tradisi” kekerasan dan perbudakan. Di usia empat tahun, ia dibawa berimigrasi ke Kanada. Imigrasi adalah satu-satunya pilihan ribuan warga Uganda sebagai konsekuensi kediktatoran Idi Amin Dada untuk membersihkan warga selain kulit hitam. Tidak ada pilihan bagi kulit berwarna untuk tinggal kecuali dengan mengorbankan nyawa. Kediktatoran Amin Dada beberapa generasi berikutnya benar telah usai, tetapi kekerasan dan perbudakan tidak beringsut sedikit pun. Hanya perbedaan objek saja. Kali ini adalah terhadap orang-orang berkulit hitam.

Irshad adalah sosok kritis. Sejak kecil ia sudah mempertanyakan hal-hal besar yang dilihatnya. Mengapa ada perbudakan pada keluarga-keluarga Muslim?, ada apa dengan Islam?, hingga remaja dan dewasa pertanyaan tersebut semakin penting baginya. Suasana lebih demokratis di Kanada adalah iklim yang cocok bagi Irshad untuk berpikir tentang hal-hal “nakal” tersebut. Suasana itu yang pada akhirnya mendukung sosok Irshad tumbuh sebagai pemberani, atau dalam penamaannya adalah Muslim Refusenik.

Irshad kecil diasuh oleh suster-suster Gereja Baptis Rose of Sharon. Irshad dan kakaknya sering dititipkan di sana sampai orangtua mereka usai bekerja. Hari-hari di gereja memberikan banyak pelajaran bagi Irshad. Ia mempelajari injil, dan seperti biasa mempertanyakan apapun yang dilihat dan didengar mengenai agama. Kekritisan membawa Irshad yang kala itu masih delapan tahun mendapat penghargaan tahunan sebagai Orang Kristen Paling Menjanjikan.

Namun sayang bagi Irshad, penghargaan justru memotivasi sang ayah untuk mengambilnya dari gereja. Madrasah adalah tempat yang harus dimasuki berikutnya. Madrasah yang terletak di Richmond itu beriklim tidak nyaman bagi Irshad. Pola pendidikannya dipenuhi dengan otokrasi dan pembedaan. Pengkotak-kotakan laki-laki dan perempuan dalam batas-batas yang tidak semestinya dilakukan secara “normal”. Doktrinasi yang mensaratkan pembungkaman terjadi dengan wajar di sana. Irshad, sebagai anak kritis sering mendapat perlakuan tidak nyaman dari pengajar akibat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Ia pernah diusir pula akibat kekritisan yang tak umum itu.

Pendidikan tingkat pertama Irshad diselesaikan di J.N. Burnett. Jiwa kepemimpinan Irshad teraktualisasi di sana, yaitu dengan menjadi ketua Osis. J.N. Burnett memberi pelajaran sekaligus perbandingan antara otokrasi dan demokrasi. Antara budaya Muslim Afrika Timur dengan Kristiani di tempatnya sekarang. Perbandingan otokrasi dalam masyarakat Muslim dan demokrasi dalam masyarakat Barat adalah hal besar yang membawanya menjadi pemburu kebenaran. Seperti musafir di padang pasir, Irshad kehausan jawaban atas pertanyaan mengenai agama dan realitas kehidupan Islam. Menyelinap ke perpustakan yang tak boleh ia masuki sebagai perempuan hingga menjadi apa yang ia sebut “tikus mall” untuk mendapatkan Al Qur’an berbahasa Inggris dilakukan untuk mencari jawaban atas makna Islam.

Irshad dewasa bekerja sebagai pemandu acara bernuansa dialog agama di Queer Television. Proses belajar yang telah ditempa dengan cara yang tak biasa membuatnya lihai berbicara tentang agama. Memproduksi acara TV dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tayangan adalah rutinitas padat yang harus ia lalui. Di samping itu, melayani dan menjawab berbagai “serangan” yang ditujukan padanya sebagai Muslimah liberal adalah kesibukan yang tak kalah menyita waktu. Pertanyaan tentang ketuhanan sampai pilihan seksual sebagai lesbian menjadi tema yang harus ia jawab. Tetapi itu yang membuat Irshad terus berintrospeksi dan mempelajari agama secara lebih mendalam.

Selain sebagai seorang Muslim liberal, Irshad tanpa ragu menyebut dirinya feminis. Penobatan diri sebagai feminis bukan hanya keputusan ikut-ikutan bagi Irshad. Ia mengambilnya sebagai sebuah kesadaran. Kesadaran atas penindasan terhadap perempuan, khususnya pada budaya Arab yang mengaku paling Islam. Hingga hidupnya kini, Irshad tetap teguh memegang keyakinannya sebagai Muslimah yang disebutnya refusenik, orang yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi, dan sebagai feminis.

