Hi God, where are you? Are you still with me and always, right?
Hi God, Kau telah mengirimku ke India. Dalam perjalanan ini, Kau tunjukkan padaku sebagian manusia dengan coraknya masing-masing. Yang berjubah, yang berkaos tanpa lengan. Yang memakai cadar, yang berciuman di depan umum. Yang hitam, yang putih. Kau tunjukkan pula megahnya airport Dubai dan padatnya Kota Kolkata. Kau bawa aku pada orang-orang baik di Kolkata. Kau kumpulkan aku dengan orang-orang yang berpikir tentang perempuan dan kemiskinan di negaranya. Aku pernah bilang pada seorang teman, “Hampir pasti aku akan ke luar negeri.” Kemudian si teman bilang, “Pasti.” Aku jawab lagi, ”Hampir, karena kita punya Tuhan.”
Aku merasa Kau selalu mengabulkan kehendakku, Tuhan. Entah apa alasan-Mu, dan apa jalan-Mu. Kau ada-ada saja. Itulah sebabnya aku merasa “Kau sangat sangat menyayangiku.” Aku tak pandai, tak terlalu lancar berbahasa Inggris, tak banyak uang, tak punya pengalaman, tak rajin beribadah, tapi selalu saja Kau beri jalan padaku. Aku sangat mensyukuri pemberianmu yang tanpa alasan itu, Tuhan.
Kau tahu pamanku yang seorang ustadz senior di kampung pernah bilang, “Untuk ukuran keluargamu yang tak punya sejarah berpendidikan, yang tak banyak uang, dapat menyekolahkan anak sampai S2, itu luar biasa.” Kemudian dia menambahkan, “Tapi Allah sudah menjanjikan: Setiap abad akan ada makhluk-makhluk pilihan.” Ah…aku tafsirkan itu untuk semua orang, tidak merujuk padaku meskipun konteksnya terkait denganku. Sesungguhnya dan benar-benar sesungguhnya, Tuhan, aku tak tahu sama sekali apa kehendakmu. Kuserahkan saja hidupku pada-Mu. Kau tahu pasti yang terbaik untukku. Kau pun jelas tahu apa yang terucap di hatiku. Mungkin Kau berkehendak mengabulkan itu juga, Tuhan. Aku ingin menjadi orang yang dapat menolong banyak orang lainnya. Mengentaskan kemiskinan, memberi kesempatan pendidikan, melakukan pembangunan, dan memperkecil ketimpangan. Aku sangat tak suka kelas. Aku tak setuju pada diriku yang merasa rendah dan tidak pantas jika sekursi dengan pejabat. Aku tak setuju dengan pejabat yang merasa tak nyaman sekursi dengan yang bukan pejabat. Dan aku juga tak sepakat dengan pelayan yang merasa tak etis jika makan bersamaku sebagai tamunya. Aku ingin setara. Yang ada hanya perbedaan taqwa kepada-Mu. Selebihnya semua sama. Aku tak suka senioritas, Tuhan. Dan tak suka menjuniorkan. Aku berusaha melayani orang yang membutuhkanku meskipun sering sekali aku egois untuk itu, Tuhan.
Hi Tuhan, aku ingin melangkah dengan nilai. Aku sangat kagum pada Mother Theressa, Mahatma Gandhi, Gus Dur, Fidel Castro, Aung San Suu Syi, dan sebagainya yang aku tak tahu. Aku ingin menjadi manusia yang tegak, yang tak abu-abu ini oke itu oke. Aku ingin tetap menangis melihat kemiskinan. Jika besok atau besoknya lagi Kau kehendaki aku menjelajah bagian wilayah atau dunia yang lain, aku ingin itu karena aku membawa nilai untuk disebarkan ke tempat-tempat itu. Sekali-kali untuk berwisata itu adalah bagian kebutuhanku yang lain.
Tuhan, itu saja sementara. Aku mencintai-Mu.
Any Rufaedah
Kolkata, India, 31 Agustus 2011 (bertepatan dengan Idul Fitri), 12.30.
0 comments:
Post a Comment