Irshad menulis karya The Trouble with Islam Today: A Wake-up Call for Honesty and ChangeKarya tersebut mengundang kontroversi di kalangan Muslim. Beberapa negara Islam melarang bestseller internasional tersebut masuk ke wilayahnya. Irshad juga harus ekstra menjaga diri karena teror setelah terbitnya karya tersebut. Hal itu menjadi alasan untuk tidak berumah tangga atau memiliki anak pula.

Meski demikian, The Trouble with Islam Today kini telah tersebar di 30 negara. Dalam edisi Indonesia, Irshad memberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Terbitan pertama edisi Indonesia baru pada bulan April 2008 atau tiga tahun setelah edisi bahasa Inggris. Pemikiran Irshad memang belum dikenal luas, tetapi pada kalangan pemikir Islam generasi muda dan gerakan perempuan nasional, misalnya pada Wahid Institute dan Koalisi Perempuan Indonesia, ia diterima dengan terbuka (Vintage, Canada: 2005).

Atas pemikiran dan keberaniannya, beberapa lembaga memberi Irshad penghargaan. Oprah Winfrey memberi Chutzpah Award atas keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya. Majalah Ms. Menjuluki Irshad sebagai Feminis Abad 21. Maclean’s memberi penghargaan Honor Roll 2004 sebagai ”Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh” dan The Jakarta Post mengakuinya sebagai satu dari tiga Muslimah yang mampu membawa perubahan positif dalam Islam.

Irshad kini menekuni aktivitas di beberapa bidang. Sebagai mentor mahasiswa muda dengan spesifikasi hak asasi manusia dan kebijakan publik pada The Pierre Trudesu Foundation Montereal, Kanada, sebagai dewan editorial antariman di majalah Seventeen New York, dan menangani Project Ijtihad, lembaga yang dirintis untuk pergerakan reformasi liberal bagi para Muslim muda, dijalankan secara bersamaan.
Penyiksaan terhadap pelayan dan pekerja kulit hitam berlangsung “normal” pada keluarga-keluarga Muslim Afrika Timur kala itu. Tidak terkecuali di dalam keluarga Irshad. Pemukulan terhadap Tomasi, pelayan keluarga sudah biasa dilakukan oleh sang ayah.

Bahan Bacaan
Manji, Irshad. 2008. Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umam Islam Saat Ini. Jakarta: Nun Publisher dan Koalisi Perempuan Indonesia.

Any Rufaidah, Depok, 27 Desember 2009
Tulisan ini dipublikasikan pula pada www.averroespress.net


12.01.2009

Neopsikoanalisis


Prinsipnya, kelompok neopsikoanalisis mengakui bahwa ketidaksadaran (unconsciousness) berpengaruh sangat luas pada perilaku dan kepribadian manusia. Kedua, ada dinamika psikis yang terjadi pada manusia. Ketiga, pengalaman masa kanak-kanak berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Ketiga prinsip ini yang menjadi dasar penyebutan neopsikoanalisis. Tetapi, sebagai catatan, semua tokoh neopsikoanalisis tidak bersepakat penuh pada teori Freud, terutama tentang dorongan seksual dan agresif dan penis envy. Berikutnya akan dihampiri pemikiran tokoh-tokoh neopsikoanalisis.

Carl Gustav Jung (1875 – 1961)
Sekilas tentang Jung
Jung lahir di sebuah desa kecil di Swiss bernama Kesswil pada 26 Juli 1875. Ayah Jung adalah pendeta desa. Keluarga Jung tergolong cukup berpendidikan. Pada usia enam tahun Jung mendapat pelajaran bahasa Latin dari sang ayah. Jung tamat studi kedokteran dari Universitas of Basel, Swiss dengan spesialisasi psikiatri. Pada 1905 ia mengajar psikiatri di Universitas Zürich, Swiss, dan mulai praktik psikiatri di bawah bimbingan Eugene Bleuler, orang pertama yang mencetuskan nama skizofrenia. Mulai melakukan korespondensi dengan Freud setahun berikutnya. 1907 Jung bertemu dengan Freud di Wina. Jung pernah berbincang-bincang selama 13 jam bersama Freud. Kehadiran Jung sangat berarti bagi Freud.

Pada tahun-tahun berikutnya, Jung terlibat semakin jauh dalam perkumpulan psikoanalisis. Bahkan ia sempat menjadi ketua himpunan psikoanalisis pada 1910. Antara 1913-1914 Jung mulai tidak bersepakat pada teori-teori Freud. Atas dasar itu ia memutuskan hengkang dari Freud. Jung meninggal di Zürich pada 6 Juni 1961 (K. Bertens (pengantar) dalam Freud, 1991) dan Boeree, 2005).

Teori-Teori Jung

Setelah keluar dari himpunan psikoanalisis, Jung mengembangkan apa yang disebutnya psikologi analitis. Dari usaha tersebut Jung menghasilkan konsep-konsep mengenai manusia. Menurutnya, manusia/self mempunyai tiga elemen: ego, ketidaksadaran personal (personal unconscious), ketidaksadaran kolektif (collective unconscious). Ego adalah element of self yang disadari yang memberi petunjuk bagaimana individu berperilaku. Ego berisi persepsi-persepsi dan perasaan-perasaan sadar.

Ketidaksadaran personal adalah bagian self yang berisi pengalaman-pengalaman individual yang telah direpresi. Meski disebut ketidaksadaran, elemen ini masih bisa dibuat sadar. Sedangkan ketidaksadaran kolektif adalah elemen yang bersifat universal, dari berbagai generasi, bukan individual. Elemen ini sangat sulit disadari. Contoh ketidaksadaran kolektif adalah pengalaman kreatif para seniman atau musisi di seluruh dunia dari sepanjang masa, pengalaman mistikus dalam seluruh agama, kemiripan dalam mimpi, fantasi, mitologi, dongeng, sastra, atau pengalaman mati suri. Orang mati suri memiliki pengalaman yang sama, yaitu: meninggalkan raga dan dapat melihatnya, seperti masuk terowongan, bertemu dengan keluarga atau tokoh-tokoh religius, dan lain sebagainya.

Ketidaksadaran kolektif berisi apa yang disebut archetype. Konsep archetype sama dengan insting dalam konsep Freud. Tiga archetype yang paling penting menurut Jung adalah anima, animus, shadow. Anima adalah archetype kewanitaan pada diri laki-laki, animus adalah archetype laki-laki pada wanita, dan shadow adalah archetype kebinatangan atau disebut pula sisi jahat manusia. Archetype-archetype yang lain antara lain archetype ayah, ibu, anak, pahlawan, gadis, orangtua yang bijak, Tuhan, dan sebagainya. Jung memperkenalkan pula persona, yaitu karakter yang kita tampilkan pada saat berada di lingkungan. Archetype-archetype yang telah disebutkan muncul dalam persona, meski kemunculannya bersifat tidak disadari.

Bagian lain yang penting dari pemikiran Jung adalah proses pengembangan diri yang disebut proses individuasi. Menurut Jung, diri akan berkembang menuju satu titik yang stabil. Untuk mencapai titik tersebut, orang harus mampu menyelaraskan perasaan atau dorongan yang saling beroposisi dalam diri. Untuk mencapai keselarasan tersebut orang harus mampu membuat sadar perasaan atau dorongan yang tidak disadari (Glassman & Hadad, 2009 dan Boeree, 2005).

Intisari Pemikiran Jung

Prinsip Jung tidak jauh berbeda dengan Freud, bahwa manusia adalah entitas yang berkonflik. Manusia adalah entitas yang terdiri dari kesadaran dan ketidaksadaran dan memiliki archetype-archetype yang saling beroposisi. Atas dasar itu Jung menyimpulkan kepribadian introvers dan ekstrovers: kepribadian yang berfokus pada diri sendiri dan kepribadian yang berfokus pada dunia luar.

Bersambung….

Bahan Bacaan
Boeree, C. George. (2005). Sejarah Psikologi dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern. terj. Abdul Qodir Shaleh. Jogjakarta: Prismashopie.

Freud, Sigmund. (1991). Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah, terj. K. Bertens. Jakarta: Gramedia.

Glassman, William E. & Hadad, Marilyn. (2009). Approaches to Psychology (5th edition). Berkshire: Open University Press/McGraw-Hill Education.

Any Rufaidah, Depok, 28 November 2009



11.13.2009

Aliran-Aliran Psikologi


Tulisan ini adalah kajian mengenai aliran-aliran dalam psikologi. Ada 11 aliran yang akan dibahas: psikoanalisis, neopsikoanalisis, behaviorisme, neobehaviorisme, kognitif, gestalt, humanistik, psikologi biologi, psikologi evolusioner, psikologi fenomenologi eksistensialis, dan psikologi kritis. Sebelum beranjak pada kajian, sebaiknya dipahami terlebih dahulu bahwa pertanyaan besar dalam psikologi adalah: “Apa manusia itu?” Dalam hemat saya, pertanyaan ini perlu ditancapkan dalam otak agar tidak lupa bahwa psikologi mempelajari manusia.

Objek materi psikologi adalah manusia dan objek formanya perilaku. Pertanyaan tersebut boleh jadi terlalu terkesan filosofis, tetapi menurut saya pertanyaan itu yang bisa mengantarkan para pengkaji psikologi pada pokok-pokok yang lebih mendasar, pemahaman yang tak mudah dilupakan. Apalagi beberapa aliran yang muncul benar-benar berangkat dari pertanyaan filosofis. Psikologi fenomenologi eksistensialis misalnya, ia berangkat dari filsafat fenomenologi eksistensialis Friedrich Nietzsche, Søren Kierkegaard, Martin Heidegger hingga Jean-Paul Sartre.

Psikoanalisis
Satu-satunya tokoh psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856 – 1939). Nama asli Freud adalah Sigismund Scholomo. Namun sejak menjadi mahasiswa Freud tidak mau menggunakan nama itu karena kata Sigismund adalah bentukan kata Sigmund. Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia. Saat itu Moravia merupakan bagian dari kekaisaran Austria-Hongaria (sekarang Cekoslowakia). Pada usia empat tahun Freud dibawa hijrah ke Wina, Austria (Berry, 2001:3). Kedatangan Freud berbarengan dengan ramainya teori The Origin of Species karya Charles Darwin (Hall, 2000:1).

Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, terj.,1991:4). Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O. Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O. Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.

Id adalah kumpulan dorongan-dorongan kesenangan, seperti dorongan seksual (libido), dorongan makan, dorongan menyakiti, dan sebagainya. Prinsip id adalah kesenangan (pleasure principle). Id bertempat di alam tak sadar. Lawan id adalah superego. Superego merupakan kumpulan dorongan-dorongan taat terhadap aturan masyarakat, agama, dan lain sebagainya. Prinsip superego adalah moralitas (morality principle). Sebagian superego disadari dan sebagian tidak disadari.

Di tengah-tengah id dan superego adalah ego. Ego sebagian disadari dan sebagian tidak disadari. Prinsip ego adalah realitas (reality principle). Ego berperan sebagai jembatan, yang mengontrol realitas dan mengatur kapan id boleh menyalurkan dorongannya ke kesadaran dan kapan tidak, sesuai dengan realitas yang ada. Jika keadaan tidak memungkinkan penyaluran id, ego akan merepresi id. Tetapi meski telah direpresi, id tidak pernah berhenti berusaha menyalurkan hasratnya dalam kesadaran. Secara terus-menerus id mencoba mendobrak benteng ego. Ego sendiri mendapat tuntutan dari superego untuk menekan id. Di sinilah konsep Freud tentang manusia: manusia adalah entitas yang selalu berdinamika (atau berkonflik).

Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan-keinginannya. Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.

Demikian pula Freud menjelaskan keseleo lidah dan kesalalah-kesalahan kecil sehari-hari. Keseleo lidah menurut Freud disebabkan oleh letupan-letupan dorongan bawah sadar. Misalnya: seseorang bermaksud menyebut Agus, namun yang terucap adalah Lutfi. Menurut analisis Freud, nama Lutfi muncul karena dalam ketidaksadaran ada sesuatu yang berhubungan dengan Lutfi. Mungkin saja seseorang yang salah menyebut itu sangat kecewa pada Lutfi. Ia ingin marah pada Lutfi. Keinginan marah direpresi karena tidak baik menurut norma masyarakat (ketentuan superego). Namun keinginan marah tidak lenyap begitu saja. Ia terus-menerus ingin menerobos pertahanan ego. Letupan-letupan keinginan itulah yang menyebabkan kesalahan menyebut nama (disarikan dari berbagai buku. Antara lain: Tafsir Mimpi, Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari, Pengantar Umum Psikoanalisis).

Karya-karya Freud

Studies on Hysteria (1895), The Interpretation of Dreams (1900), Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on the Theory of Sexuality (1905), Jokes and Their Relation to the Unconscious (1905), Dora Case (1905), Obsessive Actions and Religious Practices (1907), Creative Writers and Daydreaming (1908), Civilized Sexual Morality and Modern Nervous Illness (1908), Delirium dan Mimpi-Mimpi dalam Gradiva Karangan W. Jensen, Little Hans (1909), yang merupakan gambaran kasus Oedipus Complex, Orang dan Tikus (1909), Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah (1910), Sebuah Ingatan dari Masa Anak Leonardo da Vinci (1910), Totem and Taboo (1913), Pengantar pada Narsisme (1914), Pengantar pada Psikoanalisa (1916-1917), Orang dengan Serigala (1918), antara tahun 1918 – 1920: Naluri-Naluri dan Liku-likunya, Represi, Ketidaksadaran, Tambahan Metapsikologis tentang Teori Mimpi, Perkabungan dan Melankoli, Beyond the Pleasure Principle (1920), Ego and Id (1923), Inhibitions, Symptoms, and Anxiety (1926), The Future of an Illussion (1927), Civilization and Its Discontens (1930), Moses and Monotheism (1939).

Intisari Pemikiran Freud

Manusia adalah entitas yang berdinamika (atau berkonflik).

Manusia dikuasai oleh dorongan-dorongan yang tidak disadari. Perilakunya dipengaruhi oleh dorongan-dorongan yang tidak disadari.

Kepribadian manusia terbentuk dari pengalaman masa lalunya.

Gangguan psikologis adalah letupan-letupan dorongan yang tidak disadari. Gangguan psikologis terjadi jika dorongan yang tidak disadari sangat kuat sementara ego tidak mampu merepresi atau membuat defence mechanism.

Cara menyembuhkan gangguan psikologis adalah asosiasi bebas dan katarsis: meluapkan apa pun yang dirasakan.

Dalam kaitan dengan tatanan masyarakat, menurut Freud tatanan masyarakat dibentuk untuk merepresi dorongan-dorongan primitif yang tidak disadari.

Bahan Bacaan
Berry, Ruth. 2001. Freud: Seri Siapa Dia?. terj. Frans Kowa. Jakarta: Erlangga.

Freud, Sigmund. 1991. Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah. terj. K. Bertens. Jakarta: Gramedia.

------------------ 2001. Tafsir Mimpi. terj. Apri Danarto, Ekandari Sulistyaningsih, Ervita. Yogyakarta: Jendela.

------------------ 2002. Totem dan Tabu. terj. Kurniawan Adi Saputro. Jogjakarta: Jendela.

----------------- 2005. Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari. terj. M. Sururi. Pasuruan: Pedati.

----------------2006. Pengantar Umum Psikoanalisis. terj. Haris Setiowati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hall, Calvin S. 2000. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. terj. S. Tasrif. Yogyakarta: Tarawang.

Any Rufaidah, Depok, 13 November 2009

10.31.2009

Sejarah Psikologi


Bicara sejarah psikolog berarti harus kembali pada filsafat. Di berbagai buku yang membicarakan sejarah psikologi, filsafat selalu menjadi kajian awalnya. Hal ini sungguh sangat wajar karena psikologi mempelajari proses kognitif, dan proses kognitif (dalam hal manusia memperoleh pengetahuan) adalah tema besar yang didialogkan oleh Socrates, Plato, dan Aristoteles. Maka dari itu, untuk berbicara sejarah psikologi mau tidak mau harus kembali pada filsafat Yunani kuno –tentu dalam tema yang kajiannya menjadi objek psikologi. Banyak buku yang mengkaji sejarah psikologi, namun bagi saya buku Sejarah Psikologi: Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern milik C. George Boeree adalah yang cukup bisa memberi pemahaman secara sederhana namun padat.

Hasil penelusuran Boeree menemukan Aristoteles lah yang secara langsung bisa disebut sebagai perangsang bagi munculnya kajian psikologi. Aristoteles mempunyai teori yang disebut asosianisme. Ide ini awalnya dari Plato, namun Aristoteles yang dipercaya menyusunnya menjadi teori yang lebih rigid. Asosianisme mengungkapkan bahwa dalam proses mengingat ada asosiasi-asosiasi. Asosianisme memiliki empat hukum.
1.Hukum hubungan (The law of contiguity). Hukum ini mengatakan, dalam ingatan, hal atau peristiwa memiliki asosiasi dengan hal atau peristiwa yang berhubungan. Misalnya, jika kita mengingat cangkir, bisa jadi kita juga mengingat piring. Jika kita mengingat microsoft word, bisa jadi juga mengingat komputer.
2.Hukum frekuensi (The law of frequency). Hukum ini mengatakan jika hal atau peristiwa dihubungkan terus-menerus dalam waktu yang cukup lama, maka dua hal atau peristiwa itu akan selalu berhubungan dalam ingatan. Misalnya, jika setiap sesudah makan selalu merokok, maka makan dan merokok selalu berhubungan. Setiap setelah makan yang kita ingat adalah rokok.
3.Hukum kesamaan (The law of similarity). Hukum ini mengatakan jika kita mengingat salah satu hal atau peristiwa yang memiliki kesamaan dengan hal atau peristiwa yang lain, bisa jadi kita akan mengingat hal atau peristiwa yang menjadi kembarannya. Misalnya, jika kita mengingat salah satu dari anak kembar, bisa jadi kita akan mengingat pula kembarannya. Jika kita mengingat sebuah pesta ulang tahun, bisa jadi kita mengingat pula pesta ulang tahun yang lain.
4.Hukum kebalikan (The law of contrast). Hukum ini mengatakan jika kita mengingat hal atau peristiwa, bisa jadi kita akan mengingat hal atau peristiwa lawannya. Misalnya, jika kita mengingat orang yang paling tinggi, bisa jadi kita akan mengingat orang yang paling pendek.

Asosiasi menurut Aristoteles bisa didahului oleh aktivitas memandang, merasa, membau. Misalnya, pada saat memandang apel muncul ide tentang apel. Begitu pula saat merasa atau membau apel.

Selama 2000 tahun teori asosiasi Aristoteles ini dianggap benar –dan cenderung dilupakan. Baru setelah masa pencerahan (Renaisans) asosianisme dikaji kembali. Mereka yang mengkajinya kembali adalah Thomas Hobbes, John Locke, David Hume, David Hartley, dan James Mill. Semuanya berbicara seputar bagaimana manusia memperoleh pengetahuan: apakah pengetahuan bisa diperoleh dari pancaindera, apakah ada ide bawaan, bagaimana asosiasi antara satu benda dengan benda yang lain dalam pikiran, dan lain sebagainya.

Saat itu, para filsof masih tidak percaya psikologi bisa menjadi ilmu, karena berbagai aktivitas dan isi pikiran tidak bisa diukur. Adalah Ernst Weber (1795 – 1878) yang membantah ketidakpercayaan tersebut. Weber mengeluarkan hukum yang kemudian dikenal Weber’s Law. Hukum tersebut menyatakan adanya hubungan antara stimulus fisik dengan pengalaman mental. Contohnya: jika kita pernah mengangkat beban seberat 40 kg, setelah itu mengangkat berat 41 kg, kita tidak bisa membedakannya. Berbeda jika beban kedua yang kita angkat seberat 20 kg. Artinya, ada saat di mana kita tidak bisa membedakan dan bisa membedakan. Hal itu sangat terkait dengan proses mental.

Kerja-kerja Weber ini dilakukan bersama Gustav Fechner. Hukum Weber dan Fechner disebut oleh Boeree didasari oleh prinsip panteisme Baruch Spinoza. Spinoza mengatakan bahwa di alam semesta hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Manusia dan yang ada dalam alam semesta adalah modifikasi-modifikasi dari yang Esa itu (Solomon & Higgins, terj., 2002). Weber dan Fechner menggunakan prinsip ini sebagai penjelasan bahwa jiwa termodifikasi dalam fisik. Oleh karena itu jiwa bisa dipelajari dan diukur melalui apa yang tampak secara fisik. Tahap ini disebut tahap psikofisik. Mulai ada titik terang bagi psikologi untuk menjadi ilmu.

Pada tahun-tahun berikutnya, para doktor ilmu kedokteran dan fisiologi mulai melakukan penelitian tentang asosiasi. Kajian-kajian tentang asosiasi dan yang terkait dengannya pun, misalnya memori mulai diteliti secara ilmiah. Boeree menyebut Hemann Ebbinghaus sebagai orang pertama yang membuat usaha pengkajian asosiasi secara ilmiah. Ebbinghaus melakukan eksperimen memori dengan cara menyuruh beberapa orang (dan dirinya sendiri) untuk membaca dan mengingat-ingat beberapa kata yang tidak punya arti (nonsense syllables) secara berulang-ulang. Setelah itu daftar kata disingkirkan dan subjek-subjek (dan Ebbingus sendiri) harus menyebut kata-kata tadi.

Hasilnya, ada kata-kata yang dingat dan dilupakan. Dari eksperimen ini pula Ebbinghaus membuat kurve ingatan yang dikenal Kurve Retensi dari Ebbinghaus. Kurve tersebut menunjukkan bahwa apa yang sudah dipelajari akan dilupakan. Mula-mula banyak sekali yang dilupakan sehingga kurve merosot. Tetapi semakin lama kemerosotan itu semakin berkurang. Dan pada waktu tertentu ada sejumlah kata-kata yang diingat dalam waktu yang lama. Hukum Ebbinghaus menyebutkan, “Semakin banyak hal yang harus dipelajari, semakin banyak pula waktu yang diperlukan. Hukum ini disebut Hukum Ebbinghaus (Sarwono, 2002). Buku Ebbinghaus yang terkenal adalah adalah On Memory: An Investigation in Experimenatl Psychology (1885). Ebbinghaus pun pernah menulis artikel pertama tentang tes inteligensi terhadap anak-anak sekolah.

Eksperimen-eksperimen semakin giat dilakukan. Alfred Binet dan Theodore Simon meneliti intelegensi. Kedua orang ini berhasil pula membuat alat tes inteligensi yang kemudian dikenal Binet-Simon Scale of Intelligence. Namun psikologi belum menjadi ilmu. Adalah Wilhelm Wundt yang kemudian berani menegaskan bahwa psikologi bisa menjadi ilmu. Seperti halnya Weber dan Fechner, Wundt percaya pada prinsip panteisme Spinoza –dalam hal kajian psikologi disebut panpsikisme. Prinsip itu berbunyi: “Setiap peristiwa fisik mempunyai imbangan mentalnya masing-masing, dan setiap peristiwa mental mempunyai imbangan fisiknya masing-masing.”

Wundt yakin proses-proses mental bisa diukur melalui yang tampak pada fisik. Seiring dengan keyakinannya itu ia melakukan eksperimen secara mendalam, metodis, dan ketat. Wundt meneliti sensasi, atensi, persepsi, perasaan, dan asosiasi, mendirikan laboratorium di Leipzig pada 1876, dan mulai diikuti banyak orang. Wundt lah yang di kemudian hari disebut Bapak Psikologi. Ia yang menandai lahirnya psikologi sebagai ilmu sendiri yang terpisah dari filsafat. Di satu belahan bumi yang lain, Harvard, William James mendirikan laboratorium psikologi, dan ia mengajar psikologi fisiologis dengan mengacu pada Wundt. Pada 1889 James menjadi profesor psikologi dan tahun berikutnya ia menerbitkan dua volume buku The Principles of Psychology.

Secara kronologis, sejarah psikologi bisa digambarkan sebagai berikut:
Kajian yang berkaitan dengan psikologi dimulai oleh filsafat (Asosianisme Aristoteles) --> Asosianisme baru dikaji kembali pada saat Renaisans (kurang lebih abad 16) – kajian-kajian psikologi masih menjadi bagian filsafat --> kajian-kajian psikologi mulai diteliti oleh doktor ilmu kedokteran dan fisiologi – tahap ini disebut tahap psikofisik – orang-orang yang berperan adalah Ernst Weber dan Gustav Fechner – namun psikologi belum diakui sebagai ilmu, bahkan ada yang yang mengatakan psikologi tidak mungkin bisa menjadi ilmu sendiri --> Wundt menyanggah pesimisme atas psikologi. Berprinsip pada panpsikisme Spinoza ia terus meneliti proses-proses mental seperti sensasi, atensi, persepsi, perasaan, dan asosiasi secara detail dan mendalam --> Wundt disebut sebagai Bapak Psikologi – 1879 disebut tahun kelahiran psikologi.

Any Rufaidah, Depok, 31 Oktober 2009.

Bahan Bacaan:


Boeree, C. George. 2005. Sejarah Psikologi dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern. Terj. Abdul Qodir Shaleh. Jogjakarta: Prismashopie.

Sarwono, Sarlito W. 2002. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

Solomon, Robert C. & Higgins, Kathleen M. 2003. Sejarah Filsafat. Terj. Saut Pasaribu. Jogjakarta: Bentang.

10.07.2009

Sekilas tentang Cultural Studies dan Cultural Resistance


Cultural Studies
Tulisan ini merupakan sedikit review dari pelatihan Cultural Studies (etnografi di dalamnya) yang sempat saya ikuti pada tanggal 19-23 September 2008. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes ini didesain dengan Sersan (Serius tapi Santai). Serius karena narasumber yang memandu adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di tingkat nasional, yaitu Mas Kirik Ertanto (Save Children) dan Mujtaba Hamdi (Peneliti Tankinaya Institute, Depok). Santai karena model pembelajarannya santai. Tidak ada kontrak forum, peserta bisa mengikuti materi sambil tiduran, makan, minum, dan lain sebagainya asal tidak mengganggu jalannya pelatihan.

Cultural studies bagi saya merupakan kajian yang masih asing. Meskipun sudah sering mendengarnya, pengetahuan saya masih sangat minim. Apa itu cultural studies masih menjadi pertanyaan besar. Pada pelatihan ini saya sedikit mendapat pencerahan tentang pertanyaan tersebut tanpa harus membaca berbagai buku tebal seperti milik Chris Barker. He he.

Yang saya tangkap dari penjelasan Mas Kirik tentang CS adalah:
1. Bahwa CS merupakan reaksi terhadap dominasi yang menganggap bahwa kesadaran setiap orang di muka bumi ini seragam, mengikuti satu alur, dan bisa dikendalikan. Ibaratnya seperti yang dikatakan Nietzsche, manusia seperti kawanan domba: digiring ke sana ikut ke sana dan digiring ke sini juga ikut saja. CS ingin menjelaskan bahwa kelas bawah memiliki ideologi yang tidak mesti sama dengan persepsi dominasi. Mereka memiliki pemaknaan sendiri tentang apa yang mereka lakukan dan kerjakan: tentang penampilan, arti pertemanan, pandangan hidup, dan lain sebagainya. Tidak seperti pandangan dominasi yang menganggap bahwa hidup adalah begini dan begitu, di luar itu adalah abnormal. Pada anak jalanan misalnya, mereka memiliki pemaknaan-pemaknaan sendiri tentang apa pun yang melekat pada diri mereka, berbeda dengan apa yang dipersepsi oleh dominasi yang menganggap mereka tidak memiliki aturan, tidak bermoral, banyak tingkah, dan lain sebagainya.

2. CS sekaligus ingin menegaskan bahwa ideologi tidak pernah bersifat total.

3. CS adalah perayaan atas keberagaman.

Any Rufaidah, Banyuwangi, 1 Oktober 2008. Edited in Depok, 7 Oktober 2009

Cultural Resistance
Tulisan ini adalah review kedua dari pelatihan PUSPeK Averroes pada bulan September 2008. Cultural resistance (CR) pada saat itu disampaikan secara eksklusif oleh kawan Mujtaba Hamdi (Taba). Bagi saya CR merupakan tema yang masih asing pula. Ya….begitulah. Terlalu banyak hal-hal asing karena problem kurang membaca.

Cultural resistance –dari istilahnya saja sudah bisa diterka– yaitu perlawanan kebudayaan. Apa yang ada dalam bayangan ketika membaca istilah tersebut? Yang disebut perlawanan adalah keluar dari ke-umum-an (hal yang umum), mayoritas, atau mainstream. Kurang lebih demikian yang saya tangkap dari pelatihan. Dilihat dari latar belakangnya, CR bertujuan untuk melawan dominasi. Secara spesifik, dominasi yang dimaksud di sini adalah hegemoni, kuasa.

Namun dominasi bukan berarti selalu pemerintah. Kata Mas Taba, dominasi, kuasa, tidak selalu berada di luar tempat kita berdiri. Dominasi tidak ada hubungannya apakah ia internal dalam lembaga yang kita naungi atau eksternal (pemerintah misalnya). Lembaga internal atau eksternal bisa menjadi sarang hegemoni bagi individu-individu yang ada di dalamnya.

CR menjelma dalam dua wadah: bentuk dan isi. Dilihat dari bentuk, misalnya musik, grafiti, interpretasi, dan aktivitas. Dari isinya, misalnya lirik musik yang nyeleneh. Di Indonesia, musik yang dicontohkan oleh Mas Taba saat itu adalah lagu-lagu Slank dan Iwan Fals. Rasanya sudah jelas mengapa lagu-lagu Slank dan Iwan Fals menjadi contoh CR. Dalam konteks dunia adalah lagu-lagu John Lennon. Yang juga sempat dicontohkan pada pelatihan adalah budaya punk.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa CR terjadi? Di atas sudah sedikit disinggung alasan CR. Tetapi yang ini lebih mendasar. CR muncul karena kebutuhan terhadap ruang bebas. Ruang bebas bisa dipilah dalam dua bentuk: individual dan material. Ruang bebas individual misalnya kebebasan berpikir, menginterpretasi, dan beraktivitas sesuai dengan kesadaran yang dimiliki. Sedangkan ruang bebas yang material misalnya lirik lagu.

CR tidak terjadi begitu saja. Ada proses dan tingkatannya. Proses CR dalam istilah Mas Taba atau referensi yang ia baca disebut Political Consciousness. Individu berangkat dari keadaan tak sadar, kemudian coba-coba, dan terakhir sadar.
Tidak sadar –> Appropiasi (coba-coba. Seperti halnya coba-coba rasa garam) –> sadar
Lingkup CR : individu –> subculture –> masyarakat
Hasil proses CR : bertahan –> perlawanan –> revolusi
Demikian sekilas tentang CS dan CR. Semoga bermanfaat.

Any Rufaidah, Malang, 24 Oktober 2008. Edited in Depok, 7 Oktober 2009